Min.co.id | Indramayu – Sepintas, bubur abang putih hanyalah semangkuk bubur dengan dua warna, merah dan putih. Namun di balik kesederhanaannya, sajian yang hampir selalu hadir dalam berbagai tradisi masyarakat Indramayu itu menyimpan pesan mendalam tentang asal-usul kehidupan, keseimbangan manusia, hingga penghormatan kepada kedua orang tua.
Di tengah derasnya arus modernisasi, makna filosofis bubur abang putih mulai jarang dipahami. Sebagian masyarakat bahkan masih mengaitkannya dengan hal-hal mistis, padahal menurut para budayawan, bubur tersebut merupakan media para leluhur untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan secara simbolis kepada generasi penerus.
Budayawan sekaligus pelaku tradisi Indramayu, Rawin, mengatakan bubur abang putih merupakan salah satu bagian penting dari umba rampe dalam berbagai tradisi adat masyarakat Indramayu. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap ritual, melainkan sarat dengan ajaran moral dan spiritual.
“Bubur abang putih adalah simbol kehidupan. Leluhur kita menyampaikan ajaran melalui simbol agar mudah dipahami. Jadi jangan dimaknai sebagai sesuatu yang mistis, tetapi sebagai pengingat tentang perjalanan hidup manusia,” ujar Rawin saat diwawancarai.
Filosofi Kehidupan dalam Dua Warna
Rawin menjelaskan, warna merah melambangkan amarah, hawa nafsu, serta berbagai sifat yang harus mampu dikendalikan manusia. Sementara warna putih menjadi simbol hati yang bersih, ketulusan, dan kebaikan yang seharusnya menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.
Menurutnya, kedua unsur tersebut selalu hidup berdampingan dalam diri setiap manusia. Karena itu, filosofi bubur abang putih mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan agar manusia tidak dikuasai hawa nafsu, melainkan lebih mengedepankan kebijaksanaan dan kebaikan.
“Setiap manusia memiliki sisi baik dan sisi buruk. Filosofi bubur abang putih mengajarkan agar kita mampu mengendalikan hawa nafsu dan lebih mengedepankan kebaikan dalam menjalani kehidupan,” katanya.
Selain menggambarkan keseimbangan batin, bubur abang putih juga melambangkan harmoni antara langit dan bumi. Makna tersebut mengingatkan manusia untuk menjaga hubungan dengan Gusti Allah sekaligus membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam sekitar.
Simbol Penghormatan kepada Orang Tua
Lebih jauh, Rawin menjelaskan bahwa bubur abang putih juga menjadi simbol asal mula kehidupan manusia. Warna merah dimaknai sebagai lambang ibu yang mengandung dan menjadi sumber darah kehidupan, sedangkan warna putih melambangkan ayah sebagai benih kehidupan. Pertemuan keduanya menjadi jalan lahirnya manusia ke dunia atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Menurutnya, filosofi tersebut mengajarkan agar setiap manusia senantiasa menghormati kedua orang tua sebagai perantara hadirnya kehidupan.
“Makna ini mengajarkan agar manusia selalu menghormati ibu dan bapak sebagai perantara hadirnya kehidupan. Semua berasal dari kehendak Gusti Allah sehingga patut disyukuri,” tutur Rawin.
Warisan Leluhur yang Tak Lekang oleh Waktu
Di tengah perubahan zaman, Rawin berharap masyarakat tidak lagi memandang setiap unsur umba rampe hanya dari sisi mistis. Ia menilai seluruh perlengkapan dalam tradisi merupakan warisan budaya yang sarat nilai moral, spiritual, dan pendidikan karakter yang tetap relevan hingga kini.
Baginya, menjaga tradisi bukan sekadar mempertahankan bentuk upacara adat, tetapi juga merawat nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Bila maknanya dipahami, bubur abang putih bukan sekadar makanan tradisi, melainkan pengingat agar manusia selalu menjaga keseimbangan hidup, menghormati orang tua, mencintai sesama, serta tidak melupakan Sang Pencipta,” pungkasnya.
Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara langsung dengan Rawin, budayawan dan pelaku tradisi Kabupaten Indramayu.







Komentar