Warga Puntang-Jangga Cemas Tanggul Kali Cipanas, Minta Diperkuat Sebelum Hujan Datang

Min.co.id | Indramayu – Warga Desa Puntang dan Jangga, Kecamatan Losarang, tak ingin menunggu air lebih dulu meluap untuk kemudian mencari jalan keluar. Menjelang musim hujan, ratusan warga mendatangi tepian Kali Cipanas di kawasan Blok Surna, Minggu (20/9/2026), meminta kondisi tanggul yang mereka nilai mengkhawatirkan segera ditangani.

Bagi warga, persoalannya bukan sekadar tanggul yang rusak. Di balik struktur penahan air itu ada sawah, permukiman, aktivitas ekonomi dan rasa aman yang selama ini bergantung pada kemampuan tanggul menahan debit Kali Cipanas.

Kekhawatiran tersebut mereka sampaikan melalui aksi damai di sekitar tanggul Blok Surna. Warga meminta pemerintah dan instansi teknis turun langsung melihat kondisi lapangan sebelum curah hujan meningkat.

Tokoh masyarakat Desa Puntang, H. Warno, mengatakan masyarakat telah menyampaikan persoalan tanggul melalui musyawarah dan proposal kepada pihak terkait. Salah satu pengajuan, menurut dia, disampaikan pada April 2026.

Namun hingga aksi digelar, warga mengaku belum memperoleh tindak lanjut yang mereka harapkan.

“Emergency, kami sudah berupaya dari bulan April sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujar Warno di hadapan warga.

Keresahan itu diperkuat pengalaman masa lalu. Menurut keterangan masyarakat setempat, tanggul di kawasan tersebut disebut pernah mengalami jebol atau kerusakan sekitar 1960, 1977, 2005 dan terakhir pada 2021.

Pengalaman tersebut membuat warga tidak ingin kembali menghadapi kondisi darurat ketika hujan dan debit air meningkat.

“Jangan sampai terjadi lagi seperti tahun 2021,” kata Warno.

Ia meminta perhatian pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan instansi teknis yang memiliki kewenangan terhadap Kali Cipanas dan tanggul Blok Surna, termasuk BBWS Cimanuk-Cisanggarung.

Kekhawatiran warga juga meningkat memasuki penghujung September. Oktober hingga Desember menjadi periode yang mereka waspadai karena potensi peningkatan curah hujan.

Warno menilai dampaknya tidak hanya menyangkut kondisi lingkungan. Jika air meluap, aktivitas pertanian dan perekonomian warga di Puntang, Jangga hingga wilayah Losarang secara lebih luas juga berpotensi terdampak.

“Kalau sudah musim hujan bagaimana? Ayo, kapan lagi? Masyarakat akan menangis, khususnya masyarakat Puntang dan Jangga dan umumnya Losarang. Akan menjadi dampak perekonomian terpuruk untuk Losarang khususnya,” ujarnya.

Warga Soroti Bagian Tanggul yang Menyempit

Tokoh masyarakat Desa Jangga, H. Komarudin A.W., meminta instansi terkait tidak hanya menerima laporan dari masyarakat, tetapi datang langsung memeriksa kondisi tanggul.

Menurut Komarudin, terdapat bagian tanggul yang dinilai lebih kritis dibandingkan bagian lainnya. Ia menyebut permukaan tanggul di sejumlah bagian memiliki lebar sekitar tiga meter, sementara pada bagian yang mereka khawatirkan lebarnya tinggal sekitar satu meter.

“Persoalan sudah kritis, tanggulnya tipis. Karena seperti yang sudah kita lihat bersama di lapangan, luasnya hanya satu meter. Sementara di areal permukaan yang lain ada tiga meter, hanya yang kritis ini, satu meter,” ungkapnya.

Komarudin juga meminta kondisi tersebut segera diperiksa sebelum hujan dengan intensitas tinggi terjadi. Ia mengkhawatirkan debit air dari wilayah hulu dapat meningkatkan tekanan terhadap tanggul.

“Kalau Sumedangnya ini intens hujannya, maka dampaknya ke kami, di Kecamatan Losarang,” katanya.

Warga mengaku telah menempuh jalur penyampaian aspirasi, termasuk melalui surat dan mendatangi pihak terkait. Kini mereka meminta ada tindak lanjut nyata berupa pengecekan kondisi lapangan dan penanganan sesuai kewenangan masing-masing instansi.

Komarudin mengatakan, jika dalam waktu mendatang tidak ada jawaban maupun realisasi atas usulan warga, mereka berencana kembali mendatangi pihak terkait dengan jumlah massa yang lebih besar.

“Ini aspirasi dari bawah, jika dalam beberapa waktu ke depan tidak ada jawaban memuaskan ataupun tidak ada realisasi atas usulan, maka kami akan mendatangi pihak terkait dengan mobilisasi massa yang jauh lebih besar, ribuan,” tegasnya.

Aksi damai tersebut menjadi penanda bahwa persoalan tanggul Blok Surna telah menjadi perhatian serius warga Puntang dan Jangga.

Masyarakat kini menunggu respons dari pemerintah dan instansi yang berwenang. Mereka meminta kondisi tanggul diperiksa secara langsung, dikaji secara teknis dan ditangani sebelum persoalan berubah menjadi keadaan darurat.

Sebab bagi warga di sekitar Kali Cipanas, musim hujan bukan hanya soal perubahan cuaca. Ada kekhawatiran lama yang kembali muncul setiap kali langit mulai gelap  apakah tanggul akan diperkuat sebelum air datang, atau penanganan baru dilakukan setelah kerusakan kembali terjadi?

Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan wawancara di lokasi kegiatan

Komentar

News Feed