Sholawat Menggema di SMKN 1 Losarang, Maulid Nabi Jadi Ruang Siswa Belajar Akhlak dan Potensi

Min.co.id | Indramayu – Lapangan Serbaguna SMKN 1 Losarang, Kabupaten Indramayu, Rabu (26/8/2026), berubah menjadi ruang yang penuh lantunan sholawat. Suara hadroh berpadu dengan antusiasme ratusan siswa yang mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.

Namun, kegiatan tersebut tidak hanya berhenti pada peringatan kelahiran Rasulullah SAW. Di tengah suasana keagamaan, para siswa juga diberi ruang untuk tampil, berkompetisi, sekaligus belajar memaknai keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW dalam Membangun Pelajar yang Beriman, Berilmu, dan Membentuk Insan yang Berakhlak Mulia”, kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan sekolah yang diinisiasi bersama oleh para siswa dan guru.

Guru Agama sekaligus pendamping kegiatan, Rokesih, mengatakan gagasan menggelar Maulid tahun ini mendapat sambutan antusias dari siswa.

“Anak-anak berantusias, ‘Hayu, Umi, kita adakan Maulid.’ Memang ini sudah menjadi adat di kita, rutinitas tahunan. Setiap Maulid itu ada,” ujar Rokesih.

Bagi sekolah, antusiasme tersebut menjadi bagian penting. Sebab, kegiatan keagamaan tidak hanya ditempatkan sebagai agenda kalender sekolah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk terlibat langsung dalam proses penyelenggaraan.

Kepala SMKN 1 Losarang, Arifuddin, yang akrab disapa Abah Arif, mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi tidak semestinya selesai ketika acara berakhir.

Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW dapat diterapkan siswa dalam berbagai sisi kehidupan, termasuk ketika mereka menuntut ilmu dan berinteraksi dengan masyarakat.

“Peringatan Maulid Nabi ini jangan hanya berhenti pada acara seremonial biasa. Para pecinta Nabi yang memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW harus bisa mengambil pribadi beliau sebagai teladan hidup yang nyata, baik dalam menuntut ilmu maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Arifuddin.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi lingkungan pendidikan vokasi. Siswa tidak hanya dipersiapkan memiliki keterampilan sesuai bidang keahlian, tetapi juga membutuhkan karakter dan sikap yang menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan sosial.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan salat Dhuha berjamaah, kemudian dilanjutkan penampilan hadroh dan lagu-lagu Islami serta tabligh akbar. Kegiatan juga diisi berbagai perlombaan bernuansa keagamaan.

Puncak kegiatan diisi tausiyah agama oleh KH. Amani Luthfi, pengasuh Pondok Pesantren Nahdhatul Mubtadi’in Indramayu.

Dalam tausiyahnya, ia mengangkat pentingnya mempertemukan pendidikan vokasi dengan pemahaman agama dan akhlakul karimah. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa penguasaan keterampilan tidak berdiri sendiri, tetapi perlu dibarengi karakter yang baik.

Usai tausiyah, suasana kegiatan bergeser menjadi lebih dinamis. Para siswa mengikuti sejumlah perlombaan Islami, di antaranya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), fashion show Islami, azan, khutbah dan Fahmil Qur’an.

Rokesih mengatakan perlombaan tersebut sengaja menjadi bagian dari rangkaian Maulid untuk memberikan ruang kepada siswa dalam mengembangkan minat dan kemampuan di bidang keagamaan.

“Lomba-lombanya merupakan lomba Islami. Ada MTQ, fashion show, lomba azan, khutbah, dan Fahmil Qur’an. Kegiatan ini memang kami adakan setiap tahun,” katanya.

Menurut Rokesih, kegiatan semacam itu juga menjadi salah satu cara menjaga semangat siswa terhadap aktivitas keagamaan di lingkungan sekolah.

“Kalau tidak ada kegiatan seperti ini, syiar keagamaan bisa redup. Namun, alhamdulillah, anak-anak tetap bersemangat,” tuturnya.

Bagi siswa, panggung perlombaan mungkin menjadi bagian yang paling terlihat. Ada yang membaca Al-Qur’an, mengumandangkan azan, menyampaikan khutbah, hingga tampil dalam fashion show Islami.

Tetapi pesan yang lebih panjang justru berada di luar panggung.

Sekolah berharap momentum tersebut dapat mendorong siswa mengenal Rasulullah SAW bukan hanya melalui kisah dan peringatan tahunan, melainkan melalui sikap yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

“Harapannya, anak-anak dapat mengenal Rasulullah, kemudian menjadikan beliau sebagai suri teladan. Salat dan akhlak mereka juga dapat semakin baik,” ujar Rokesih.

Harapan itu menempatkan Maulid dalam konteks yang lebih luas. Pendidikan karakter tidak selalu harus hadir melalui pembelajaran di ruang kelas. Kadang, ia tumbuh melalui pengalaman bersama ketika siswa belajar bekerja dalam kegiatan, berani tampil di depan orang lain, menghargai peserta lain dan memahami pesan yang disampaikan dalam sebuah peringatan keagamaan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMKN 1 Losarang akhirnya bukan sekadar tentang meramaikan satu hari dalam kalender sekolah.

Lantunan sholawat, suara hadroh, tausiyah dan perlombaan menjadi bagian dari sebuah upaya menanamkan nilai yang diharapkan terus terbawa setelah lapangan kembali sepi.

Bagi sekolah, tantangannya adalah menjaga agar semangat tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan. Nilai tentang kedisiplinan, ilmu, ibadah, tanggung jawab dan akhlak justru diuji dalam keseharian siswa di kelas, di rumah, di lingkungan pergaulan hingga kelak ketika mereka memasuki dunia kerja.

Sebab, keberhasilan sebuah peringatan Maulid bukan hanya ketika sholawat menggema dan perlombaan berlangsung meriah, tetapi ketika keteladanan yang dibicarakan hari itu perlahan berubah menjadi kebiasaan dalam kehidupan para pelajar.

Penulis: Redaksi 
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan wawancara langsung

Komentar

News Feed