Min.co.id | Indramayu — Saat anak-anak mulai berdatangan ke SDN 1 Bojongsari, Warni (57) sudah bersiap melayani pembeli di lapak sederhananya.
Sebuah meja untuk meletakkan dagangan, bangku panjang bagi pelanggan, dan atap terpal sebagai peneduh menjadi teman kesehariannya mencari nafkah di Desa Bojongsari, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu.
Di tempat sederhana itu, Warni merawat usaha yang telah dijalaninya selama sekitar enam tahun. Tak ada bangunan mewah atau fasilitas lengkap. Hanya ketekunan, dagangan yang disiapkan setiap hari, dan pelanggan yang datang silih berganti menjadi bagian dari perjalanan usahanya.
Setiap pukul 07.00 WIB, ia mulai membuka lapak. Aktivitasnya berlanjut hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Dari pagi sampai sore, Warni melayani pembeli yang datang untuk menikmati lotek, karedok, rumbah, maupun jajanan ringan yang tersedia.
Bagi sebagian orang, lapak itu mungkin terlihat biasa. Namun, bagi Warni, tempat tersebut menjadi sandaran usaha sekaligus hasil dari perjalanan panjang yang dimulai dengan berjualan keliling.
“ Saya berjualan di sini sudah sekitar enam tahunan lebih lah, sebelumnya jualan rumbah keliling,” kata Warni.
Sebelum menetap di depan sekolah, Warni menjajakan rumbah dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Pekerjaan itu menuntut tenaga dan kesabaran karena ia harus mendatangi calon pembeli untuk menawarkan dagangannya.
Kini, ia memilih berjualan di satu lokasi. Lapak tersebut memberinya tempat untuk menyiapkan dagangan dan melayani pelanggan yang datang, baik warga sekitar maupun orang yang kebetulan melintas.
Pelanggan Warni, menurut pengakuannya, tidak hanya berasal dari lingkungan terdekat. Ada pula pembeli dari kawasan perumahan BTN dekat Terminal Cidedel, bahkan pengguna jalan yang singgah di tengah perjalanan.
“Yang beli masyarakat sekitar sini, ada juga yang dari perumahan BTN tuh, yang dekat Terminal Cidedel. Pengguna jalan yang lewat juga kadang suka mampir,” ungkapnya.
Kedatangan pelanggan dari berbagai tempat menjadi bagian dari cerita usaha yang terus ia jalani. Di tengah aktivitas harian yang panjang, setiap pembeli yang mampir menjadi kesempatan untuk memperoleh penghasilan sekaligus menjaga usahanya tetap berjalan.
Berjualan dari pagi hingga sore bukan pekerjaan ringan. Warni harus menjaga dagangan dan melayani pembeli sepanjang hari. Namun, selama sekitar enam tahun bertahan di lokasi tersebut, ia terus menjalani rutinitasnya.
Perjalanan dari penjual rumbah keliling hingga pedagang lotek yang menetap di depan sekolah memperlihatkan bagaimana usaha kecil dapat tumbuh melalui ketekunan. Perubahan tempat berjualan tidak serta-merta menghilangkan tantangan, tetapi menjadi bagian dari cara Warni mempertahankan mata pencahariannya.
Di tengah persaingan usaha kuliner, lapak sederhana seperti milik Warni memiliki ruang tersendiri di tengah masyarakat. Kedekatan dengan pelanggan, kemudahan untuk singgah, dan keberadaan di lingkungan yang ramai menjadi bagian dari keseharian usahanya.
Kisah Warni juga menjadi pengingat bahwa kehidupan ekonomi masyarakat tidak hanya bergerak melalui usaha besar. Ada pedagang kecil yang membuka lapak setiap pagi, menunggu pembeli, dan mengandalkan hasil jualan untuk menjaga keberlangsungan hidupnya.
Harapannya, usaha kecil seperti milik Warni dapat terus bertahan dan mendapat ruang untuk berkembang. Dukungan masyarakat dengan membeli produk lokal, serta perhatian terhadap kebutuhan pedagang kecil, dapat menjadi bagian dari upaya menjaga roda ekonomi di lingkungan sekitar.
Di depan SDN 1 Bojongsari, Warni mungkin hanya terlihat sebagai pedagang lotek dengan lapak sederhana. Namun, di balik meja dan terpal peneduh itu, ada perjalanan panjang seorang perempuan yang terus bekerja, menjaga pelanggan, dan merawat harapan melalui usaha yang telah menjadi bagian dari hidupnya.(WH)






Komentar