Min.co.id | Indramayu – Sebuah informasi bisa menyebar luas hanya dalam hitungan menit. Namun, banyaknya orang yang membagikan sebuah konten tidak otomatis membuat isinya benar.
Di tengah kebiasaan bermedia sosial, siswa SMAN 1 Losarang, Indramayu, diajak memahami pentingnya memeriksa fakta sebelum mempercayai, apalagi ikut menyebarkan informasi.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan literasi jurnalistik di SMAN 1 Losarang, Jumat (9/10/2026). Wartawan Kabar Cirebon, Apip Nopianto, hadir sebagai pemateri untuk mengenalkan dunia jurnalistik sekaligus mengajak pelajar memahami tanggung jawab di balik informasi yang beredar di ruang digital.
Bagi pelajar yang setiap hari bersentuhan dengan media sosial, kemampuan memilah informasi menjadi bekal penting. Konten yang ramai diperbincangkan, judul yang memancing emosi, atau unggahan yang dibagikan berulang kali tetap perlu diperiksa kebenarannya.
Sebab, ketika informasi yang keliru telanjur menyebar, dampaknya tidak selalu berhenti pada layar telepon genggam. Nama baik seseorang bisa tercoreng, kesalahpahaman dapat meluas, dan masyarakat berpotensi mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang belum teruji.
Kepala SMAN 1 Losarang, Ade Sumantri, S.Pd., menilai literasi jurnalistik penting untuk membangun kebiasaan berpikir kritis di kalangan siswa.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat yang menganggap informasi benar hanya karena banyak diperbincangkan.
“Yang beredar di masyarakat itu, asal ramai. Ketika ramai, masyarakat menilai itu sebagai sebuah kebenaran dan fakta. Nah, ini yang berbahaya,” ujar Ade.
Menurutnya, pemahaman tersebut perlu dibangun sejak bangku sekolah agar pelajar tidak mudah terbawa opini yang berkembang di media sosial, terlebih ikut menyebarkan informasi yang belum diketahui sumber dan kebenarannya.
Dalam kegiatan itu, siswa diperkenalkan pada dasar-dasar jurnalistik, mulai dari mengumpulkan informasi, melakukan wawancara, menyusun berita dengan unsur 5W+1H, hingga memahami pentingnya keberimbangan dan penggunaan bahasa yang jelas.
Mereka juga diajak memahami etika penyampaian informasi, termasuk menghormati privasi, memeriksa sumber, dan mempertimbangkan dampak sebuah konten sebelum dipublikasikan.
Jurnalistik bukan sekadar merangkai kalimat menjadi berita. Ada proses untuk memastikan informasi yang disampaikan memiliki dasar yang jelas dan tidak menyesatkan pembaca.
Prinsip itu relevan bagi pelajar, termasuk ketika mereka membuat unggahan, membagikan kabar di grup percakapan, atau menyampaikan pendapat di media sosial. Meski tidak berprofesi sebagai wartawan, setiap pengguna media digital tetap perlu memahami bahwa informasi yang disebarkan dapat memengaruhi orang lain.
Ade berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan minat siswa terhadap dunia jurnalistik sekaligus melahirkan calon jurnalis muda dari lingkungan sekolah.
“Harapannya, anak-anak bisa teredukasi untuk menjadi jurnalis, menjadi bibit-bibit jurnalis muda. Yang kedua, menangkal berita-berita hoaks di lingkungannya,” katanya.
Harapan itu menempatkan pelajar bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan yang dapat membantu menghentikan penyebaran kabar bohong.
Caranya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana memeriksa siapa yang menerbitkan informasi, mencari sumber pembanding, membedakan fakta dengan pendapat, serta tidak terburu-buru membagikan konten yang belum terverifikasi.
Pada akhirnya, ukuran kecakapan digital bukan semata-mata seberapa cepat seseorang mengikuti tren atau menemukan informasi terbaru. Kemampuan menahan diri, memeriksa kebenaran, dan memahami akibat dari sebuah unggahan juga menjadi bagian penting dari literasi.
Bagi siswa SMAN 1 Losarang, pelajaran jurnalistik ini diharapkan menjadi bekal untuk lebih kritis dalam bermedia sosial sebab viral adalah soal seberapa luas informasi menyebar, sedangkan kebenaran membutuhkan pemeriksaan. (Wiwin Hidayat/red)










Komentar