Min.co.id | Cirebon — Keris bukan sekadar bilah logam yang tersimpan di dalam warangka. Di balik lekuk pamor dan proses pembuatannya, tersimpan pengetahuan, keterampilan para empu, serta perjalanan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Nilai-nilai itulah yang akan diperkenalkan kepada masyarakat melalui Pameran Keris Nasional “Gugah Gaman Cirebon”, yang dijadwalkan berlangsung pada 30–31 Oktober dan 1 November 2026 di Pendopo Bupati Cirebon.
Pameran ini tidak hanya ditujukan bagi para kolektor atau pencinta tosan aji. Panitia juga membuka ruang edukasi bagi siswa sekolah dan mahasiswa agar generasi muda dapat mengenal keris dari sisi seni, sejarah, filosofi, serta proses pembuatannya.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah demonstrasi tempa keris oleh Empu Lingga Nugraha, putra daerah Kabupaten Cirebon. Melalui kegiatan tersebut, pengunjung berkesempatan melihat bahwa pembuatan keris membutuhkan keterampilan, ketekunan, dan pengetahuan yang tidak diperoleh secara instan.
Bagi generasi yang lebih akrab dengan teknologi digital, pengalaman melihat langsung proses kerja seorang empu dapat menjadi pintu masuk untuk memahami warisan budaya secara lebih dekat. Keris tidak hanya dipandang sebagai benda peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai hasil karya manusia yang memiliki nilai seni dan tradisi.
Ketua Paguyuban Seni Kreatif dan Tosan Aji (SAKETI), Gunawan Wibiksana, S.IP., menilai pelestarian keris membutuhkan kesadaran bersama. Tradisi tersebut, menurutnya, perlu dijaga agar pengetahuan tentang tosan aji tidak berhenti pada kalangan tertentu, tetapi dapat dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya, khususnya di Kabupaten Cirebon.
Semangat “Gugah Gaman” diharapkan menjadi ajakan untuk kembali mengenali warisan budaya, menghargai karya para empu, dan memberi ruang bagi masyarakat untuk mempelajari sejarah keris secara lebih terbuka.
Sementara itu, Sekretaris SAKETI yang juga pemerhati kebijakan publik, Angga Maradeka, SE., menyoroti pentingnya dukungan pemerintah daerah dan kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan kegiatan kebudayaan.
Dari perspektif kebijakan publik, pameran budaya berpotensi menjadi sarana pendidikan sekaligus memperkuat identitas daerah. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, kegiatan semacam ini juga dapat membuka peluang bagi pelaku seni dan ekonomi kreatif untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat yang lebih luas.
Panitia menyediakan ruang edukasi bagi siswa sekolah di Kabupaten Cirebon dan mengundang perguruan tinggi agar mahasiswa dapat ikut mengenal kekayaan budaya tosan aji. Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis, sehingga masyarakat dari berbagai kalangan dapat berkunjung tanpa dipungut biaya masuk.
Keterbukaan tersebut menjadi penting agar keris tidak hanya dikenal melalui cerita turun-temurun atau dipandang sebagai benda koleksi. Masyarakat dapat mempelajarinya melalui penjelasan, pengamatan langsung, serta interaksi dengan pihak yang memahami tradisi tersebut.
Meski demikian, pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada penyelenggaraan pameran selama tiga hari. Pengetahuan yang diperkenalkan perlu terus dirawat melalui pendidikan, dokumentasi, regenerasi perajin, dan dukungan nyata bagi komunitas budaya.
Melalui “Gugah Gaman Cirebon”, penyelenggara berharap masyarakat semakin mengenal keris sebagai bagian dari khazanah budaya Nusantara. Lebih dari sekadar memamerkan benda pusaka, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan warisan masa lalu dengan generasi yang akan menentukan keberlangsungannya di masa depan.
Sebab, sebuah tradisi tidak benar-benar lestari hanya karena benda peninggalannya masih tersimpan. Tradisi akan tetap hidup ketika pengetahuan di baliknya dipahami, dihargai, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.(ag)







Komentar