Dua Girder Jembatan Cilogog Ambruk, Penyebabnya Belum Terungkap

Min.co.id | Indramayu — Pembangunan Jembatan Cilogog di ruas Jalan Jangga–Cikamurang, Kabupaten Indramayu, mendadak menjadi perhatian setelah dua girder yang telah dipasang ambruk saat para pekerja sedang beristirahat, Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 13.30 WIB.

Tidak ada korban dalam kejadian tersebut. Namun, insiden di tengah proses pembangunan itu menyisakan pertanyaan yang kini menunggu jawaban teknis  apa yang menyebabkan dua girder tersebut roboh, dan bagaimana memastikan konstruksi jembatan tetap aman hingga selesai dan digunakan masyarakat?

Jembatan yang berada di KM CN 76+100, tepatnya di Blok Cilogog, Kecamatan Losarang, melintasi Sungai Cipanas dan menghubungkan wilayah Desa Pegagan dengan Desa Rajaiyang.

Ruas tersebut bukan sekadar jalur penghubung antardesa. Jalan Jangga–Cikamurang merupakan salah satu akses penting masyarakat, termasuk menuju kawasan industri di wilayah Losarang. Karena itu, pembangunan jembatan ini sejak awal menjadi perhatian warga yang berharap akses tersebut semakin aman, lebar, dan mampu mendukung aktivitas masyarakat.

Beberapa jam setelah kejadian, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Ono Surono datang meninjau lokasi. Ia menyebut pelebaran dan peninggian jembatan memang telah lama menjadi aspirasi masyarakat karena posisi jembatan berada di jalur utama.

“Memang dari dulu aspirasi masyarakat di sini, jembatan ini untuk diperlebar, ditinggikan, terkait dengan akses jalan utama,” kata Ono.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya mengejar penyelesaian pekerjaan. Aspek kualitas dan pengawasan juga harus menjadi perhatian.

“Memang ini yang diharapkan, pembangunan jembatan yang kualitasnya bagus. Tapi hari ini ada musibah, ada dua girder yang roboh,” ujarnya.

Ono juga meminta pengawasan terhadap pekerjaan diperketat agar pembangunan menghasilkan infrastruktur yang benar-benar dapat digunakan masyarakat dengan baik.

“Saya memberikan catatan untuk lebih hati-hati lagi, pengawas untuk mengawasi jalannya pekerjaan jembatan ini,” katanya.

Sementara itu, Consultant Supervisor UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan VI Cirebon, Robi Apriyadi, memastikan tidak ada pekerja yang menjadi korban dalam kejadian tersebut.

“Tidak ada korban. Karena pada saat roboh sedang semua kondisi istirahat,” ujar Robi.

Menurut Robi, saat kejadian pekerjaan sedang berada pada tahap pemasangan girder. Girder bersama bearing pad sebelumnya telah ditempatkan dan diposisikan dalam proses pengerjaan.

Namun, penyebab pasti robohnya dua girder tersebut belum dapat dipastikan.

“Sebetulnya mungkin saya nggak bisa nebak kesalahannya di mana. Cuma posisinya semua sudah terpresisi,” kata Robi.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penyebab kejadian masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan adanya kesalahan pada pihak tertentu sebelum hasil evaluasi teknis diketahui.

Proyek pembangunan Jembatan Cilogog sendiri dikerjakan oleh PT Aneka Tata Sarana berdasarkan kontrak Nomor 1776/PUR.12.01.02/PJ/PJ2WPVI tertanggal 12 Mei 2026 dengan nilai kontrak sekitar Rp29,64 miliar.

Pekerjaan berada di bawah Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan menggunakan anggaran APBD Provinsi Jawa Barat.

Masa pelaksanaan proyek tercatat 234 hari kalender, dengan masa pemeliharaan selama 365 hari.

Meski terjadi insiden, Robi mengatakan target penyelesaian proyek masih mengacu pada jadwal awal, yakni Desember 2026.

“Target penyelesaian proyek tetap sesuai schedule awal,” ujarnya.

Bagi masyarakat, persoalannya bukan semata-mata apakah proyek tersebut selesai tepat waktu.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana memastikan jembatan yang nantinya digunakan setiap hari oleh masyarakat benar-benar aman dan memenuhi standar konstruksi.

Ambruknya dua girder tentu menjadi catatan dalam proses pembangunan. Namun, catatan tersebut harus dijawab melalui pemeriksaan teknis yang transparan, pengawasan yang ketat, serta penjelasan mengenai penyebab kejadian.

Publik berhak mengetahui apa yang terjadi, tetapi kesimpulan mengenai penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab harus menunggu hasil pemeriksaan dan keterangan dari pihak-pihak terkait.

Redaksi juga membuka ruang konfirmasi bagi PT Aneka Tata Sarana selaku kontraktor pelaksana untuk memberikan penjelasan mengenai insiden tersebut, termasuk hasil evaluasi teknis, kondisi girder sebelum dipasang, serta langkah yang akan dilakukan untuk mencegah kejadian serupa.

Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan Wawancara Langsung; keterangan Ono Surono dan Robi Apriyadi

Komentar

News Feed