Sebelum Ribuan Suporter Masuk Jalak Harupat, Semua Jalur Keamanan Diperiksa

Min.co.id | Bandung — Bagi penonton, pertandingan sepak bola seharusnya dimulai dengan satu kepastian bisa masuk stadion dengan tertib, menyaksikan pertandingan dengan nyaman, lalu pulang dengan selamat.

Kepastian itulah yang kini menjadi perhatian menjelang FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sebelum suporter memenuhi tribun, kesiapan berbagai jalur dan fasilitas keamanan di stadion diperiksa kembali oleh tim dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri).

Pengecekan tersebut dilakukan melalui supervisi Operasi Garuda Bakti-2026 yang dipimpin Waastamaops Kapolri Irjen Pol Laksana. Dalam tim tersebut turut hadir Wadankorbrimob Polri Irjen Pol Reza Arief Dewanto, Brigjen Pol Joko Sulistio, serta sejumlah personel kepolisian.

Yang diperiksa bukan hanya jumlah personel yang akan berjaga. Tim supervisi melihat bagian-bagian yang justru paling menentukan ketika stadion mulai dipadati manusia.

Mulai dari pintu masuk suporter, jalur evakuasi, ruang ganti pemain hingga sistem kamera pengawas atau CCTV menjadi bagian dari pengecekan.

Bagi penonton, pintu masuk mungkin terlihat sebagai bagian sederhana dari sebuah stadion. Namun ketika ribuan orang datang hampir bersamaan, titik tersebut dapat menjadi salah satu bagian penting dalam pengendalian arus massa.

Begitu pula jalur evakuasi. Jalur yang biasanya luput dari perhatian penonton justru harus siap digunakan ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan supervisi tersebut dilakukan untuk mengevaluasi sekaligus menyempurnakan skema pengamanan di Stadion Si Jalak Harupat.

Menurut Hendra, pengecekan mencakup pengamanan dari area dalam stadion hingga akses di bagian luar.

“Pengecekan ini merupakan bagian penting dari Operasi Garuda Bakti-2026,” ujar Hendra, Selasa (29/9/2026).

Ia menyebut kesiapan tersebut diperlukan untuk menghadapi penyelenggaraan turnamen yang melibatkan atlet, ofisial dan suporter dari sejumlah negara Asia Tenggara.

Di sisi lain, kedatangan tim supervisi Mabes Polri menunjukkan bahwa pengamanan pertandingan tidak cukup hanya disiapkan pada hari pertandingan. Berbagai potensi persoalan harus dipetakan lebih awal agar tidak berubah menjadi masalah ketika stadion sudah dipenuhi penonton.

Kamera pengawas, akses masuk, jalur keluar, ruang pemain dan area lainnya menjadi bagian dari satu sistem yang saling berkaitan. Jika salah satu bagian tidak berjalan sebagaimana mestinya, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh penonton.

Karena itu, ukuran keberhasilan pengamanan nantinya bukan semata-mata seberapa banyak aparat terlihat di sekitar stadion. Yang lebih penting adalah apakah penonton dapat merasakan keamanan tanpa kehilangan kenyamanan menikmati pertandingan.

FIFA ASEAN Cup 2026 juga membawa kepentingan yang lebih luas. Stadion Si Jalak Harupat menjadi salah satu ruang yang akan mempertemukan olahraga, penonton dan perhatian publik internasional.

Polri melalui Polda Jabar menyatakan kesiapan pengamanan terus dimatangkan. Potensi kerawanan yang dapat ditemukan dalam proses supervisi diharapkan dapat ditangani sebelum pertandingan berlangsung.

Pada akhirnya, suporter datang ke stadion untuk satu alasan sederhana: menikmati sepak bola.

Mereka tentu tidak ingin pulang membawa cerita tentang kekacauan di pintu masuk, kepanikan di tribun, atau persoalan ketika meninggalkan stadion. Karena itu, pekerjaan keamanan yang paling berhasil justru adalah ketika penonton bisa menikmati pertandingan dengan tenang sementara seluruh sistem pengamanan bekerja di belakang layar.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Bid Humas Polda Jabar, diolah Redaksi

Komentar

News Feed