Min.co.id-Indramayu-Indramayu terkepung banjir, semuanya bergerak tidak memandang siapa, seakan kita adalah pahlawan.
Sambil mata memandang nun jauh disana yang tidak mau disebut namanya (B) 60 Th, Selasa (9/2) saat ditemui awak media. Bagaimana terjadinya Banjir di Kota Indramayu.
“Sejak jaman belanda cimanuk dipecah menjadi 2 (dua) yaitu dari arah cimanuk muara tiris yang sekarang Desa Totoran, Pabean, Brondong, Pasekan juga Babadan, Sindang, Bojongsari serta Dukuh karena pada saat itu Indramyu hanya ada Desa 75 dengan luas wilayah mencapai 209.942 hektar kini menjadi 31 kecamatan, 309 desa, dan 8 kelurahan.
Sejak Van de Hook Deandles dan Rafles memecah Cimanuk jarang banjir seperti sekarang. Namun dari hulu ke hilir. Sejak pemerintah Orba atau “raja kecil” berkuasa, fungsi hutan di alih menjadi pabrik tebu PT. RNI sehingga setiap kemarau pasti kurang air dan ketika musim hujan pasti menimbulkan banjir.
Dikarenakan ekosistem tidak stabil mengingat kali Cimanuk kini mati yang mengarah ke tiris. Sesuai wangsit leluhur Cimanuk harus dibuka kembali agar kelak Cantigi menjadi pelabuhan terbesar seperti tersirat dalam Kitab Ayu Nagari.
“Indramayu tentrem ayem loh jinawi nanging.” Bait ini dihilangkan oleh penguasa Orba tersebut. Selama bait ini belum disempurnakan maka akan tetap terburuk, wawallahu ahlam bisowab.
Mengingatkan semua tanah tebu adalah milik Nyi Mas Entjeh Sumedang atau Nyi Mas rlRantan Sari (situs dalam kilang Pertamina RU 6 Balongan) istri mener van Wiliiem sebanyak 13.000 ha. Majalengka dan Indramyu mesti dialihkan kembali menjadi hutan agar terjadi reboisasi penyerapan air terhadap akar. Selama hutan tebu tetap berdiri, banjir akan tetap ada di Indramayu. (Red)










Komentar