Min.co.id – Majalengka – Petani merupakan profesi sektor vital. Tanpa petani, siapa yang bisa menjamin ketersediaan pangan. Mereka tetap turun ke sawah meski pandemi corona virus disease 2019 (COVID-19) melanda Indonesia, karena mereka tidak mengenal “work from home” seperti yang dilakukan para karyawan.
Di tengah “serangan” virus corona, sektor pertanian memang disebut-sebut tidak terpengaruh. Para petani tetap ke sawah untuk memenuhi ketersediaan pangan. Bisa dikatakan petani menyandang predikat pahlawan pangan saat terjadi wabah corona.
Kondisi itu terlihat di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Daerah utaranya areal sawah yang terhampar luas sejauh mata memandang. Daerah selatannya terasering-terasering sayuran mengombak bagai lautan vegetasi alam

Aktivitas tandur, membajak sawah, memupuk tanaman padi, penyemprotan hingga panen terus menjadi pemandangan di sawah.
“Yah, yang namanya petani Pak, itu sudah menjadi kesehariannya,” kata Ali Watdi, Pemuda Tani asal Desa Panyingkiran Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka.
Ia menyampaikan kegiatan di sektor pertanian tetap berjalan dan sama sekali tidak terganggu dengan COVID-19 untuk didaerahnya.
Dalam kurun waktu selama pandemi sampai tahun 2021 ini, saat dunia ramai-ramai mewaspadai serangan corona, ia mengaku tetap turun ke sawah untuk menjalankan aktivitas seperti biasa.
Menurutnya pula bahwa harga Gabah Kering Giling (GKG) saat ini musim tanam II (April 21 – Juli 21) masih diangka Rp400 ribu s.d Rp450 ribu per kuintal. Ia menjelaskan tentang tidak terpengaruhnya sektor pertanian oleh wabah virus corona, pun dengan pendapatannya yang juga tidak berpengaruh COVID-19. Bahkan ketika awal maraknya Wabah corona pada tahun 2020 pada musim tanam I (Desember 19 – Maret 20) GKG sempat di hargai Rp500 ribu per kuintal.
“Harapannya, Pemerintah terus konsen terhadap petani demi menunjang Pangan masyarakat Indonesia apalagi di masa pandemi ini,” tutur Ali. (SP)










Komentar