Industri Losarang Membesar, Dedi Mulyadi Dorong SMK Indramayu Siapkan Tenaga Kerja Lokal Sejak Dini

Min.co.id | Indramayu — Pabrik yang tumbuh di tengah wilayah pertanian semestinya tidak hanya menghadirkan bangunan dan investasi baru, tetapi juga membuka jalan bagi masyarakat sekitar untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.

Tantangannya, peluang itu harus disambut dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat mengunjungi Kawasan Industri Losarang, Wiratama Indramayu Perkasa (WIP), Kabupaten Indramayu, Jumat (16/10/2026). Ia mendorong agar kebutuhan tenaga kerja industri pada 2027 mulai dipetakan sejak sekarang, sehingga sekolah menengah di daerah itu dapat menyiapkan lulusan sesuai kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.

Bagi Indramayu yang selama ini dikenal dengan sektor pertanian dan kelautannya, berkembangnya kawasan industri membawa peluang sekaligus pekerjaan rumah.

Masyarakat tidak cukup hanya tinggal berdekatan dengan kawasan pabrik; mereka juga perlu memiliki akses terhadap pendidikan dan keterampilan yang membuka peluang masuk ke dunia kerja.

Dalam kunjungan yang berpusat di kantor PT Food Packaging Jaya (FPJ) tersebut, Dedi didampingi Kepala Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Barat beserta jajaran, Bupati Indramayu Lucky Hakim, perangkat daerah, unsur Forkopimcam Losarang, serta pemerintah Desa Muntur.

Usai peninjauan, Dedi menyoroti tiga hal yang perlu diperhatikan agar perkembangan kawasan industri berjalan seiring dengan pembangunan daerah, yakni kesiapan infrastruktur, penyelesaian kendala administratif, dan hubungan yang baik antara pengelola kawasan dengan pemerintah setempat.

Salah satu persoalan yang disorot adalah penyelesaian administrasi terkait Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Menurut Dedi, berbagai kendala yang menghambat pengembangan kawasan perlu ditangani sesuai ketentuan agar pembangunan dan operasional industri dapat berjalan dengan baik.

“Yang pertama, memastikan bahwa seluruh infrastruktur industri yang ada di Indramayu bisa berjalan dengan baik. Kekurangan-kekurangan aspek yang menjadi kendala administratif, misalnya persoalan LSD yang belum selesai, ya kita harus selesaikan,” ujar Dedi.

Selain infrastruktur dan administrasi, ia menekankan pentingnya komunikasi antara pengelola kawasan industri dengan pemerintah desa dan kecamatan. Hubungan yang baik dinilai penting agar perkembangan industri tidak berjalan terpisah dari kebutuhan wilayah di sekitarnya.

“Yang kedua, hubungan. Biasanya di daerah industri baru, apalagi daerah pertanian, hubungan antara kawasan dengan pemerintahan desa, kecamatan itu harus klop,” katanya.

Koordinasi tersebut diharapkan membantu menyelaraskan kebutuhan kawasan dengan kepentingan masyarakat, sekaligus membuka ruang penyelesaian persoalan yang muncul selama proses pengembangan industri.

Di antara berbagai agenda pengembangan kawasan, penyiapan tenaga kerja lokal menjadi salah satu hal yang langsung berkaitan dengan masa depan generasi muda Indramayu.

Dedi meminta agar sekolah menengah kejuruan (SMK) mulai mempersiapkan peserta didik sesuai kebutuhan perusahaan. Ia juga mendorong kerja sama antara sekolah menengah, pemerintah kabupaten, dan pengelola kawasan industri agar kebutuhan tenaga kerja dapat diketahui lebih awal.

“Tadi saya ngomong ke kepala SMK agar rekrutmen siswanya, kelasnya mulai ditambah. Dibikin kerja sama Pak Bupati nanti antara SMK-SMK dan SMA yang ada di sini dengan kawasan industri. Kebutuhannya 2027 berapa, disiapin dari sekarang,” ungkapnya.

Gagasan tersebut menempatkan pendidikan sebagai salah satu penghubung antara pertumbuhan investasi dan kesempatan kerja. Dengan pemetaan kebutuhan perusahaan sejak dini, sekolah diharapkan dapat menyesuaikan kompetensi lulusan dengan jenis pekerjaan yang tersedia.

Namun, pelaksanaannya membutuhkan perencanaan yang jelas. Jenis keterampilan yang diperlukan perusahaan, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, kapasitas sekolah, serta mekanisme kerja sama perlu dipetakan agar peluang bagi lulusan lokal tidak berhenti pada rencana.

Bagi para siswa, kepastian informasi mengenai kebutuhan industri juga penting agar mereka dapat memilih jalur pendidikan dan keterampilan dengan pertimbangan yang lebih matang.

Perkembangan kawasan industri di Losarang menandai perubahan ekonomi yang perlu diantisipasi bersama. Ketika investasi bertambah, masyarakat sekitar diharapkan memiliki kesempatan untuk mengambil bagian melalui pekerjaan, peningkatan keterampilan, dan kegiatan ekonomi pendukung.

Dedi menyebut upaya tersebut sebagai bagian dari perjalanan menuju masyarakat industri modern. Transformasi itu, menurut arah kebijakan yang disampaikannya, harus didukung infrastruktur yang memadai, administrasi yang tertib, koordinasi pemerintahan, dan pendidikan yang menyesuaikan kebutuhan dunia kerja.

Harapannya, pertumbuhan industri tidak hanya terlihat dari bertambahnya bangunan pabrik atau kegiatan produksi, tetapi juga dari terbukanya kesempatan bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan kemampuan dan taraf hidup.

Bagi Pemerintah Kabupaten Indramayu, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan dorongan tersebut menjadi langkah konkret bersama sekolah dan perusahaan. Pemetaan kebutuhan tenaga kerja, program pelatihan, serta kerja sama pendidikan dan industri perlu disusun agar calon pekerja lokal memiliki keterampilan yang sesuai.

Kunjungan Dedi Mulyadi ke kawasan industri Losarang pun menjadi pengingat bahwa keberhasilan investasi tidak semata-mata ditentukan oleh kelancaran operasional perusahaan. Keterhubungan dengan masyarakat, kesiapan generasi muda, dan manfaat ekonomi yang dirasakan wilayah sekitar juga menjadi bagian penting dari pembangunan. (Wiwin Hidayat)

 

Komentar

News Feed