Min.co.id | Madiun — Menunggu kereta biasanya identik dengan melihat papan jadwal, mengecek tiket, atau sekadar duduk menanti panggilan keberangkatan. Namun Senin (28/9), suasana di Stasiun Madiun terasa sedikit berbeda.
Di tengah aktivitas penumpang yang datang dan pergi, ratusan porsi nasi pecel pincuk khas Madiun dibagikan secara cuma-cuma kepada pelanggan.
Bukan sekadar soal makanan, sajian tersebut menjadi cara KAI menyapa penumpang sekaligus menghadirkan sentuhan kuliner lokal di ruang publik yang setiap hari dipadati pelintas dari berbagai daerah.
Kegiatan itu berlangsung dalam rangka HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero), melalui agenda Sapa Pelanggan yang digelar jajaran KAI Daop 7 Madiun.
Manajemen Daop 7 Madiun bersama Tim Angkutan Penumpang dan Humas turun langsung menemui penumpang yang sedang menunggu maupun baru tiba di stasiun.
Pilihan nasi pecel pincuk menjadi bagian yang menarik dari kegiatan tersebut. Bagi warga Madiun, pecel bukan sekadar makanan. Sementara bagi penumpang yang baru pertama kali datang, sajian itu bisa menjadi perkenalan singkat dengan salah satu identitas kuliner kota yang mereka singgahi.
Tidak hanya pelanggan yang mendapatkan makanan. Petugas yang selama ini berada di garis depan pelayanan juga ikut menerima nasi pecel dan cenderamata.
Kondektur, Polsuska, petugas kebersihan hingga petugas frontliner menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Mereka merupakan orang-orang yang sehari-hari berhadapan langsung dengan penumpang, mulai dari memberikan informasi, menjaga keamanan hingga memastikan area pelayanan tetap nyaman.
Manajer Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, mengatakan kegiatan Sapa Pelanggan menjadi kesempatan bagi KAI untuk berinteraksi secara langsung dengan pengguna jasa.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin merayakan hari jadi yang ke-81 KAI bersama-sama dengan orang-orang yang paling penting bagi kami, yaitu para pelanggan setia,” ujar Tohari.
Menurutnya, pemilihan nasi pecel pincuk juga dimaksudkan untuk memperkenalkan kearifan lokal kepada pelanggan.
“Pemilihan nasi pecel pincuk khas Madiun juga menjadi cara kami memperkenalkan kearifan lokal sekaligus memberikan sentuhan hangat yang berbeda agar perjalanan pelanggan semakin berkesan,” katanya.
Namun ada hal lain yang tidak kalah penting dari sekadar membagikan makanan.
Momen ketika jajaran KAI turun langsung menemui penumpang membuka ruang untuk mendengar pengalaman mereka. Kritik dan saran dari pengguna jasa menjadi bagian yang dapat digunakan untuk melihat pelayanan dari sisi orang yang benar-benar menggunakannya setiap hari.
Sebab bagi penumpang, kualitas perjalanan tidak hanya ditentukan oleh kereta yang berangkat dan tiba sesuai jadwal. Pengalaman sejak memasuki stasiun, mencari informasi, menunggu keberangkatan, berada di dalam kereta hingga tiba di tujuan juga menjadi bagian dari pelayanan.
Di usia KAI yang memasuki 81 tahun, tantangannya pun bukan sekadar merayakan perjalanan panjang perusahaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pelayanan terus mengikuti kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.
Nasi pecel mungkin hanya seporsi makanan.
Tetapi di tengah kesibukan stasiun, sapaan sederhana, kesempatan berbicara langsung, serta kemauan mendengar kritik pelanggan bisa menjadi pengingat bahwa di balik perjalanan kereta api selalu ada manusia yang ingin dilayani dengan baik.
Dan bagi penumpang yang kebetulan sedang menunggu kereta di Madiun hari itu, perjalanan mungkin dimulai dari tiket dan jadwal, tetapi pengalaman baik kadang dimulai dari seporsi nasi pecel pincuk.
Penulis: Chandra
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Humas KAI Daop 7 Madiun, diolah Redaksi










Komentar