Dokter Ungkap Bahaya Hipertensi dan Protein Hewani dalam Perusakan Organ Vital

Jakarta | Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap disebut sebagai silent killer, namun dampaknya tidak selalu langsung terlihat. Dalam diam, penyakit ini merusak organ-organ penting bukan hanya jantung dan otak, tetapi juga ginjal. Dan ironisnya, kerusakan itu sering kali baru disadari ketika sudah terlambat.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Bethsaida Hospital, Dasaad Mulijono, membeberkan betapa pentingnya memahami hubungan antara tekanan darah dan ginjal. Menurutnya, seluruh sistem tubuh terhubung oleh jaringan pembuluh darah, termasuk ginjal yang bekerja sebagai sistem penyaring limbah dalam darah.

“Kalau tekanan darah tinggi terus-menerus, pembuluh darah halus di ginjal bisa rusak. Akibatnya, filter ginjal yang disebut glomerulus bisa bocor, dan protein dalam darah ikut terbuang bersama urine,” jelas Dasaad, dikutip dari CNN Indonesia.

Kondisi ini disebut proteinuria, dan merupakan salah satu tanda awal dari kerusakan ginjal kronis. Jika tidak dikendalikan, glomerulus akan kehilangan fungsinya secara permanen dan pasien pun terancam gagal ginjal—suatu kondisi yang hanya bisa ditangani dengan cuci darah atau transplantasi.

Yang mengejutkan, kata Dasaad, kerusakan ginjal tidak selalu berhenti meski pasien sudah mengonsumsi obat antihipertensi dan mengurangi garam. Penyebab utamanya sering tersembunyi di pola makan khususnya konsumsi protein hewani yang berlebihan.

“Saya pernah tangani pasien yang bilang sudah diet dan minum obat rutin. Tapi ternyata makannya masih daging terus. Protein hewani menghasilkan TMAO, zat beracun yang mempercepat kerusakan pembuluh darah,” ungkapnya.

TMAO (trimetilamina N-oksida) terbentuk ketika bakteri usus memetabolisme zat dalam daging merah, telur, dan makanan hewani lain. Kandungan TMAO tinggi dalam tubuh terbukti mempercepat terjadinya peradangan, memperburuk fungsi ginjal, dan meningkatkan risiko stroke serta penyakit jantung.

Lebih lanjut, bahkan makanan seperti telur yang selama ini dianggap sehat bisa menjadi berbahaya bila dikonsumsi berlebihan dalam kondisi ginjal yang sudah rentan.

Meski terdengar mengerikan, kabar baiknya adalah kerusakan ginjal akibat hipertensi bisa dicegah—bahkan diperbaiki—melalui perubahan gaya hidup dan pola makan berbasis nabati.

Dasaad menyarankan agar pasien hipertensi atau mereka yang memiliki risiko penyakit ginjal mulai membatasi asupan protein hewani dan menggantinya dengan sumber protein nabati seperti tahu, tempe, dan kacang hijau.

“Diet nabati yang rendah TMAO dan tinggi serat bisa menurunkan beban kerja ginjal. Bahkan, pasien yang awalnya menuju cuci darah bisa mengalami perbaikan fungsi ginjal hanya lewat perubahan pola makan yang konsisten,” katanya.

Hipertensi bukan sekadar masalah tekanan darah. Jika dibiarkan tanpa kontrol gaya hidup, penyakit ini bisa diam-diam menggerogoti ginjal Anda. Jangan tunggu sampai gejalanya muncul karena bisa jadi itu sudah terlalu terlambat.

Lakukan deteksi dini, jaga tekanan darah tetap stabil, dan mulailah mengadopsi pola makan nabati yang sehat. Karena ginjal Anda tidak bisa bicara, tapi diam-diam mereka bisa menyerah.

“Kesehatan ginjal bukan hanya soal obat, tapi juga soal apa yang kita taruh di piring kita setiap hari.” dr. Dasaad Mulijono.(*)

Komentar

News Feed