Min.coid | Idramayu – Tetangga membeli sepeda motor baru, hati tiba-tiba bertanya-tanya. Dibeli tunai atau kredit? Dari mana uangnya? Mengapa bukan kita yang memilikinya?
Hal-hal kecil seperti itu justru menjadi bahan renungan Ustadzah Mumpuni Handayayekti ketika berbicara di hadapan ribuan jamaah di Lapangan Gebang Mahesa, Desa Pangkalan, Kecamatan Losarang, Indramayu, Senin (5/10/2026) malam.
Dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, penceramah asal Cilacap itu tidak hanya mengajak jamaah mengingat kelahiran Nabi. Ia membawa persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari bagaimana menerima apa yang dimiliki dan belajar ikut bahagia ketika orang lain mendapatkan kebahagiaan.
Pesan tersebut disampaikan dengan gaya ringan dan diselingi humor, tetapi menyentuh kebiasaan yang sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahagia Orang Lain Bukan Alasan untuk Kecewa
Menurut Ustadzah Mumpuni, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan. Syukur juga berkaitan dengan kondisi hati ketika menerima keadaan.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan doa Nabi Sulaiman AS yang memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk senantiasa bersyukur dan melakukan amal saleh yang diridai-Nya.
“Syukur itu hatinya ridho. Hati ridho itu hati yang tidak gampang kecewa,” demikian inti pesan yang disampaikannya.
Dari sana, ia membawa jamaah pada persoalan yang lebih sederhana.
Dalam kehidupan bertetangga, seseorang terkadang justru merasa senang ketika orang lain mengalami kesulitan. Sebaliknya, ketika tetangga memperoleh keberhasilan, muncul rasa tidak nyaman atau iri.
Bagi Mumpuni, sikap tersebut perlu menjadi bahan introspeksi.
Kebahagiaan yang diperoleh orang lain seharusnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang mengurangi kebahagiaan diri sendiri.
Ia kemudian memberikan contoh soal sepeda motor.
Jika seorang tetangga membeli motor secara kredit, kata dia, tidak perlu sibuk memikirkan bagaimana cara pembayarannya. Lebih baik didoakan agar rezekinya lancar sehingga mampu menyelesaikan cicilan.
Begitu pula jika motor tersebut dibeli secara tunai. Keberhasilan itu dapat dilihat sebagai hasil dari usaha yang patut disyukuri.
Pesannya sederhana: ketika orang lain mendapatkan sesuatu, tidak selalu harus dibandingkan dengan apa yang kita miliki.
Rentenir dan Judol Juga Disinggung
Ceramah malam itu tidak berhenti pada persoalan hati.
Mumpuni juga mengingatkan jamaah mengenai risiko utang kepada rentenir serta kebiasaan bermain judi online atau judol.
Menurutnya, kedua hal tersebut dapat membawa persoalan yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga keluarga.
“Bu, kalau ibu-ibunya sering berhutang kepada rentenir dan bapaknya suka bermain Judol atau judi online, bisa merusak bukan saja ekonomi keluarga, ya, Bu. Tetapi bisa juga merusak ekonomi negara,” katanya.
Ia kemudian mengingatkan jamaah agar menjauhi kebiasaan tersebut.
Pesan itu menjadi relevan karena persoalan ekonomi keluarga sering kali tidak bermula dari hal besar. Utang yang terus bertambah atau uang yang habis karena perjudian dapat perlahan menggerus kebutuhan rumah tangga.
Di Tengah Ceramah, Doa untuk Timnas
Ada momen lain yang membuat suasana pengajian menjadi lebih cair.
Di tengah tausiyah, Mumpuni mendapat informasi dari jamaah bahwa malam itu berlangsung pertandingan final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia dan Thailand.
Mendengar kabar tersebut, ia spontan mendoakan tim nasional Indonesia.
“Oh, iya tah, malam ini ada pertandingan bola, Pak? Indonesia melawan, oh, Thailand? Ya sudah, semoga Timnas bisa memenangkan pertandingan pada malam hari ini,” ujarnya.
Jamaah pun serentak mengaminkan doa tersebut.
Momen itu memperlihatkan bagaimana ceramah berlangsung dalam suasana yang dekat dengan keseharian jamaah. Persoalan hati, ekonomi keluarga hingga sepak bola nasional dapat menjadi bagian dari percakapan di tengah pengajian.
Maulid yang Membawa Pulang Pesan
Peringatan Maulid Nabi di Desa Pangkalan diawali dengan santunan anak yatim sebelum dilanjutkan tabligh akbar.
Kegiatan tersebut digelar Pemerintah Desa Pangkalan bersama MUI Desa Pangkalan dan Karang Taruna SUTA JIWA.
Namun, dari ribuan warga yang hadir, ada pesan sederhana yang mungkin lebih mudah dibawa pulang daripada sekadar kemeriahan acara.
Bahwa bersyukur bukan hanya soal mengucapkan kalimat pujian kepada Allah SWT.
Syukur juga berarti belajar menerima keadaan, tidak mudah kecewa dan tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk merasa kurang.
Sebab, terkadang yang perlu diperbaiki bukan keadaan di sekitar kita, melainkan cara hati melihat kebahagiaan orang lain.(Wiwin Hidayat/red)










Komentar