Indramayu | Banyak pemilik mobil merasa sudah melakukan perawatan terbaik dengan rutin mengganti oli mesin setiap 10.000 kilometer. Namun tanpa disadari, ada satu komponen kecil yang sering terlupakan, padahal perannya sangat krusial bagi kesehatan mesin filter oli.
Oli mesin memang dikenal sebagai “darah” bagi jantung kendaraan. Ia bertugas melumasi komponen internal agar gesekan saat mesin bekerja tidak menimbulkan keausan berlebih. Tapi darah yang bersih tak akan berarti bila terus dialirkan melalui saluran yang kotor.
Di sinilah filter oli mengambil peran penting. Komponen ini bekerja tanpa suara, menyaring sisa pembakaran, serpihan logam halus, hingga kerak mesin yang terbawa oli selama kendaraan digunakan.
Apin, pemilik bengkel spesialis Pelita Motor Mitsubishi, menegaskan bahwa mengganti oli tanpa mengganti filter ibarat mandi bersih dengan air yang melewati saringan kotor.
“Filter oli menyaring partikel kotoran dari dalam mesin. Kalau filternya sudah jenuh tapi tetap dipakai, oli baru akan cepat kotor lagi,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat kemampuan pelumasan oli menurun. Dalam jangka panjang, mesin bisa mengalami gesekan berlebih, performa menurun, bahkan berisiko rusak sebelum waktunya.
Ironisnya, harga filter oli relatif terjangkau, namun dampaknya terhadap umur mesin sangat besar. Dengan mengganti filter oli setiap kali ganti oli, sirkulasi pelumas menjadi lebih bersih dan stabil, sehingga mesin bekerja lebih ringan dan efisien.
Perawatan kendaraan sejatinya bukan soal mahal atau murah, melainkan soal ketepatan. Mengganti oli mesin bersamaan dengan filter oli adalah langkah sederhana, namun menjadi kunci agar mesin tetap sehat, awet, dan siap diajak melaju dalam jangka panjang.
Karena pada akhirnya, mesin yang terawat bukan hanya soal kenyamanan berkendara, tapi juga investasi jangka panjang bagi pemiliknya. (*)










Komentar