Min.co.id ~ Jakarta ~ Ketika guntur terdengar bukan dari langit, tetapi dari laras besi yang menyemburkan api dan peluru, di situlah sejarah peradaban berubah. Meriam bukan sekadar senjata—ia adalah pengubah arah perang, pengguncang benteng, dan pemecah dominasi militer kuno.
Meriam pertama kali meletus di dataran Tiongkok, bukan sebagai simbol kekuasaan, tapi sebagai alat inovasi militer yang menggantikan mesin-mesin kepung zaman dahulu. Api, mesiu, dan logam menjadi kombinasi mematikan yang menyebar ke Timur Tengah dan Eropa.
Di Pertempuran Ain Jalut, suara ledakan meriam genggam menggetarkan pasukan Mongol. Tak lama, Eropa pun terpesona dan mengadopsi teknologi ini memasuki panggung besar dalam Perang Seratus Tahun dan Pertempuran Crecy pada 1346.
Abad Pertengahan adalah saksi perubahan drastis. Meriam menghancurkan supremasi benteng batu, memaksa arsitektur militer berinovasi lewat desain benteng bintang. Dari yang awalnya besar dan tidak praktis, meriam perlahan diperkecil dan dimobilisasi—mengubah perang menjadi pertunjukan strategi artileri bergerak.
Bukan hanya di darat, lautan pun bergemuruh oleh dentuman meriam. Angkatan Laut Britania menjadikannya jantung kapal perang. Dengan laras bergalur dan daya tembak presisi, meriam menjelma menjadi monster laut yang mampu mengoyak kapal musuh dari kejauhan. Dunia mengenal kekuatan dominasi laut melalui meriam.
Ketika dunia terseret dalam dua perang besar, meriam kembali jadi penentu. Dalam Perang Dunia I dan II, ia bukan sekadar senjata, tapi arsitektur kehancuran massal. Meriam lapangan, howitzer, hingga meriam anti-pesawat menjadi saksi bisu kehancuran dan ketangguhan teknologi manusia.
Lebih dari sekadar alat tempur, meriam adalah penanda zaman. Ia membuka era baru dalam seni perang, menumbangkan benteng, menguasai lautan, dan mengguncang medan pertempuran dunia. Dalam setiap letusannya, meriam membawa jejak sejarah dan pelajaran tentang bagaimana teknologi bisa mengubah jalannya peradaban.(*)
Editor: Achmad










Komentar