Audiensi Buntu, Warga Muntur Siapkan Langkah Berikutnya ke PT Food Packaging Jaya

Min.co.id | Indramayu – Upaya masyarakat Desa Muntur membuka ruang dialog dengan PT Food Packaging Jaya belum menemukan titik temu. Audiensi yang dijadwalkan pada Sabtu (5/9/2026) antara Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Muntur dan Karang Taruna Muntur Juara tidak sampai membahas substansi aspirasi karena jajaran manajemen perusahaan yang memiliki kewenangan mengambil keputusan tidak berada di lokasi.

Pertemuan yang semula diharapkan menjadi pintu masuk penyelesaian persoalan tersebut akhirnya berhenti pada persoalan kehadiran pihak manajemen.

Perwakilan PT Food Packaging Jaya, Astrid, mengatakan jajaran manajemen sedang menjalankan agenda di luar daerah. Ia menyebut dirinya juga tidak berada dalam posisi untuk mengambil keputusan terkait persoalan yang hendak disampaikan masyarakat.

“Saya sudah sampaikan bahwa mungkin hari ini manajemen tidak ada di tempat karena semuanya ada acara di luar. Saya juga harus mengikuti acara di Semarang. Jadi, apa yang saya informasikan hari ini tidak bisa mengambil keputusan apa pun,” ujar Astrid.

Menurut Astrid, pertemuan masih dapat dijadwalkan kembali setelah jajaran manajemen lengkap. Perusahaan juga meminta agar aspirasi maupun tuntutan masyarakat disampaikan melalui surat resmi sehingga dapat dipelajari dan diberikan tanggapan oleh pihak yang berwenang.

“Kami belum menerima surat resminya. Saya tidak mau menduga-duga apa tuntutan dari aksi tersebut. Apa pun yang ingin dikomunikasikan, sebaiknya disampaikan melalui surat resmi agar kami mendapatkan detailnya dan dapat menjawab secara resmi,” katanya.

Warga Pertanyakan Ruang Dialog

Ketua BPD Desa Muntur, Otin Asrotin, menyayangkan audiensi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Menurut Otin, persoalannya bukan semata-mata karena pertemuan batal membahas substansi, tetapi juga menyangkut bagaimana perusahaan menerima masyarakat yang datang untuk menyampaikan aspirasi.

“Kami sangat menyayangkan kondisi seperti ini. Yang menjadi perhatian kami bukan hanya audiensi yang tidak terlaksana, tetapi juga soal attitude, etika, dan adab dalam menerima tamu. Kami datang bukan untuk mencari persoalan, tetapi untuk menyampaikan aspirasi masyarakat,” ujar Otin.

Ia berharap perusahaan dapat membuka komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat Desa Muntur sebagai bagian dari lingkungan sosial di sekitar aktivitas perusahaan.

Bagi Otin, dialog menjadi penting agar persoalan yang berkembang tidak berhenti pada saling menyampaikan keberatan, tetapi dapat dibicarakan secara langsung bersama pihak yang mempunyai kewenangan.

Ketua Karang Taruna Muntur Juara Desa Muntur, Kurnadi, juga mengungkapkan kekecewaan atas tidak terlaksananya audiensi.

Ia mengatakan masyarakat sebelumnya memilih jalur dialog untuk mencari kejelasan. Namun, apabila komunikasi tidak memperoleh kepastian, pihaknya mempertimbangkan langkah lain dalam menyampaikan aspirasi.

“Kami menyayangkan sekali audiensi ini tidak terlaksana. Kami datang dengan niat baik untuk berdialog dan mencari kejelasan. Tetapi jika jalur komunikasi seperti ini tidak mendapatkan respons yang jelas, kami tentu harus mengambil langkah lanjutan,” kata Kurnadi.

Rencana Aksi Massa Dipertimbangkan

Humas Karang Taruna Muntur Juara Desa Muntur, Muhadi, menjelaskan bahwa audiensi sebenarnya merupakan perubahan dari rencana awal penyampaian aspirasi melalui aksi damai.

Menurut Muhadi, rencana awal tersebut melibatkan sekitar 500 orang. Pemberitahuan terkait rencana aksi, kata dia, telah disampaikan kepada Polres. Namun, setelah dilakukan komunikasi dengan berbagai pihak, metode penyampaian aspirasi kemudian diubah menjadi audiensi.

“Rencana awal kami adalah dengan aksi damai, mobilisasi massa sekitar 500 orang. Surat pemberitahuan sudah kami layangkan ke Polres, tapi setelah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, metode tersebut akhirnya kami ubah,” ungkap Muhadi.

Terkait pernyataan perusahaan yang menyebut belum menerima surat resmi, Muhadi mengatakan pihaknya membedakan surat pemberitahuan aksi dengan surat permohonan audiensi.

Ia menyatakan surat untuk audiensi telah disampaikan kepada perusahaan.

“Untuk audiensi, surat resmi sudah kami sampaikan. Adapun pernyataan Astrid yang menyatakan pihak perusahaan belum menerima surat resmi, saya tanya, surat yang mana, surat untuk unjuk rasa atau surat untuk audiensi, kan begitu,” ujarnya.

Muhadi juga menyebut rencana aksi massa belum menjadi keputusan final. BPD dan Karang Taruna terlebih dahulu akan membahas perkembangan tersebut secara internal, termasuk mempertimbangkan tawaran perusahaan untuk menjadwalkan kembali audiensi.

Namun, apabila komunikasi kembali menemui jalan buntu, masyarakat mempertimbangkan aksi dengan jumlah massa lebih besar, yang disebut dapat mencapai sekitar 1.000 orang.

“Kalau memang semua jalan komunikasi tidak dapat terjalin dan tidak ada titik temu, tentunya kami akan melakukan langkah selanjutnya sesuai dengan hak kami dalam menyampaikan aspirasi. Kemungkinan aksi akan dilakukan dengan mobilisasi massa yang lebih besar, sekitar 1.000 orang,” kata Muhadi.

Titik Temu Masih Terbuka

Untuk sementara, belum ada pembahasan substantif mengenai aspirasi masyarakat dalam forum antara kedua pihak. Perusahaan menyatakan membuka kemungkinan penjadwalan ulang dengan syarat aspirasi disampaikan secara resmi, sedangkan BPD dan Karang Taruna masih akan membahas langkah berikutnya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama saat ini bukan hanya mengenai kapan audiensi berikutnya digelar, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat bertemu langsung dengan pihak perusahaan yang mempunyai kewenangan memberikan jawaban.

Di sisi lain, masyarakat Desa Muntur masih memiliki pilihan untuk mempertahankan jalur dialog sebelum mengambil langkah penyampaian aspirasi lainnya.

Jika pertemuan berikutnya dapat mempertemukan pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan aspirasi masyarakat telah disampaikan secara jelas, ruang penyelesaian melalui komunikasi masih terbuka.

Namun apabila kembali tidak menemukan titik temu, rencana aksi yang sebelumnya ditunda berpotensi kembali menjadi pilihan masyarakat.

Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Liputan Langsung

 

Komentar

News Feed