Min.co.id | Indramayu – Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin lekat dengan telepon genggam, Yayasan Al-Majid Center Indramayu mencoba menawarkan ruang yang berbeda mengajak anak muda kembali melihat tanah sebagai tempat belajar, berkarya sekaligus membuka peluang ekonomi.
Gagasan itu dibicarakan dalam kegiatan silaturahmi Program Ketahanan Pangan (Ketapang) yang digelar di Aula Yayasan Al-Majid Center, Desa Pangkalan, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti peserta didik, tokoh masyarakat dan perwakilan Pemerintah Kecamatan Losarang, Kasi Kesos Rudiyanto. Pertemuan menjadi ruang untuk membicarakan keterlibatan generasi muda dalam pengembangan ketahanan pangan di tengah kawasan yang selama ini dikenal sebagai wilayah agraris.
Ketua Yayasan Al-Majid Center, Abdul Majid, mengatakan salah satu alasan program tersebut digagas adalah kekhawatiran terhadap semakin jauhnya sebagian generasi muda dari dunia pertanian.
Menurut dia, pertanian perlu dikenalkan dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak muda. Bukan hanya sebagai pekerjaan yang membutuhkan lahan luas, tetapi juga sebagai ruang kreativitas yang dapat dikembangkan sesuai kondisi dan kemampuan.
“Generasi Gen Z sekarang ini banyak yang sudah mulai menjauh dari pertanian. Kami ingin perilaku-perilaku yang kurang produktif itu sedikit demi sedikit bisa dialihkan kepada kegiatan yang lebih positif,” ujar Abdul Majid.
Ia menilai keterbatasan lahan tidak semestinya menjadi alasan untuk meninggalkan pertanian. Dengan kreativitas dan kemauan belajar, lahan yang sempit pun dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
“Bagaimana lahan yang sempit ini bisa menghasilkan pundi-pundi cuan. Ini yang ingin kami dorong kepada anak-anak muda, bahwa bertani juga bisa menjadi ruang kreativitas dan memiliki nilai ekonomi,” katanya.
Bagi Yayasan Al-Majid Center, program tersebut tidak semata-mata diarahkan pada persoalan produksi pangan. Ada aspek pembentukan karakter yang ingin ditanamkan melalui proses mengenal, mengelola dan merawat kegiatan pertanian.
Abdul Majid menyebut keberlanjutan pertanian membutuhkan proses belajar dan karakter yang kuat. Karena itu, kegiatan yang dimulai dari lingkungan yayasan diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
“Untuk melestarikan pertanian itu membutuhkan pembelajaran dan karakter pejuang. Harapan kami, Ketapang ini walaupun dimulai dari hal yang sederhana, tetapi bisa membuahkan hasil yang maksimal,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah desa dapat memberi ruang bagi berbagai inisiatif yang muncul dari kalangan muda. Menurutnya, dukungan tersebut diperlukan agar kegiatan ketahanan pangan tidak berhenti pada pertemuan atau kegiatan sesaat, tetapi memiliki keberlanjutan.
“Kami berharap seluruh pemerintah desa dan kawula muda bisa bersama-sama mendukung program ketahanan pangan. Ayo bergandengan tangan, saling memberi dan saling mendukung,” kata Abdul Majid.
Dorongan tersebut sekaligus menjadi upaya mengingatkan kembali bahwa identitas kawasan agraris tidak hanya berkaitan dengan masa lalu. Pertanian juga membutuhkan generasi penerus yang mampu mengembangkan pola baru sesuai perubahan zaman.
Program Ketapang yang digagas Yayasan Al-Majid Center menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan dua hal tersebut: pengalaman masyarakat dalam bertani dan kreativitas generasi muda.
Sebab, bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi, pertanian tidak harus dipandang sebagai pilihan yang berseberangan dengan dunia digital. Justru teknologi dan kreativitas dapat menjadi bagian dari cara baru mengembangkan sektor pertanian.
“Jangan pernah berhenti untuk menggaungkan Ketapang. Kawasan kita adalah kawasan agraris, sehingga sudah seharusnya kita bersama-sama mempertahankan dan melestarikan pertanian,” pungkas Abdul Majid.
Dari Desa Pangkalan, gagasan itu dimulai dari langkah sederhana. Harapannya, semakin banyak anak muda yang tidak hanya mengenal pertanian dari cerita orang tua, tetapi ikut menyentuh tanah dan melihat sendiri bahwa dari lahan yang terbatas pun masih ada peluang untuk membangun masa depan.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara dan peliputan di lokasi kegiatan










Komentar