Di Kaki Gunung Dempo, Mereka Menemukan Harapan dari Secangkir Kopi dan Kabut Pagi

Min.co.id | Sumsel | Pagi baru saja menyapa lereng Gunung Dempo. Kabut tipis menggantung di antara hijaunya kebun teh, sementara udara dingin perlahan menyusup hingga ke tulang. Di tengah ketenangan itu, Andi (34) sudah lebih dulu terjaga.

Bagi Andi, kabut bukan sekadar pemandangan indah. Ia adalah bagian dari kehidupan. Setiap hari, ia menyambut tamu yang datang ke Pagar Alam—bukan hanya untuk berwisata, tetapi untuk merasakan sesuatu yang mulai langka: ketenangan.

“Banyak yang datang dari kota, dari Palembang, bahkan luar daerah. Mereka bilang di sini bisa benar-benar bernapas,” tuturnya pelan.

Andi bukan pengusaha besar. Ia hanya pemilik penginapan sederhana di kaki gunung. Namun dari tempat kecil itu, ia melihat bagaimana Pagar Alam perlahan berubah. Wisata bukan lagi sekadar kunjungan singkat, tapi menjadi ruang untuk belajar dan kembali mengenal alam.

Di Desa Wisata Gunung Dempo, para tamu diajak memetik daun teh, mencium aroma kopi yang baru disangrai, hingga berjalan menyusuri aliran air di Air Terjun Lematang Indah.

“Kadang mereka terdiam lama. Mungkin baru sadar, alam itu tidak bisa diganti,” kata Andi.

Cerita lain datang dari Sapli (42), petani kopi yang kini juga menjadi pelaku UMKM. Dulu, ia hanya menjual hasil panen ke pengepul. Kini, ia menjual cerita di balik setiap biji kopi.

“Sekarang orang datang, lihat langsung, belajar, lalu beli. Rasanya beda,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Sapli, kopi bukan sekadar komoditas. Ia adalah harapan. Dari kopi, ia bisa menyekolahkan anak, memperbaiki rumah, hingga bertahan di tengah perubahan zaman.

Namun Pagar Alam bukan hanya tentang hari ini. Di balik hijaunya alam, tersimpan jejak ribuan tahun lalu. Batu-batu besar di Tegur Wangi Megalithic Site dan Tebat Benawa Megalithic Site berdiri diam, seolah mengawasi perjalanan manusia dari masa ke masa.

Menurut Balai Arkeologi Sumatera Selatan, kawasan ini merupakan salah satu pusat tradisi megalitik di Indonesia. Namun bagi warga, batu-batu itu bukan sekadar sejarah—melainkan bagian dari identitas.

Saat libur Hari Raya Idul Fitri, suasana berubah drastis. Jalanan menuju Gunung Dempo dipenuhi kendaraan. Polres Pagar Alam pun turun tangan mengatur arus lalu lintas.

Namun ketika keramaian usai, Pagar Alam kembali sunyi. Kabut turun lagi. Angin kembali berbisik di antara daun teh.

Di tempat ini, waktu seakan berjalan lebih lambat. Tak ada tuntutan, tak ada kebisingan. Hanya ruang untuk diam, berpikir, dan kembali menemukan diri.

Bagi Andi, Sapli, dan banyak warga lainnya, Pagar Alam bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah kehidupan itu sendiri—yang sederhana, namun penuh makna.

Dan bagi siapa pun yang datang, mungkin Pagar Alam akan meninggalkan satu hal yang tak bisa dibawa pulang dalam koper: rasa tenang yang sulit dijelaskan, tapi selalu ingin kembali dirasakan.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Diolah dari  rilis  Indonesiagoid

Komentar

News Feed