Riset Andri Hermawan Petakan Potensi Wisata Majalengka

Min.co.id | Majalengka  – Majalengka memiliki beragam potensi wisata, mulai dari wisata alam, desa wisata hingga dukungan akses melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Tantangannya bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana menghubungkan berbagai potensi tersebut agar kunjungan dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas.

Persoalan itu menjadi salah satu fokus penelitian Dr. Andri Hermawan, S.ST., M.T., dari Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Cirebon.

Penelitian berjudul “Model Integrated Tourism Accessibility Ecosystem (ITAE): Strategi Pengembangan Pariwisata Kabupaten Majalengka Berbasis Airport Tourism, Bus Tourism, dan Desa Wisata untuk Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah” tersebut menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sektor pariwisata Majalengka.

Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah menjadikan aksesibilitas sebagai bagian dari ekosistem pariwisata, sehingga transportasi, destinasi, desa wisata, ekonomi kreatif dan promosi digital tidak dikembangkan secara terpisah.

BIJB Kertajati dalam Peta Pariwisata

Dalam penelitian tersebut, BIJB Kertajati dipandang sebagai salah satu peluang untuk memperkuat akses wisata menuju Majalengka.

Penelitian menyebut Majalengka memiliki lebih dari 50 destinasi wisata yang mencakup wisata alam, budaya, kuliner dan desa wisata. Beberapa destinasi yang dicantumkan antara lain Terasering Panyaweuyan, Situ Cipanten, Curug Cipeuteuy dan Ciboer Pass.

Namun, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah persoalan yang dinilai masih perlu dibenahi, seperti branding destinasi, keterbatasan amenitas, rendahnya integrasi antarobjek wisata dan belum optimalnya promosi digital.

Atas kondisi tersebut, penelitian mengusulkan agar akses dari BIJB Kertajati dapat dihubungkan dengan jaringan transportasi darat berupa bus dan shuttle menuju berbagai destinasi.

Konsep itu kemudian dikembangkan dalam Integrated Tourism Accessibility Ecosystem (ITAE).

Model tersebut tidak hanya mengandalkan keberadaan bandara, tetapi menghubungkan Airport Tourism, Bus Tourism, Shuttle Tourism, desa wisata, Digital Tourism, Event Tourism dan ekonomi kreatif dalam satu kerangka pengembangan.

Wisatawan Tidak Hanya Datang, tetapi Diharapkan Tinggal Lebih Lama

Dalam rancangan ITAE, wisatawan dari sejumlah pasar seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Semarang dan Purwokerto menjadi kelompok yang dapat dibidik.

Skemanya, wisatawan datang melalui jalur udara maupun darat, kemudian diarahkan menuju tourism hub sebelum melanjutkan perjalanan ke wisata alam, desa wisata atau wisata budaya.

Rangkaian tersebut selanjutnya dapat diperkuat melalui event, produk ekonomi kreatif dan aktivitas UMKM.

Penelitian menempatkan jumlah kedatangan wisatawan, lama tinggal dan belanja wisatawan sebagai indikator yang diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan dampak ekonomi pariwisata dan PAD.

Artinya, model yang ditawarkan tidak semata mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga bagaimana wisatawan memiliki lebih banyak aktivitas selama berada di Majalengka.

Analisis SWOT Petakan Kekuatan dan Persoalan

Penelitian menggunakan analisis SWOT yang diperkuat dengan Matriks IFAS dan EFAS.

Dalam matriks IFAS, nilai yang dicantumkan penelitian mencapai 2,61. BIJB Kertajati menjadi salah satu faktor kekuatan dengan skor 0,60, disusul potensi wisata alam dengan skor 0,48 dan ketersediaan lahan wisata dengan skor 0,32.

Di sisi lain, penelitian mencatat integrasi destinasi, amenitas dan promosi digital sebagai sejumlah aspek yang masih membutuhkan penguatan.

Sementara itu, matriks EFAS dalam tabel penelitian menghasilkan nilai 2,95.

Peluang yang dipetakan mencakup pengembangan Airport Tourism, Bus Tourism dari sejumlah kota, tren wisata alam serta pengembangan desa wisata.

Berdasarkan analisis tersebut, penelitian menempatkan posisi Majalengka pada Kuadran I atau Growth Strategy.

Posisi tersebut kemudian menjadi dasar bagi peneliti untuk menawarkan strategi pengembangan dengan memanfaatkan kekuatan internal dan peluang eksternal yang tersedia.

Desa Wisata Masuk dalam Rantai Ekonomi

Desa wisata menjadi salah satu komponen penting dalam model ITAE.

Dalam konsep tersebut, desa tidak hanya ditempatkan sebagai lokasi kunjungan tambahan, tetapi sebagai bagian dari pengalaman wisata sekaligus rantai ekonomi lokal.

Produk lokal, kuliner, budaya, kerajinan dan aktivitas masyarakat dapat menjadi bagian dari paket perjalanan.

Penelitian tersebut mengasumsikan bahwa semakin terintegrasi aktivitas wisata, semakin besar pula peluang wisatawan untuk tinggal lebih lama dan melakukan lebih banyak pengeluaran di daerah.

Namun, hubungan tersebut masih merupakan bagian dari model dan strategi yang ditawarkan penelitian, bukan hasil pengukuran dampak ekonomi yang sudah terjadi di lapangan.

Roadmap Pariwisata hingga 2035

Penelitian Andri juga menawarkan roadmap pengembangan pariwisata Majalengka hingga 2035.

Pada fase 2026-2027, fokus diarahkan pada pembangunan fondasi, antara lain rebranding pariwisata, pengembangan platform digital, penguatan lima destinasi prioritas dan penyelenggaraan event tahunan.

Dalam roadmap tersebut, peneliti mencantumkan target lima desa wisata aktif, lima event tahunan dan peningkatan wisatawan sebesar 15 persen.

Selanjutnya, fase 2028-2030 diarahkan pada pengembangan Airport Tourism Kertajati, Tourism Hub Kertajati, koridor Bus Tourism dan 10 desa wisata unggulan.

Pada fase tersebut, penelitian mencantumkan target peningkatan PAD sebesar 25 persen.

Kemudian pada fase 2031-2032, strategi diarahkan pada Smart Tourism, investasi hotel dan resort, kawasan wisata terpadu serta festival nasional.

Sementara fase 2033-2035 diarahkan pada penguatan branding pariwisata internasional, festival internasional, MICE Tourism dan Green Tourism.

Roadmap tersebut mencantumkan sejumlah target jangka panjang, di antaranya tiga juta wisatawan domestik, 150.000 wisatawan mancanegara, 25 desa wisata unggulan dan kontribusi PAD lebih dari 10 persen.

Seluruh angka tersebut merupakan target atau proyeksi yang tercantum dalam roadmap penelitian, bukan capaian aktual maupun target resmi Pemerintah Kabupaten Majalengka.

Usulan Pengembangan Tidak Hanya Soal Destinasi

Selain integrasi transportasi, penelitian mengusulkan sejumlah langkah pendukung, seperti penguatan desa wisata, kalender event tahunan, jaringan shuttle tourism, pengembangan Tourism Hub Kertajati, platform pariwisata digital serta pengembangan investasi di sektor pariwisata.

Penelitian juga mengusulkan pembentukan lembaga atau otoritas pengembangan pariwisata yang dapat mengoordinasikan berbagai unsur dalam ekosistem tersebut.

Namun, seluruh usulan tersebut merupakan rekomendasi penelitian, sehingga implementasinya tetap membutuhkan kajian, kebijakan dan keputusan dari pihak yang berwenang.

Majalengka dan Tantangan Menghubungkan Potensi

Penelitian Andri melihat pengembangan pariwisata Majalengka tidak cukup hanya dengan menambah atau mempromosikan destinasi.

Akses, transportasi, destinasi, desa wisata, ekonomi kreatif, event dan promosi digital perlu ditempatkan dalam satu ekosistem agar perjalanan wisatawan lebih terintegrasi.

Dalam konteks itu, BIJB Kertajati ditawarkan sebagai salah satu pintu masuk, sementara jaringan bus dan shuttle menjadi penghubung menuju destinasi.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur serta analisis SWOT yang diperkuat Matriks IFAS dan EFAS.

Karena menggunakan pendekatan tersebut, model ITAE yang dihasilkan merupakan kerangka strategis dan konseptual yang masih membutuhkan pengujian, penyusunan kebijakan serta implementasi dan evaluasi di lapangan.

Bagi Majalengka, penelitian tersebut setidaknya menawarkan satu sudut pandang: potensi wisata tidak hanya perlu diperbanyak atau dipromosikan, tetapi juga perlu dihubungkan dengan aksesibilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Model ITAE kemudian ditawarkan sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk pengembangan pariwisata Majalengka hingga 2035.

Penulis: Taufik Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Penelitian Dr. Andri Hermawan, S.ST., M.T., Universitas Muhammadiyah Cirebon

Komentar

News Feed