Min.co.id | Indramayu — Indramayu memiliki sawah yang luas, laut yang menjadi sumber penghidupan, perikanan yang besar, hingga sumber minyak dan posisi geografis yang strategis.
Namun di tengah kekayaan itu, Bupati Indramayu Lucky Hakim justru mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar mengapa kekayaan daerah belum otomatis membuat seluruh rakyat sejahtera?
Pertanyaan itu disampaikan Lucky seusai Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-499 Kabupaten Indramayu di Gedung DPRD Indramayu, Rabu (7/10/2026).
Sebelumnya, rangkaian Hari Jadi ke-499 diawali Kirab Tunggul Pataka dari Pendopo Kabupaten menuju Gedung DPRD.
Bagi Lucky, panjangnya usia sebuah daerah bukan ukuran utama keberhasilan pembangunan.
Bahkan jika Indramayu mampu bertahan hingga 1.000 tahun, menurut dia, usia tersebut tidak memiliki arti apabila kesejahteraan masyarakat belum tercapai.
“Tujuannya satu, yaitu memajukan kesejahteraan masyarakat. Jadi kalau kita bicara Indramayu usianya sampai 1.000 tahun sekalipun, kalau masyarakatnya tidak sejahtera maka belum tercapai,” ujar Lucky.
Kaya Sumber Daya, Mengapa Belum Semua Sejahtera?
Lucky melihat Indramayu memiliki modal besar untuk berkembang.Tanah pertanian yang subur, sektor perikanan, sumber daya minyak dan posisi geografis menjadi kekuatan yang dimiliki daerah ini.
Namun menurutnya, kekayaan tersebut belum otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata.
“Indramayu itu kaya, tanahnya strategis, subur, bahkan ada minyaknya, perikanan luar biasa, sawahnya subur. Tapi kenapa banyak rakyat tidak makmur? Karena ketimpangan,” katanya.
Pernyataan itu membawa pembicaraan tentang pembangunan keluar dari sekadar persoalan angka produksi.
Sebab tingginya produksi belum tentu menunjukkan bahwa seluruh orang yang bekerja di dalam sebuah sektor memperoleh manfaat ekonomi dalam proporsi yang sama.
Lucky mencontohkannya pada sektor perikanan.Menurut dia, aktivitas perikanan yang besar perlu dilihat pula dari struktur kepemilikan sarana produksi, terutama kapal.
“Jangan-jangan satu orang punya kapalnya 20, 30, 50 kapal. Sementara yang kerja itu sebagai buruh. Kapan kayanya? Kapan sejahteranya?” ujar Lucky.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan Lucky mengenai persoalan ketimpangan yang menurutnya perlu mendapat perhatian dalam pembangunan Indramayu.
Petani, Nelayan, Pedagang hingga Guru
Bagi Lucky, pembangunan daerah tidak mungkin hanya menjadi pekerjaan pemerintah.
Ia menyebut kontribusi masyarakat dari berbagai sektor sebagai bagian penting dalam membangun Indramayu.
Petani menghidupkan sektor pertanian. Nelayan menggantungkan penghasilan dari laut. Pedagang menggerakkan aktivitas ekonomi. Guru mendidik generasi. Sementara anak muda membawa gagasan dan inovasi.
“Indramayu yang hebat tidak dibangun hanya melalui tangan bupati dan wakil bupati, tetapi berkat keringat para petani di sawah, nelayan di lautan, hingga pedagang di pasar,” katanya.
Pernyataan tersebut menempatkan pembangunan bukan hanya sebagai hasil kerja pemerintah, tetapi sebagai proses yang melibatkan masyarakat.
Di sinilah ukuran keberhasilan pembangunan menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bukan hanya berapa banyak produksi yang dihasilkan, tetapi siapa yang mendapatkan manfaat dan apakah kesempatan ekonomi terbuka lebih luas.
Pendidikan untuk Memutus Rantai Kemiskinan
Lucky kemudian menempatkan pendidikan sebagai salah satu jalan untuk menghadapi persoalan ketimpangan.
Menurutnya, kemiskinan tidak boleh diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya hanya karena anak-anak tidak memperoleh kesempatan pendidikan yang memadai.
“Pemerintah hadir di sana untuk memutus rantai kemiskinan. Caranya ya pendidikan. Anak-anaknya harus sekolah,” ujarnya.
Dalam pandangan tersebut, pendidikan bukan sekadar urusan ruang kelas.
Pendidikan diposisikan sebagai pintu untuk memperbesar pilihan seseorang baik untuk memasuki dunia kerja, meningkatkan keterampilan maupun membangun usaha.
Jika kesempatan pendidikan terbuka lebih luas, generasi berikutnya diharapkan memiliki peluang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.
Menuju 500 Tahun, Apa yang Harus Diukur?
Indramayu kini berada di usia 499 tahun.Artinya, satu tahun lagi daerah ini memasuki usia lima abad.
Momentum tersebut membuat pernyataan Lucky tentang kesejahteraan menjadi relevan untuk melihat kembali arah pembangunan.
Pemerintah sebelumnya telah menyampaikan berbagai capaian, mulai dari produksi pertanian dan perikanan hingga indikator kesehatan masyarakat.
Namun dari sudut pandang pembangunan, angka-angka tersebut belum cukup untuk menjawab seluruh pertanyaan mengenai kesejahteraan.
Masih diperlukan ukuran lain bagaimana pendapatan masyarakat, bagaimana akses pendidikan, bagaimana kesempatan kerja, bagaimana posisi petani dan nelayan dalam rantai ekonomi, serta bagaimana manfaat sumber daya daerah didistribusikan.
Hal-hal tersebut membutuhkan data dan evaluasi yang lebih rinci. (Wiwin Hidayat)










Komentar