Min.co.id | Indramayu – Matahari mulai condong ke barat ketika suara sorakan penonton pecah di Lapangan Bumi Persada, Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Selasa (25/8/2026). Di atas hamparan rumput, bola bergulir menandai dimulainya Turnamen Sepak Bola Kuwu Cup yang mempertemukan para pemain dari sejumlah blok di Desa Santing.
Turnamen yang digagas Karang Taruna Tuan Segara Desa Santing itu dibuka Kepala Desa Santing, H. Tarman. Bagi pemerintah desa dan para pemuda, pertandingan tersebut bukan semata urusan mengejar kemenangan, tetapi juga menjadi ruang bertemu dan mempererat hubungan antarwarga.
Tarman mengatakan kegiatan itu berangkat dari inisiatif para pemuda yang datang kepadanya dan mengusulkan agar desa menggelar pertandingan sepak bola antarblok.
“Awalnya para pemuda datang ke rumah saya, meminta untuk menyelenggarakan turnamen antarblok ini,” ujar Tarman saat ditemui di lokasi pertandingan.
Usulan tersebut kemudian diwujudkan menjadi turnamen yang berlangsung dalam lingkup Desa Santing. Meski digelar secara sederhana dan relatif mendadak, kegiatan itu mendapat sambutan dari masyarakat.
Tarman menilai turnamen dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk menyalurkan minat dan kemampuan di bidang olahraga, khususnya sepak bola. Dari kompetisi tingkat desa itu, potensi pemain muda juga diharapkan dapat terlihat dan dikembangkan lebih lanjut.
“Mudah-mudahan dapat menjawab keinginan para pemuda, juga sebagai sarana untuk memilih bibit unggul di bidang olahraga sepak bola,” katanya.
Dalam pembukaan turnamen, Tarman mengingatkan pemain agar menjaga sportivitas dan mengedepankan fair play. Keputusan wasit juga diminta dihormati agar persaingan di lapangan tidak berubah menjadi konflik di luar pertandingan.
Pesan serupa ditujukan kepada para penonton dan suporter. Mereka diminta turut menjaga keamanan dan ketertiban selama turnamen berlangsung hingga pertandingan terakhir.
Bagi warga Santing, sepak bola memang bukan sekadar permainan 90 menit. Ketika pertandingan berlangsung, batas antarblok seolah mencair. Pemain beradu kemampuan di lapangan, sementara warga lainnya berkumpul di sisi lapangan memberikan dukungan.
Kondisi tersebut terlihat sejak pertandingan perdana digelar. Riuh suara penonton berpadu dengan aktivitas para pemain yang berusaha memenangkan pertandingan.
Namun, di balik persaingan itu terdapat tujuan lain yang ingin dijaga penyelenggara, yakni kebersamaan. Turnamen diharapkan menjadi ruang bagi anak muda untuk berolahraga sekaligus memperluas pergaulan dan menjaga hubungan baik antarwarga.
Kepala Desa Santing juga menilai kegiatan olahraga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan kebugaran masyarakat. Karena itu, ia berharap semangat yang muncul dalam Kuwu Cup tidak berhenti setelah turnamen selesai.
Jika mendapat dukungan masyarakat, turnamen tersebut berpeluang menjadi kegiatan olahraga yang lebih rutin sekaligus wadah untuk menemukan pemain-pemain muda berbakat dari Desa Santing.
Pada akhirnya, Kuwu Cup bukan hanya tentang skor di papan pertandingan. Di Lapangan Bumi Persada, bola yang bergulir membawa pesan yang lebih sederhana: anak muda membutuhkan ruang untuk berprestasi, sementara masyarakat membutuhkan ruang untuk bertemu.
Dan sore itu, Desa Santing menemukan keduanya dalam satu lapangan.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Liputan langsung di lokasi kegiatan










Komentar