Ibu dan Anak Tewas Akibat Banjir Bandang di Pekalongan

Min.co.id ~ Pekalongan ~ Cuaca ekstrem di Pulau Jawa dan lainnya mulai menimbulkan korban jiwa. Setelah 26 orang tewas akibat banjir bandang di Sumatera Barat (Sumbar), kini giliran banjir bandang terjadi di Pekalongan dan menyebabkan dua korban jiwa. Dilaporkan, seorang ibu dan anaknya terseret arus dan ditemukan meninggal dunia.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan, Budi Raharjo, mengungkapkan penyebab banjir bandang berasal dari jebolnya tanggul embung milik pabrik sepatu di Desa Wangandowo, Kecamatan Bojong. Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari menjadi pemicu jebolnya tanggul yang tidak mampu menahan debit air.

Akibat jebolnya tanggul, banjir bandang menerjang pemukiman warga sekitar pukul 19.00 WIB. Ibu bernama Warsilah (38) dan anaknya yang berinisial SF (10) menjadi korban terjangan banjir. Keduanya terseret arus deras dan dilaporkan hilang. Tim SAR gabungan bersama warga setempat bahu membahu melakukan pencarian.

Jasad Warsilah ditemukan terlebih dahulu. Beberapa jam kemudian, jenazah SF ditemukan sekitar 10 meter dari lokasi ibunya. “Ya, untuk korban bernama SF umur 10 tahun sudah ditemukan, laporan lengkap menyusul,” ungkap relawan SAR Bumi Santri, Nindhomudin.

Selain menelan korban jiwa, banjir bandang ini mengakibatkan puluhan bangunan rusak. Tercatat 20 rumah rusak parah, 2 rumah hanyut terseret arus, dan 50 rumah mengalami kerusakan ringan. Banjir juga merusak infrastruktur lain seperti jembatan, gedung TK, dan mushola.

Pemerintah Kabupaten Pekalongan bergerak cepat untuk memberikan bantuan. “Tadi makanan untuk sahur juga sudah didrop ke warga yang terdampak banjir bandang,” tutur Budi Rahardjo. Gotong royong bersama tim SAR dan warga tengah dilakukan untuk membersihkan puing-puing sisa banjir.

Pihak berwajib tengah melakukan penyelidikan terkait jebolnya tanggul penampungan air milik pabrik yang diduga menjadi penyebab utama banjir bandang.

Tragedi ini menjadi duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat Pekalongan. Banjir bandang ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana dan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam, terlebih di musim penghujan.(red)

Komentar

News Feed