Min.co.id | Indramayu – Di saat berbagai hiburan modern semakin mudah diakses melalui layar gawai, seorang seniman tradisional di Indramayu tetap setia menjaga denyut budaya warisan leluhur.
Dialah Wa A’ong, dalang Berokan Tetet Toet yang hingga kini terus mempertahankan eksistensi kesenian rakyat khas Pantura Jawa Barat agar tidak hilang ditelan zaman.
Suara khas “tetet toet… tetet toet…” yang mengalun dari sompret tradisional seakan menjadi napas panjang perjuangan Wa A’ong dalam merawat salah satu identitas budaya masyarakat Indramayu.
Pria yang ditemui saat tampil dalam sebuah pentas kesenian pada Jumat (19/6/2026) itu mengaku, kesenian Berokan bukan sekadar profesi, melainkan amanah keluarga yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sejak kecil, Wa A’ong telah akrab dengan sosok Berokan. Ia tumbuh di lingkungan keluarga seniman tradisional, bahkan mengenal kesenian tersebut langsung dari sang kakek yang dahulu menjadi pelaku seni Berokan pada masanya.
“Seni Berokan ini warisan dari kakek saya. Dari kecil saya sudah melihat dan mengenal kesenian ini, sehingga muncul keinginan untuk meneruskannya agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Wa A’ong usai pementasan.
Kecintaan terhadap seni tradisional itu akhirnya membawanya menjadi dalang Berokan sejak tahun 2009. Sejak saat itu, langkahnya tak pernah berhenti menghidupkan kesenian yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pantura tersebut.
Dari satu panggung ke panggung lainnya, Wa A’ong terus membawa Berokan hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat. Mulai dari hajatan, acara budaya, kegiatan adat, hingga ritual ruwatan dan kidung yang masih dijalankan sebagian warga Indramayu.
“Alhamdulillah sampai sekarang masih ada job panggilan. Kadang untuk ruwatan, kidung, kadang juga untuk hiburan di acara hajatan atau kegiatan masyarakat lainnya,” katanya dengan penuh syukur.
Baginya, keberlangsungan Berokan Tetet Toet tidak lepas dari dukungan masyarakat yang masih mencintai budaya daerah. Meski berbagai hiburan modern terus bermunculan, masyarakat masih memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk tetap hidup.
Dalam setiap pertunjukan, Wa A’ong berusaha menjaga keaslian Berokan sebagaimana diwariskan para sesepuh terdahulu. Mulai dari bentuk topeng yang menyerupai macan, iringan musik tradisional, hingga karakter jenaka yang selalu mengundang tawa penonton.
Menurutnya, modernisasi boleh berjalan, tetapi identitas budaya tidak boleh hilang.
“Kami berusaha menjaga pakem yang sudah diwariskan para sesepuh. Walaupun mengikuti perkembangan zaman, ciri khas Berokan tetap harus dipertahankan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar hiburan, Berokan Tetet Toet juga menjadi media penyampai nilai-nilai kehidupan. Di dalamnya terkandung pesan tentang kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, hubungan manusia dengan alam, hingga semangat menjaga tradisi yang menjadi akar budaya masyarakat Pantura.
Kini, di usia perjalanan keseniannya yang telah lebih dari satu dekade, Wa A’ong menyimpan satu harapan besar. Ia ingin semakin banyak generasi muda yang mencintai dan mempelajari kesenian tradisional daerah.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan oleh para pelaku seni yang ada saat ini. Keberlanjutan tradisi bergantung pada hadirnya generasi penerus yang mau belajar dan menjaga warisan leluhur.
“Harapan saya ada anak-anak muda yang mau belajar dan meneruskan kesenian ini. Karena kalau bukan kita yang menjaga budaya sendiri, siapa lagi,” pungkas Wa A’ong.
Dengan semangat yang terus menyala sejak tahun 2009, Wa A’ong membuktikan bahwa Berokan Tetet Toet bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di tangannya, warisan budaya itu tetap hidup, menari, dan terus bercerita kepada generasi masa kini tentang jati diri masyarakat Indramayu.
Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara Wa A’ong, Dalang Berokan Tetet Toet










Komentar