JABAR | Di sebuah ruang konferensi yang sejuk namun penuh ketegangan optimisme, Serikat Petani Indonesia (SPI) DPW Jawa Barat menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Membangun Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani Jawa Barat melalui Inovasi, Peningkatan Produksi, dan Solusi Infrastruktur.”
Hotel Luminor Metro Indah Mall di Kota Bandung menjadi saksi bagaimana wacana, keresahan, dan harapan petani dirangkai menjadi gagasan besar bagi masa depan pangan Jawa Barat.
Tidak hanya sekadar forum formal, FGD ini berubah menjadi “ruang temu” antara strategi pemerintah dan denyut nadi petani. Perwakilan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat serta Bulog Kanwil Jabar hadir, membawa data, kebijakan, dan realita pasar untuk ditautkan dengan suara akar rumput.
Ketua SPI Jawa Barat, Irpan, menyampaikan pesan yang mengalir lugas namun menggugah, “Petani bukan pemeran figuran. Merekalah nakhoda yang menentukan arah bahtera pangan Jawa Barat.”
Pernyataan itu menjadi pemantik diskusi. Sejumlah problem lama dibedah tanpa tedeng aling-aling mulai dari irigasi yang sering macet, jalan usaha tani yang terputus, stok pangan yang tak stabil, hingga ancaman perubahan iklim yang semakin sulit ditebak.
Isu-isu strategis terus mengemuka, Teknologi dan mekanisasi yang diharapkan menjadi “lengan baru” petani untuk melipatgandakan produktivitas, Digital farming yang ditawarkan sebagai jembatan antara ladang dan pasar, Infrastruktur pertanian yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di sejumlah kabupaten, Peran Bulog dalam menjaga harga agar petani tidak hanya untung saat panen raya menjadi wacana serius, Akses pembiayaan yang masih menjadi batu besar bagi petani untuk mengembangkan usaha, Mitigasi iklim sebagai alarm keras bahwa masa depan pangan harus disiapkan dari sekarang.
Di akhir forum, Irpan menegaskan bahwa seluruh hasil diskusi tak akan dibiarkan menguap di udara, “Kami akan merangkumnya menjadi rekomendasi strategis untuk pemerintah daerah. Ini bukan sekadar dokumen, tapi kompas bagi masa depan pangan Jawa Barat.”
FGD ini bukan hanya menutup acara dengan tepuk tangan, tetapi meninggalkan sebuah pesan kuat, Ketahanan pangan bukan dibangun di gedung megah, tetapi dimulai dari tangan-tangan petani yang terus bekerja, meski cuaca dan harga sering tak bisa ditebak.
Dari ruang diskusi itu, sebuah harapan tumbuh bahwa masa depan pangan Jawa Barat sedang dirajut kembali, dengan petani sebagai pusatnya. (*)






Komentar