Min.co.id, Indramayu – Tiga pahlawan devisa asal Indramayu berbagi kisah gegar budaya atau culture shock saat pertama kali menetap di negara orang. Ketiganya tentu saja mengalami kesulitan dari segi bahasa, kebiasaan, dan juga budaya.
Dari Negeri Sakura, Nursyamsi yang berasal dari Desa Dadap Kecamatan Juntinyuat menceritakan dirinya mengalami kesulitan saat belanja di supermarket dan saat hendak membuang sampah.
“Culture shock yang masih diingat sampai sekarang, ketika belanja di supermarket bingung mencari bahan makanan yang ingin dibeli. Semua bahan makanan menggunakan tulisan kanji, jadi kesulitan bacanya. Ditambah lagi tidak semua bahan makanan halal, sehingga butuh waktu lama saat belanja,” ungkap Nursyamsi, yang sejak kuliah memiliki impian bisa ke Jepang, Rabu (3/2/2021).
Ia juga menambahkan, saat akan membuang sampah, di Jepang jauh lebih ribet ketimbang di Indonesia. Di sana ia harus memilih dan memisahkan setiap jenis sampah sebelum dibuang. Sedangkan jenis sampahnya sendiri begitu banyak, hingga menyulitkan dirinya.
Di samping itu, hal lain yang membuat Nursyamsi tercengang adalah budaya kerja masyarakat di sana. Di tempat dirinya bekerja, pekerja usia 50-an justru lebih kuat secara fisik ketimbang dirinya dan teman-temannya yang juga berasal dari Indonesia.
“Pernah waktu itu, karena capai saya dan teman pijat-pijatan. Terus diledek pegawai yang lebih berumur dari kami. Katanya, itu ada orang tua sedang kecapaian. Terus kami tertawa bersama-sama,” ujar Nursyamsi.
Sama halnya dengan Nursyamsi, Fadilah yang saat ini sedang berada di Arab Saudi, tidak luput dari gegar budaya saat awal-awal tinggal di sana.
“Yang bikin bingung itu, saat orang-orang di sini bilang es. Saya sempat mengira es ya es. Jadi, saat mereka minta es, ya saya bawakan es. Ternyata es itu artinya nasi,” ujar Fadilah yang berasal dari Desa Sudimampir, Kecamatan Balongan.
Selain itu, di tempatnya bekerja salam merupakan hal wajib diucapkan setiap pagi saat pertama bertemu. Jika tidak dirinya bisa dianggap sedang marah.
Selain di Arab Saudi, Fadilah yang pernah bekerja di Taiwan mengatakan, kalau dirinya justru lebih banyak mengalami gegar budaya saat di Taiwan ketimbang di Arab Saudi.
“Kalau di Taiwan lebih banyak lagi gegar budayanya. Beberapa diantaranya, makanan yang serba babi. Terus pas makan nasi di mangkuk, nasinya sedikit ditambah makannya pakai sumpit. Sedangkan saya kalau makan banyak dan susah pakai sumpit. Pas makan langsung pakai tangan dilihatin karena katanya jorok,” ujar Fadilah.
Sama seperti Fadilah yang kesulitan dengan bahasa, Aas yang pernah bekerja di Singapura juga merasakan hal yang sama. Ia mengalami kebingungan dengan orang-orang yang memakai Bahasa Melayu.
“Meski Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia mirip-mirip, tapi maknanya suka berbeda. Pernah ada yang bilang kereta, padahal gak ada kereta. Kan jadi mikir keras. Ternyata kereta itu artinya mobil,” ungkap Aas yang kini bekerja di Hongkong.
Aas juga menambahkan kalau di Singapura, tidak bisa sembarang buang sampah karena bisa kena denda. Selain itu, di Singapura setiap gangnya terpasang CCTV.
“Karena setiap gang ada CCTV, jadi tidak bisa mengupil sembarang kalau di luar rumah. Meski begitu, di Singapura lebih bersih dan aman,” kata Aas sambil tertawa.
Sama seperti di Singapura, awal-awal bekerja di Hongkong pun Aas tidak luput dari gegar budaya.
“Di Hongkong orang suka teriak-teriak, enggak sabaran, dan sering lihat orang tua berantem. Terus banyak orang homeless karena harga rumah yang mahal,” ucap Aas yang berasal dari Desa Rambatan Wetan Kecamatan Sindang.
Selain itu, dirinya juga mengalami kesulitan saat akan membeli barang atau makanan. “Kendalanya itu pada tulisan saat mau beli barang atau makanan. Kalau ada Bahasa Inggris-nya sih oke. Tapi, kalau hanya tulisan China, ya sudah wassalam,” tuturnya.
Aas menambahkan, kalau dirinya lebih suka di Hongkong karena mirip seperti di Jakarta dan banyak juga makanan Indonesia meski harganya cukup menguras dompet. (iim)










Komentar