Min.co.id | Majalengka – Sungai bukan sekadar aliran air yang menghubungkan hulu dan hilir. Di dalamnya ada kehidupan, sumber penghidupan, sekaligus cermin dari cara manusia memperlakukan lingkungan. Kekhawatiran terhadap kondisi sungai yang masih dibebani persoalan sampah itulah yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam seminar lingkungan hidup bertajuk “Ngobrol Cai Merdeka” di Gedung Nyi Rambut Kasih, Kompleks Pendopo Kabupaten Majalengka, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan yang digagas Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (FKP DAS) Majalengka Jawa Barat bersama Forum Komunikasi Pecinta Alam (FORKOPALA) Kabupaten Majalengka tersebut mengusung tema “Jaga Cai, Jaga Kahirupan, Pikeun Jaga Kahareupna”.
Pesertanya cukup beragam. Anak-anak sekolah duduk berdampingan dengan komunitas pecinta alam, penggiat sungai, akademisi, pelaku usaha, pemerintah hingga aparat penegak hukum. Mereka datang dengan latar berbeda, tetapi memiliki keresahan yang sama: bagaimana menjaga sungai agar tidak terus menjadi tempat berakhirnya sampah dan berbagai aktivitas yang merusak lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka, Wawan Sarwanto, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Majalengka, menilai persoalan lingkungan tidak mungkin diselesaikan pemerintah seorang diri.
Menurut Wawan, kebiasaan menjaga lingkungan harus dibangun sejak usia dini agar kepedulian terhadap sungai tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Menjaga sungai bukan hanya tugas pemerintah. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Edukasi sejak dini kepada anak-anak dan generasi muda sangat penting agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari budaya kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kekhawatiran terhadap kondisi sungai juga menjadi alasan utama kegiatan tersebut digelar. Ketua panitia, Taufik Hidayat, mengungkapkan bahwa masih ditemukannya sampah di sejumlah aliran sungai menunjukkan perlunya perubahan perilaku masyarakat.
“Kami sering merasa ngeri melihat kondisi sungai yang semakin tercemar sampah, sementara kepedulian masyarakat masih minim,” katanya.
Menurut Taufik, forum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat bertukar gagasan, tetapi mampu melahirkan kesadaran yang kemudian diterjemahkan menjadi tindakan.
Gagasan yang dibahas pun tidak berhenti pada persoalan membuang sampah. Peserta seminar turut menyoroti aktivitas usaha dan pariwisata di kawasan hulu sungai. Pengawasan terhadap perizinan pembangunan, termasuk tempat wisata dan glamping, dinilai perlu diperkuat agar kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kawasan konservasi dan sumber mata air.
Salah satu gagasan lain yang muncul adalah pemasangan jaring atau pembatas sampah di titik-titik tertentu sepanjang sungai, terutama di wilayah perbatasan desa atau kampung.
Konsep tersebut diharapkan dapat membantu mengetahui dari mana sampah berasal sekaligus mendorong setiap wilayah memiliki rasa tanggung jawab terhadap kondisi sungainya. Dengan begitu, persoalan sampah tidak hanya berakhir pada perdebatan antara wilayah hulu dan hilir.
Forum juga menilai edukasi mengenai aturan lingkungan perlu diperkuat. Keterlibatan aparat penegak hukum diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai regulasi lingkungan, bukan semata-mata melalui pendekatan penindakan.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, generasi muda justru ditempatkan sebagai salah satu kekuatan penting dalam gerakan penyelamatan lingkungan.
Santy, salah seorang pelajar yang mengikuti seminar, mengaku mendapatkan perspektif baru tentang arti penting sungai.
“Selama ini kita mungkin hanya melihat sungai sebagai tempat mengalirnya air. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi memahami bahwa kondisi sungai sangat berkaitan dengan kehidupan kita,” ungkapnya.
Ia berharap pembahasan mengenai lingkungan tidak hanya dilakukan di forum seperti seminar, tetapi juga masuk ke sekolah dan komunitas sehingga semakin banyak anak muda yang terlibat.
Sementara itu, akademisi sekaligus pemateri, Dr. Sapto dari Politeknik Negeri Bandung, mengingatkan bahwa persoalan sampah sebenarnya juga berkaitan dengan cara masyarakat memandang dan mengelolanya.
Menurut dia, sebagian sampah masih dapat dimanfaatkan kembali apabila ditangani dengan teknologi dan sistem yang tepat. Karena itu, persoalan utama bukan sekadar mengangkut sampah dari lingkungan, tetapi mencegah sampah masuk ke sungai sejak awal.
“Yang kita hadapi bukan sekadar persoalan sampah, tetapi bagaimana kita mengubah cara pandang,” jelasnya.
Seminar tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain Prof. Iwan dari Universitas Islam Bandung, Kang Yosep dari unsur pelaku usaha, Bu Pipi dari Madira, Agus dari Masyarakat Peduli DAS serta perwakilan instansi teknis.
Bagi masyarakat, persoalan sungai pada akhirnya bukan hanya urusan pemerintah atau komunitas lingkungan. Sampah yang dibuang di satu tempat dapat terbawa arus dan menjadi masalah bagi warga di wilayah lain. Karena itu, menjaga sungai membutuhkan kebiasaan bersama dari hulu hingga hilir.
Melalui “Ngobrol Cai Merdeka”, para penggagas berharap gagasan yang lahir dari ruang diskusi tersebut tidak berhenti sebagai catatan seminar. Tantangan berikutnya adalah membuktikannya melalui aksi nyata: mengurangi sampah yang masuk sungai, menjaga kawasan hulu, mengawasi aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, serta melibatkan generasi muda dalam gerakan konservasi.
Jika kolaborasi itu benar-benar berjalan, sungai Majalengka bukan hanya menjadi aliran air yang melewati permukiman dan wilayah pertanian, tetapi tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat hingga generasi mendatang.
Penulis: Taufik Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan wawancara langsung di lokasi kegiatan










Komentar