Min.co.id | Madiun — Menyelesaikan kuliah sambil tetap menjalankan pekerjaan bukan perkara mudah. Waktu harus dibagi, tugas kedinasan tetap berjalan, sementara tuntutan akademik tidak mengenal kata menunggu.
Bagi PNS Muhamad Dwi Maulana, anggota Korem 081/DSJ, situasi itu justru menjadi bagian dari perjalanan hingga akhirnya ia menyelesaikan program magister Teknik Elektro di Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam waktu 1,5 tahun.
Dwi menjadi lulusan tercepat pada Wisuda Periode VIII Tahun 2026. Di balik capaian tersebut, ada proses membagi waktu antara tanggung jawab sebagai aparatur dan kewajiban menyelesaikan pendidikan.
“Yang paling menantang tentu bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah. Keduanya harus tetap berjalan dengan baik,” ujarnya dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).
Perjalanan akademiknya juga tidak berhenti pada mengejar gelar. Dalam tesisnya, Dwi memilih kajian pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
Pilihan topik tersebut mempertemukan bidang yang dipelajarinya dengan persoalan kebutuhan energi. Pemanfaatan energi terbarukan di lingkungan rumah sakit menjadi bagian dari kajiannya selama menyelesaikan pendidikan magister.
Waktu 1,5 tahun akhirnya menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan itu. Dwi menyebut pencapaiannya tidak lepas dari kemudahan yang diberikan Tuhan serta dukungan orang-orang di sekelilingnya.
“Alhamdulillah, saya bangga dan bersyukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan berbagai kemudahan dan yang terbaik dalam setiap proses yang saya jalani,” katanya.
Di lingkungan kedinasan, dukungan juga datang dari Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto yang memberikan kesempatan kepada Dwi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
“Terima kasih kepada Komandan Korem yang telah memberikan kesempatan dan dukungan sehingga saya bisa menempuh pendidikan ini,” ungkapnya.
Namun, ada sisi lain dari perjalanan tersebut yang berlangsung bersamaan dengan pendidikan. Dwi baru saja memasuki fase baru dalam kehidupan pribadinya setelah melepas masa lajang dan memulai kehidupan bersama sang istri.
Di tengah jadwal pekerjaan dan kuliah, keluarga menjadi bagian dari perjalanan yang ikut menentukan ketahanan Dwi menyelesaikan studinya.
“Terima kasih kepada keluarga dan istri saya tercinta yang selalu memberikan dukungan luar biasa. Dukungan mereka menjadi penyemangat bagi saya untuk menyelesaikan pendidikan ini,” tuturnya.
Gelar magister dan predikat lulusan tercepat akhirnya menjadi hasil dari perjalanan tersebut. Tetapi bagi Dwi, capaian itu tidak berhenti sebagai pencapaian akademik.
Ia berharap ilmu yang diperoleh, termasuk kajian mengenai pemanfaatan energi surya, dapat memberikan manfaat lebih luas sekaligus menjadi bekal untuk melanjutkan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Pada akhirnya, cerita Dwi bukan semata tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan kuliah. Ada pelajaran tentang bagaimana pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan keluarga harus berjalan beriringan ketika seseorang memilih untuk terus belajar tanpa meninggalkan tanggung jawab yang sudah ada.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Korem 081/DSJ ,Diolah Redaksi










Komentar