Min.co.id – Indramayu – Sentra batu bata merah yang terletak di Desa Terusan Blok Mandrat Tanggul Kali, Kecamatan Sindang, Indramayu terus bertahan di tengah pandemi, Sabtu (21/8/2021).
Sentra batu bata ini sudah berdiri selama belasan tahun. Terlihat tumpukan ribuan batu bata merah di samping sungui Cimanuk Indramayu (bangunan tradisional untuk menaruh bata yang masih mentah).
Banyaknya batu bata berjejer di sepanjang sungai cimanuk menandakan bahwa aktivitas industri batu bata ini menjadi salah satu yang membantu perekonomian masyarakat desa dan sekitarnya.
Karal (60), salah satu warga yang membuat batu bata yang sudah bekerja belasan tahun bisa memproduksi seribu bata merah per harinya.
Karal bertugas menjemur batu bata, ditemani satu rekannya Cariman yang tugasnya sebagai pembuat adonan, pencetak bata, dan kuli angkut.
Proses pembuatan batu bata merah cukup sederhana, dimulai dengan mengaduk tanah. Lempung atau tanah liat yang sudah diaduk lalu diproses cetak manual. Dilanjutkan dengan proses penjemuran menggunakan sinar matahari, memakan waktu sekitar 1-4 hari.
“Pernah gagal ngebata (membuat batu bata) karena cuaca. Apalagi pada saat musim hujan dan enggak tentu waktu penjemurannya. Pernah lagi ngebata, mau menjemur tiba-tiba hujan besar. Dari tanahnya juga kalau adonannya gak bagus, batanya gampang pecah,” tutur Karal.
Produksi batu bata bisa dikerjakan di depan rumah/di bantaran kali tidak perlu mencari lapak produksi hanya mengandalkan panas.
Adapun modal yang di butuhkan dalam usaha batu bata merah diantaranya, sekam padi untuk membuat adonan dan pembelian kayu untuk proses pembakaran. Untuk 1000 bata menghabisakan biaya Rp500 ribu. Keuntungan yang di dapat 50% dari modal tersebut.
Warga setempat pun terbantu dengan adanya produksi batu bata ini.Apalagi untuk saat ini mencari kerjaan sedang susah karena pandemi. (Vino)









Komentar