Min.co.id | Ciamis — Sepak bola seharusnya menjadi ruang bagi ribuan orang untuk merayakan kecintaan terhadap tim, bukan tempat permusuhan berlanjut setelah peluit akhir berbunyi. Di Stadion Galuh Ciamis, Sabtu malam (17/10/2026), sekitar 10.000 penonton menyaksikan pertandingan PSGC Ciamis melawan PSIS Semarang yang berakhir tanpa gol.
Namun, perselisihan yang melibatkan beberapa suporter kedua tim setelah laga menjadi pengingat bahwa menjaga sportivitas tidak kalah penting dari hasil pertandingan.
Laga lanjutan Pegadaian Liga 2 Championship 2026/2027 itu berlangsung mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Ribuan pendukung hadir untuk memberikan semangat kepada tim kebanggaan masing-masing, termasuk Viking Galuh dan Balad Galuh dari kubu PSGC, serta Panser Biru dan Snex yang mendukung PSIS Semarang.
Besarnya jumlah penonton membuat pengamanan tidak hanya berfokus pada lapangan, tetapi juga area stadion, arus kendaraan, aktivitas suporter, hingga kepulangan penonton setelah pertandingan. Bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar stadion, kelancaran pengaturan massa dan lalu lintas turut menentukan kenyamanan mereka.
Kapolres Ciamis AKBP Eko Iskandar, S.H., S.I.K., M.Si., memimpin langsung pengamanan dengan melibatkan personel Polres Ciamis, Polres Banjar, Sat Brimobda Yon D, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan, petugas pemadam kebakaran, tenaga medis, serta steward.
Pengamanan dilakukan melalui pola terbuka dan tertutup. Petugas memantau sejumlah titik untuk mengantisipasi gangguan keamanan sebelum, selama, dan setelah pertandingan. Koordinasi lintas instansi juga dilakukan untuk mendukung keselamatan pemain, perangkat pertandingan, penonton, dan masyarakat sekitar.
Pertandingan turut dihadiri Bupati Ciamis sekaligus CEO PSGC Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, Kapolres Ciamis, serta Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Dr. H. Andang Firman Triyadi, M.T. Laga yang dipimpin wasit utama Choirudin tersebut berakhir dengan skor 0–0.
Meski pertandingan di lapangan selesai tanpa gol, situasi setelah laga sempat diwarnai perselisihan yang melibatkan beberapa suporter PSGC Ciamis dan PSIS Semarang. Laporan yang tersedia belum merinci penyebab kejadian, jumlah pasti pihak yang terlibat, maupun tindak lanjut penanganannya. Karena itu, insiden tersebut belum dapat disimpulkan lebih jauh.
Peristiwa ini menegaskan bahwa pengamanan pertandingan tidak berhenti ketika wasit meniup peluit panjang. Pergerakan suporter, suasana emosional setelah laga, dan proses meninggalkan stadion tetap membutuhkan perhatian agar persoalan tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih luas.
Kapolres Ciamis mengimbau para pendukung kedua tim untuk mengedepankan sportivitas, menghormati lawan, dan tidak mudah terpancing emosi. Dukungan kepada klub, menurutnya, perlu diwujudkan melalui perilaku tertib dan damai.
Tujuan pengamanan terpadu ini bukan semata-mata memastikan pertandingan berjalan lancar, tetapi juga melindungi setiap orang yang datang ke stadion agar dapat menikmati sepak bola dengan aman. Kerja sama aparat, panitia, steward, dan suporter menjadi bagian penting untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Harapannya, rivalitas PSGC dan PSIS tetap berada dalam batas persaingan olahraga. Perbedaan warna dan dukungan tidak semestinya menghapus rasa saling menghormati. Sepak bola akan lebih bermakna ketika suporter bisa pulang dengan selamat, masyarakat sekitar tetap nyaman, dan pertandingan menjadi hiburan yang mempererat persaudaraan.
Polres Ciamis mengapresiasi koordinasi seluruh unsur yang terlibat dalam pengamanan. Berdasarkan laporan pelaksanaan kegiatan, rangkaian pertandingan secara keseluruhan berlangsung aman dan lancar, meskipun perselisihan pascalaga tetap menjadi catatan yang perlu diperhatikan.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Humas Polres Ciamis,Diolah Redaksi Min.co.id










Komentar