Min.co.id | Indramayu – Pembangunan daerah pada akhirnya bukan sekadar tentang angka dalam dokumen perencanaan. Bagi masyarakat, pembangunan lebih mudah dikenali melalui perubahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: akses kesehatan, kondisi jalan, ketersediaan air untuk sawah, ruang belajar anak, rumah yang lebih layak, hingga perlindungan bagi nelayan.
Di Kabupaten Indramayu, berbagai agenda pembangunan pada 2026 diarahkan ke sejumlah sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Indramayu di bawah kepemimpinan Bupati Lucky Hakim menempatkan kesehatan, pertanian, infrastruktur, pendidikan, perlindungan sosial, perikanan, industri, hingga penguatan ekonomi desa dalam rangkaian kebijakan pembangunan daerah.
Namun, di balik deretan program dan angka tersebut, terdapat pekerjaan yang tidak kalah penting: memastikan setiap program berjalan sesuai sasaran, berkelanjutan, dan manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
Kesehatan, Memperluas Akses dan Menjaga Kepesertaan
Sektor kesehatan menjadi salah satu perhatian pembangunan. Pemerintah Kabupaten Indramayu mendorong peningkatan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk pengembangan rumah sakit milik pemerintah daerah dan penguatan Puskesmas.
Data per Agustus 2026 mencatat cakupan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indramayu mencapai 99,81 persen. Sementara tingkat keaktifan peserta berada pada angka 78,57 persen, dengan target keaktifan 80 persen.
Pemerintah daerah juga mencatat telah mendaftarkan 541.445 jiwa sebagai peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja (PBPU-BP) melalui dukungan APBD sebesar Rp233,8 miliar.
Tingginya cakupan kepesertaan menjadi salah satu gambaran perluasan perlindungan kesehatan. Tantangan berikutnya adalah memastikan peserta tetap aktif dan dapat memperoleh pelayanan ketika membutuhkan.
Bagi masyarakat, layanan kesehatan pada akhirnya bukan hanya persoalan jumlah peserta, tetapi juga berkaitan dengan kemudahan akses, kualitas pelayanan dan ketersediaan fasilitas.
Sawah dan Air, Dua Hal yang Tak Bisa Dipisahkan
Sebagai salah satu daerah penghasil pangan, pertanian masih menjadi bagian penting dalam kehidupan ekonomi Indramayu.
Data pembangunan mencatat luas Lahan Baku Sawah mencapai 124.517 hektare, sedangkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) mencapai 92.888 hektare.
Target produksi padi Gabah Kering Giling (GKP) ditetapkan mencapai 1,7 juta ton.
Untuk mendukung target tersebut, sejumlah langkah diarahkan pada penguatan sarana produksi dan pengelolaan air. Di antaranya bantuan mesin pompa air, normalisasi saluran, pembangunan irigasi perpompaan, Jaringan Irigasi Air Tanah serta pengaturan gilir-giring air.
Selain padi, komoditas mangga juga menjadi bagian dari kekuatan pertanian daerah dengan produksi sekitar 114.000 ton per tahun.
Bagi petani, produktivitas tidak hanya bergantung pada luas lahan. Ketersediaan air, kondisi saluran irigasi, alat pertanian dan pengelolaan hasil panen menjadi bagian dari mata rantai yang ikut menentukan hasil usaha tani.
Jalan dan Saluran Air yang Menentukan Mobilitas
Pembangunan infrastruktur juga menjadi bagian yang paling dekat dengan aktivitas masyarakat.
Program yang dicatat meliputi perbaikan 20.298 meter jalan lingkungan, 31.200 meter jalan desa, dan 23.160 meter jalan kabupaten.
Di sektor sumber daya air, normalisasi sungai dan saluran pembuang direncanakan mencapai 60.170 meter, sementara peningkatan jaringan irigasi permukaan mencapai 6.110 meter.
Penerangan Jalan Umum (PJU) juga masuk dalam agenda pembangunan dengan target mencapai 3.199 titik hingga Desember 2026.
Bagi masyarakat, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia menjadi penghubung antara rumah dengan sekolah, pasar, tempat kerja, fasilitas kesehatan dan pusat aktivitas ekonomi.
Demikian pula saluran air dan irigasi. Bagi wilayah pertanian, infrastruktur tersebut berhubungan langsung dengan pengelolaan air dan keberlangsungan aktivitas bercocok tanam.
Sekolah yang Lebih Layak untuk Generasi Berikutnya
Pendidikan menjadi sektor lain yang mendapat perhatian melalui pembenahan sarana dan prasarana.
Sebanyak 322 sekolah pada jenjang TK, SD dan SMP masuk dalam program revitalisasi, rehabilitasi maupun pembangunan Ruang Kelas Baru.
Dukungan sarana juga mencakup 2.254 set meubelair untuk SD dan 1.856 set untuk SMP.
Pembenahan fasilitas pendidikan tidak hanya menyangkut bangunan. Ruang belajar yang layak, meja dan kursi yang memadai serta lingkungan sekolah yang nyaman merupakan bagian dari ekosistem pendidikan yang menunjang proses belajar.
Di sinilah pembangunan pendidikan memiliki dimensi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi kualitas ruang belajar hari ini ikut membentuk pengalaman anak-anak yang akan menjadi bagian dari masyarakat pada masa mendatang.
Rumah Layak, Kebutuhan Dasar Keluarga
Pada sektor perumahan, program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) menyasar 310 unit rumah.
Jumlah tersebut terdiri dari 22 unit melalui APBD Kabupaten Indramayu dan 288 unit melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari APBN.
Bagi keluarga penerima manfaat, rumah bukan hanya bangunan fisik. Rumah menjadi tempat berlindung, membesarkan anak dan menjalani kehidupan keluarga.
Karena itu, program perbaikan rumah memiliki kaitan dengan kualitas hidup masyarakat, terutama bagi keluarga yang sebelumnya tinggal di hunian dengan kondisi yang belum memadai.
Industri Disiapkan, Ruang Pertanian Tetap Diperhatikan
Di tengah basis ekonomi pertanian, Indramayu juga menyiapkan pengembangan kawasan industri.
Terdapat enam Kawasan Peruntukan Industri (KPI) yang disiapkan di wilayah Sukra, Patrol-Kandanghaur, Losarang, Balongan-Juntinyuat, Krangkeng dan Tukdana.
Luas keseluruhan kawasan yang direncanakan mencapai sekitar 14.110 hektare, di luar Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung kawasan Rebana dan Metropolitan.
Bagi daerah seperti Indramayu, pengembangan industri membawa peluang sekaligus tantangan. Pertumbuhan ekonomi dan investasi perlu berjalan beriringan dengan perlindungan lahan pertanian, lingkungan serta kepentingan masyarakat.
Dengan demikian, industrialisasi tidak hanya berbicara mengenai kawasan dan investasi, tetapi juga mengenai bagaimana manfaat ekonomi dapat terhubung dengan masyarakat setempat.
Nelayan dan Perlindungan di Tengah Risiko Laut
Kehidupan masyarakat pesisir juga menjadi bagian dari agenda pembangunan.
Pemerintah Kabupaten Indramayu memberikan premi asuransi ketenagakerjaan atau perlindungan nelayan kecil kepada 1.000 nelayan dengan kapal di bawah 10 Gross Ton (GT).
Program tersebut bernilai Rp201 juta dari APBD Kabupaten Indramayu.
Perlindungan bagi nelayan menjadi penting karena aktivitas melaut memiliki risiko yang tidak selalu dapat diprediksi. Bagi keluarga nelayan, perlindungan tersebut berkaitan dengan upaya mengurangi dampak sosial dan ekonomi ketika terjadi risiko dalam pekerjaan.
Sekolah Rakyat Tumbuh di Terisi
Di Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, sektor pendidikan dan sosial mendapat ruang melalui keberadaan Sekolah Rakyat.
Pada tahun ajaran 2026, tercatat 370 peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah tersebut.
Sekolah Rakyat itu berdiri di atas lahan sekitar 10 hektare dengan kapasitas yang direncanakan mencapai 1.000 siswa.
Kehadirannya menjadi bagian dari upaya menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan.
Seiring perkembangan jumlah peserta didik, tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas layanan, tenaga pendidik, fasilitas dan keberlanjutan penyelenggaraan pendidikan.
Koperasi Desa dan Penguatan Ekonomi Masyarakat
Pembangunan ekonomi di tingkat desa juga diarahkan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Dari target 317 unit, sebanyak 200 unit disebut telah terbangun.
Keberadaan koperasi diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen penguatan ekonomi masyarakat desa. Namun, keberadaan bangunan atau badan usaha saja belum cukup. Koperasi membutuhkan pengelolaan yang sehat, kegiatan usaha yang sesuai kebutuhan masyarakat serta tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, tantangan selanjutnya adalah memastikan koperasi dapat benar-benar berfungsi sebagai wadah kegiatan ekonomi masyarakat.
Tata Kelola Pemerintahan Juga Menjadi Ukuran
Dalam bidang pemerintahan, Kabupaten Indramayu mencatat capaian pada Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD) 2025, dengan peringkat kelima nasional dan peringkat ketiga di Provinsi Jawa Barat.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator dalam melihat penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Namun, bagi masyarakat, kualitas pemerintahan pada akhirnya juga diukur melalui pengalaman ketika berhadapan dengan pelayanan publik: seberapa mudah prosedur dipahami, seberapa cepat pelayanan diberikan, dan sejauh mana kebutuhan masyarakat ditangani.
Penegakan Aturan Minuman Beralkohol
Selain pembangunan dan pelayanan, pemerintah daerah juga menjalankan penegakan Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pelarangan Minuman Beralkohol di Kabupaten Indramayu.
Penegakan peraturan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketertiban sosial di daerah.
Dalam pelaksanaannya, penegakan aturan tetap perlu dilakukan berdasarkan ketentuan hukum, prosedur yang berlaku dan prinsip perlindungan terhadap hak masyarakat.
Dari Program Menjadi Manfaat
Jika dilihat secara keseluruhan, agenda pembangunan Indramayu pada 2026 mencakup bidang yang cukup luas.
Ada sawah yang membutuhkan air, jalan yang harus terus dibenahi, sekolah yang membutuhkan ruang belajar layak, keluarga yang membutuhkan hunian lebih baik, nelayan yang menghadapi risiko pekerjaan, hingga masyarakat desa yang membutuhkan penguatan ekonomi.
Setiap sektor memiliki persoalan yang berbeda. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan perencanaan dan penganggaran. Pengawasan, keterbukaan informasi, pemeliharaan serta keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting agar manfaat pembangunan dapat bertahan lebih lama.
Bagi warga, pembangunan akan terasa ketika program yang direncanakan benar-benar hadir dalam kehidupan mereka.
Jalan yang lebih mudah dilalui. Sekolah yang lebih nyaman. Sawah yang mendapatkan dukungan pengairan. Pelayanan kesehatan yang dapat diakses. Rumah yang lebih layak. Atau perlindungan bagi mereka yang bekerja dengan risiko tinggi.
Di situlah pembangunan menemukan ukurannya yang paling sederhana sekaligus paling penting ketika kebijakan tidak berhenti di atas kertas, tetapi perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indramayu.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Diskominfo Kabupaten Indramayu, Diolah Redaksi Min.co.id
Label: ADVERTORIAL










Komentar