Min.co.id | Surabaya — Pagi itu halaman RSPAL dr. Ramelan Surabaya dipenuhi ribuan perawat berseragam putih yang datang bukan sekadar merayakan hari jadi organisasi profesi mereka, tetapi juga membawa semangat tentang pentingnya kesehatan, pengabdian, dan harapan menjadikan Surabaya sebagai pusat layanan medis unggulan di Indonesia.
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Surabaya, Minggu (10/5/2026), berlangsung meriah sekaligus penuh makna. Sekitar 2.000 perawat dari berbagai instansi kesehatan hadir mengikuti senam aerobik, jalan sehat, hingga pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Di sela suasana penuh kebersamaan itu, para perawat terlihat melayani warga dengan ramah melalui pemeriksaan tekanan darah, gula darah, asam urat, hingga edukasi pola hidup sehat. Bagi sebagian warga, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa tenaga kesehatan bukan hanya hadir di ruang rumah sakit, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ketua DPD PPNI Kota Surabaya, Dr. Nuh Huda, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB, mengatakan tema HUT PPNI tahun ini, “Perawat Profesional Sebagai Modal Ekonomi Bangsa untuk Kesejahteraan Masyarakat”, menegaskan bahwa profesi perawat memiliki peran besar tidak hanya dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga mendukung produktivitas masyarakat.
“Perawat profesional adalah aset ekonomi bangsa. Masyarakat yang sehat akan lebih produktif, sehingga investasi pada profesi perawat sama dengan investasi untuk kesejahteraan bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, perawat merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan mulai dari tingkat puskesmas hingga rumah sakit rujukan. Karena itu, peningkatan kompetensi dan profesionalisme tenaga keperawatan perlu terus diperkuat agar mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan yang semakin berkembang.
Semangat penguatan layanan kesehatan itu juga sejalan dengan upaya menjadikan Surabaya sebagai pusat medical tourism nasional.
Kepala RSPAL dr. Ramelan, Laksamana Pertama TNI dr. Imam Hidayat Sp.S FINA, menegaskan kesiapan rumah sakit mendukung program tersebut melalui layanan kesehatan dengan standar internasional.
“Seluruh layanan kesehatan yang dimiliki rumah sakit luar negeri seperti Singapura, Malaysia, hingga Australia pada dasarnya bisa kami lakukan di sini. Yang membedakan hanya branding dan persepsi masyarakat,” katanya.
Ia menyebut tingginya kepercayaan masyarakat terlihat dari jumlah kunjungan pasien rawat jalan yang mencapai 1.700 hingga 2.000 pasien per hari. Sementara tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit tersebut mencapai sekitar 80 persen dari total lebih dari 880 tempat tidur yang tersedia.
Menurut Imam, tingginya angka kunjungan menunjukkan bahwa masyarakat mulai percaya terhadap kualitas layanan kesehatan di Surabaya.
“Kami siap mendukung program pemerintah kota menjadikan Surabaya sebagai center of medical tourism, baik dari sisi SDM maupun fasilitas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya dr. Billy Daniel Messakh Sp.B FINACS FICS mengatakan Surabaya memiliki potensi besar bersaing di sektor wisata medis karena didukung rumah sakit dengan layanan unggulan yang lengkap.
Saat ini, kata Billy, terdapat delapan rumah sakit di Surabaya yang telah mengantongi akreditasi medical tourism dari Kementerian Kesehatan.
Ia mencontohkan RSPAL dr. Ramelan memiliki layanan bedah jantung terbuka atau open heart surgery yang mampu dilakukan dengan kualitas baik di dalam negeri.
Selain itu, Surabaya juga mulai memperkuat layanan kanker dan diagnostik modern, termasuk fasilitas PET Scan yang sebelumnya membuat banyak pasien memilih berobat ke luar negeri.
“Sekarang Surabaya sudah bisa. Target kita minimal masyarakat Surabaya dan Jawa Timur tidak perlu lagi ke luar negeri untuk berobat,” katanya.
Namun di balik optimisme tersebut, Billy mengakui masih ada tantangan berupa persepsi masyarakat yang menganggap biaya layanan kesehatan di Surabaya lebih mahal dibanding negara lain.
Karena itu, Dinas Kesehatan bersama rumah sakit dan pelaku wisata mulai membangun promosi medical tourism agar masyarakat semakin percaya terhadap kualitas layanan kesehatan di Surabaya.
Pada puncak peringatan HUT PPNI ke-52 itu, penghargaan juga diberikan kepada sejumlah perawat teladan dari kategori rumah sakit, pendidikan, dan puskesmas sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam melayani masyarakat.
Di tengah perkembangan dunia kesehatan yang terus berubah, ribuan perawat di Surabaya seakan mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar soal teknologi dan fasilitas, tetapi juga tentang ketulusan, empati, dan pengabdian kepada sesama.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Infopublik – Diolah Redaksi










Komentar