Min.co.id | Indramayu – Matahari siang belum sepenuhnya bersahabat ketika halaman Serbaguna SMKN 1 Losarang, Kabupaten Indramayu, kembali dipenuhi anak-anak muda, Jumat (28/8/2026).
Sebagian menggenggam map berisi CV. Sebagian lainnya berdiri menunggu giliran seleksi. Ada yang sibuk melihat daftar perusahaan, ada pula yang mencoba menenangkan diri sebelum berhadapan dengan petugas rekrutmen.
Mereka datang dengan tujuan yang hampir sama: mendapatkan pekerjaan.
Namun, di tengah antrean dan persaingan memperebutkan lowongan, Camat Losarang Encep Ria Setiadi justru menyampaikan pesan yang berbeda.
Jangan hanya sibuk mencari pekerjaan. Belajarlah menciptakan pekerjaan.
Pesan itu disampaikan Encep ketika memantau pelaksanaan hari kedua Job Fair 2026 yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Indramayu bersama Bursa Kerja Khusus (BKK) SMKN 1 Losarang.
Menurut Encep, Job Fair memang membuka pintu bagi anak muda yang sedang mencari pekerjaan. Tetapi pintu tersebut tidak mungkin cukup untuk menampung seluruh pencari kerja.
“Lowongan pekerjaan itu ada batasnya. Nanti akan terseleksi orang-orang yang punya potensi sesuai yang diinginkan perusahaan,” ujar Encep.
Karena itu, ia mengingatkan pencari kerja agar tidak datang hanya dengan membawa ijazah dan berkas lamaran. Keterampilan dan kesiapan mental, menurutnya, ikut menentukan kemampuan seseorang bertahan di dunia kerja.
Bukan Soal Diterima Saja
Encep menyoroti persoalan yang kerap terjadi setelah seseorang mendapatkan pekerjaan.
Ada yang sudah diterima, tetapi tidak bertahan lama karena tidak siap menghadapi beban dan ritme pekerjaan.
“Baru diterima, baru seminggu dua minggu melihat kerjanya capek, kemudian keluar. Sangat sayang sekali,” katanya.
Bagi Encep, dunia kerja bukan hanya tentang mendapatkan posisi, tetapi juga tentang kemampuan bertahan, belajar dan beradaptasi.
Keterampilan menjadi bekal untuk mendapatkan pekerjaan. Sementara mental menjadi modal untuk mempertahankannya.
Tetapi Encep melihat ada pilihan yang lebih jauh daripada sekadar menjadi pekerja.
Menciptakan pekerjaan.
Ketika Keterampilan SMK Bisa Menjadi Usaha
Pandangan itu pula yang membuat Encep memberi perhatian khusus terhadap pendidikan kejuruan.
Ia menilai SMK memiliki modal besar karena para siswanya dibekali keterampilan yang bisa dikembangkan menjadi usaha.
Saat melakukan monitoring di SMKN 1 Losarang, Encep melihat sejumlah hasil kreativitas siswa, di antaranya pembuatan parfum hingga pengolahan limbah menjadi bahan bakar.
Baginya, keterampilan seperti itu jangan berhenti sebagai tugas sekolah atau sekadar menjadi nilai di rapor.
Jika dikembangkan serius, keterampilan tersebut dapat menjadi sumber penghasilan.
“Saya lebih menyukai ke SMK. Karena di sini mengajari mereka untuk bisa berusaha,” ujarnya.
Encep bahkan berharap lulusan SMK tidak selalu menunggu perusahaan membuka lowongan.
“Harapan saya bukan mencari kerja tapi menciptakan pekerjaan,” tegasnya.
Bukan Sekadar Bisa Membuat, Tapi Harus Bisa Menjual Gagasan
Menurut Encep, keterampilan teknis juga perlu dilengkapi kemampuan menyusun rencana usaha.
Ia mengapresiasi pembekalan proposal usaha kepada siswa karena kemampuan tersebut dapat menjadi bekal ketika mereka ingin mengembangkan usaha dan membutuhkan dukungan permodalan.
Dengan demikian, seorang lulusan tidak hanya tahu bagaimana membuat sebuah produk, tetapi juga memahami bagaimana mengembangkan gagasan menjadi kegiatan ekonomi.
Bagi Encep, keberanian mencoba, kreativitas dan kemampuan membaca peluang menjadi bagian penting dari kemandirian anak muda.
Job Fair dan Persoalan Kenyamanan
Di balik semangat anak-anak muda berburu pekerjaan, Encep juga menemukan persoalan lain yang menurutnya tak boleh diabaikan: kenyamanan peserta.
Ia meminta penyelenggara memperhatikan pencari kerja yang harus mengikuti proses kegiatan di tengah kondisi panas.
“Tadi ada satu hal, kasihan kalau memang ada yang panas-panasan. Kita dorong supaya berikan mereka nyaman. Ini kan anak-anak kita,” katanya.
Catatan tersebut menjadi pengingat bahwa pencari kerja bukan sekadar angka peserta dalam sebuah kegiatan rekrutmen. Mereka adalah anak-anak muda yang datang membawa harapan dan membutuhkan ruang yang layak untuk mengikuti proses seleksi.
Dari Mencari Lowongan Menjadi Membuka Lowongan
Job Fair 2026 berlangsung selama dua hari, 27-28 Agustus 2026.
Bagi sebagian peserta, kegiatan tersebut mungkin berakhir dengan sebuah panggilan kerja. Bagi sebagian lainnya, bisa saja perjalanan mencari pekerjaan harus berlanjut setelah meninggalkan halaman sekolah.
Tetapi bagi Encep, ada pelajaran yang lebih panjang dari sekadar diterima atau tidak diterima perusahaan.
Ketika lowongan terbatas sementara jumlah pencari kerja terus bertambah, anak muda perlu memiliki pilihan lain.
Bukan hanya mengetuk pintu perusahaan, tetapi suatu hari mampu membangun pintu sendiri bahkan membuka pintu bagi orang lain.
Pesan itulah yang ingin ditanamkan Encep kepada generasi muda Losarang keterampilan jangan berhenti menjadi bekal mencari pekerjaan, tetapi harus bisa tumbuh menjadi keberanian untuk menciptakan peluang.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan wawancara langsung dengan Camat Losarang Encep Ria Setiadi










Komentar