Air Mengering, Kolam Ikut Sepi: Warjo Hentikan Sementara Pembenihan Lele di Gabuswetan

Min.co.id | Indramayu — Air bagi Suwarjono bukan sekadar kebutuhan untuk mengisi kolam. Bagi warga Desa Gabus Kulon, Blok Gabus Udik Condong, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, ketersediaan air menjadi penentu apakah usaha pembenihan lele bisa terus berjalan atau harus berhenti sementara.

Pria yang sehari-hari disapa Warjo itu kini memilih mengosongkan kolam pembenihannya karena pasokan air yang minim. Ia tidak ingin mengambil risiko memaksakan pembenihan ketika kondisi air belum mencukupi.

“Kalau airnya tidak ada, sementara tidak memelihara benur dulu. Kalau dipaksakan takut pertumbuhannya tidak bagus,” ujar Warjo saat ditemui di wilayah tempat tinggalnya.

Keputusan tersebut membuat salah satu sumber penghasilan Warjo dari penjualan benur atau bibit lele ikut terhenti. Padahal, selama ini ia menjalankan usaha pembenihan dengan memanfaatkan sejumlah kolam terpal yang dimilikinya.

Menurut Warjo, air memiliki peran penting hampir di seluruh tahapan pembenihan. Mulai dari proses indukan berkembang biak, menghasilkan telur, penetasan hingga pemeliharaan benur sebelum dijual, semuanya membutuhkan kondisi air yang menurutnya sesuai.

Warjo selama ini lebih mengandalkan air irigasi untuk memenuhi kebutuhan kolam. Ia menilai sumber air tersebut lebih cocok untuk pembenihan dibandingkan air bor maupun air fleksibel yang biasa digunakan untuk kebutuhan tertentu.

Ia mengatakan air bor dan air fleksibel di wilayahnya dinilai memiliki kandungan kapur yang cukup tinggi. Karena itu, Warjo memilih tidak menjadikannya sebagai sumber utama untuk pembenihan agar tidak berisiko terhadap pertumbuhan benur.

Dari Telur hingga Siap Dijual

Dalam kondisi normal, proses pembenihan yang dilakukan Warjo dimulai dengan memasukkan indukan lele yang telah siap berkembang biak ke kolam yang sudah dipersiapkan.

Setelah indukan menghasilkan telur, induk kemudian dipindahkan agar tidak memakan telur. Telur selanjutnya dibiarkan hingga menetas dan berkembang menjadi benur.

Benur yang baru menetas belum langsung diberi pakan. Menurut Warjo, setelah berumur sekitar empat hari, benur mulai diberi cacing sutra sebagai pakan hingga berusia sekitar 10 hari.

Pada usia tersebut, benur dinilai sudah dapat dipanen untuk kemudian dijual kepada pembeli.

Harga jual benur yang selama ini dipatok Warjo sekitar Rp4 per ekor. Dalam satu kolam terpal, ia dapat menampung sekitar 100.000 ekor benur.

Jika seluruh benur dari satu kolam berhasil dipanen dan terjual, omzet yang diperoleh sekitar Rp400.000. Dengan sekitar 10 kolam terpal, potensi omzet dari seluruh kolam dapat mencapai sekitar Rp4 juta apabila seluruh benur berhasil dipanen dan terjual.

Namun, angka tersebut kini baru menjadi potensi yang belum bisa diwujudkan. Keterbatasan air membuat Warjo memilih menghentikan sementara proses pembenihan.

“Kalau air sudah ada lagi, baru mulai lagi,” katanya.

Menunggu Air, Menunggu Usaha Kembali

Bagi Warjo, berhentinya pembenihan bukan sekadar membuat kolam terpal kosong. Aktivitas usaha yang selama ini menjadi salah satu sumber pemasukan keluarga ikut terhenti.

Ia memilih menunggu pasokan air kembali tersedia daripada memaksakan pembenihan dengan kondisi yang menurutnya tidak mendukung.

Harapannya sederhana: pasokan air di wilayahnya kembali normal sehingga kolam bisa kembali diisi dan usaha pembenihan lele dapat berjalan.

Kisah Warjo memperlihatkan bagaimana ketersediaan air dapat bersentuhan langsung dengan kehidupan ekonomi warga. Ketika air berkurang, bukan hanya kolam yang kehilangan isinya, tetapi kesempatan untuk memperoleh penghasilan pun ikut tertunda.

Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi min.co.id
Sumber: Wawancara dengan Suwarjono (Warjo)

 

Komentar

News Feed