Min.co.id | Indramayu — Panggung MTQ mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi harapan yang dibawanya jauh lebih panjang.
Di balik lantunan ayat suci, hafalan, tafsir, kaligrafi, dan kemampuan peserta membaca Al-Qur’an, ada pertanyaan yang lebih pentin sejauh mana nilai-nilai yang dipelajari dalam perlombaan itu ikut hadir dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu makna Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-56 Tingkat Kabupaten Indramayu Tahun 2026 yang berlangsung di Kecamatan Jatibarang, 22–24 September 2026.
Sebanyak 31 kecamatan ambil bagian. Sekitar 451 peserta mengikuti tujuh cabang yang diperlombakan, mulai dari seni baca Al-Qur’an, qiraat, hafalan, tafsir Al-Qur’an bahasa Indonesia, fahmil Qur’an, syarhil Qur’an hingga seni kaligrafi Al-Qur’an.
Namun, jika MTQ hanya dilihat dari daftar pemenang dan perolehan juara, ada bagian penting yang bisa terlewat.
Di dalamnya terdapat proses panjang anak-anak muda mempelajari Al-Qur’an, berlatih, menghafal, memahami kandungan ayat, kemudian berani tampil di hadapan orang lain.
Dari Panggung Lomba ke Kehidupan Sehari-hari
Ketua LPTQ Kabupaten Indramayu sekaligus Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, Aghuts Muhaemin, mengatakan MTQ menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem masyarakat yang mencintai Al-Qur’an.
“MTQ ini menjadi bagian dari ikhtiar membangun ekosistem masyarakat yang mencintai Al-Qur’an, sehingga generasi muda semakin gemar membaca dan mengamalkannya,” tuturnya.
Di titik inilah motivasi penyelenggaraan MTQ menjadi lebih luas daripada kompetisi.
Kemampuan membaca Al-Qur’an adalah satu hal. Menghadirkan nilai-nilainya dalam keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat merupakan tantangan yang berbeda.
Karena itu, peserta tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk tampil baik di atas panggung. Mereka juga membutuhkan ruang agar nilai yang dipelajari selama proses pembinaan dapat terus tumbuh setelah perlombaan berakhir.
Harapan untuk Generasi Indramayu
Pemkab Indramayu menempatkan Al-Qur’an sebagai salah satu fondasi dalam membangun daerah yang religius. Pesan tersebut disampaikan Bupati Indramayu Lucky Hakim melalui Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Indramayu, Iin Indrayati, saat pembukaan MTQ.
Menurutnya, perkembangan kehidupan beragama di Indramayu diharapkan ikut membentuk generasi yang tangguh, berkarakter, dan berakhlak mulia, sejalan dengan visi Indramayu REANG.
Pesan tersebut sekaligus memberi harapan bahwa MTQ tidak berhenti sebagai agenda tahunan.
Jika nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar ingin dijadikan fondasi pembangunan daerah, maka prosesnya tidak selesai ketika piala dibagikan. Nilai tersebut justru diuji setelah para peserta kembali ke rumah, sekolah, pesantren, dan lingkungan masing-masing.
Bukan Hanya Tentang Juara
Sebagai tuan rumah, Kecamatan Jatibarang juga melihat MTQ sebagai bagian dari syiar Islam.
Camat Jatibarang Mardono menyampaikan bahwa ajang tersebut diharapkan tidak hanya menjadi lomba untuk meraih juara, tetapi juga menjadi sarana membumikan Al-Qur’an di Kabupaten Indramayu.
Pesan itu membuat keberadaan para peserta memiliki arti yang lebih luas.
Mereka datang membawa nama kecamatan masing-masing. Ada yang mengejar prestasi, ada yang ingin menguji kemampuan, dan ada pula yang mendapatkan pengalaman berharga karena berani tampil dalam sebuah kompetisi tingkat kabupaten.
Semua proses tersebut dapat menjadi bagian dari pembentukan generasi yang memiliki kemampuan sekaligus karakter.
Harapan Setelah Lampu Panggung Padam
MTQ ke-56 memang telah berlangsung selama tiga hari. Para peserta telah tampil dan hasil perlombaan telah menentukan siapa yang meraih penghargaan.
Namun, pekerjaan yang lebih panjang justru dimulai setelah panggung selesai.
Bagaimana anak-anak muda tetap membaca Al-Qur’an ketika tidak sedang mengikuti lomba? Bagaimana hafalan dan pemahaman mereka diterapkan dalam kehidupan? Dan bagaimana lingkungan keluarga, sekolah, pesantren serta pemerintah terus memberi ruang bagi generasi Qur’ani untuk berkembang?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah MTQ sekadar menjadi agenda rutin atau benar-benar menjadi bagian dari proses pembinaan generasi.
Sebab, fondasi sebuah daerah tidak hanya dibangun melalui jalan, gedung dan program pembangunan. Karakter manusianya juga menjadi bagian penting dari masa depan daerah.
Dan dari Jatibarang, MTQ ke-56 Indramayu membawa harapan sederhana agar Al-Qur’an tidak hanya terdengar indah ketika dilantunkan di atas panggung, tetapi juga hadir dalam perilaku dan kehidupan masyarakat setelah perlombaan selesai.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Pelaksanaan MTQ ke-56










Komentar