Min.co.id | Jambi — Bagi sebagian anak muda, kecerdasan buatan (AI) mungkin terasa seperti ancaman yang datang perlahan pekerjaan berubah, keterampilan lama mulai ditinggalkan, sementara teknologi terus bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengejarnya.
Tetapi Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor melihat persoalan itu dari sudut berbeda. Menurutnya, AI tidak semestinya ditakuti. Justru, generasi muda harus belajar menggunakannya agar tidak menjadi penonton ketika dunia kerja berubah.
“Jangan takut pada AI, tapi jangan sampai tertinggal oleh AI. Jadikan teknologi sebagai alat pengganda produktivitas kalian,” kata Afriansyah saat memberikan kuliah umum di Universitas Batanghari, Jambi, Sabtu (12/9/2026).
Pesan tersebut datang di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat. Otomatisasi, digitalisasi, dan perkembangan AI telah mengubah cara berbagai pekerjaan dilakukan. Bagi generasi muda yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, perubahan itu bukan lagi sesuatu yang berada jauh di masa depan.
AI bukan lagi sekadar teknologi. Ia mulai menjadi bagian dari persaingan.
Karena itu, Afriansyah mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk tidak berhenti pada penguasaan teknologi. Kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar juga menjadi modal penting menghadapi perubahan.
Menurutnya, dunia kerja tidak hanya membutuhkan ijazah. Kompetensi, karakter, kemampuan belajar, serta kesiapan menghadapi perubahan menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Ijazah Tak Lagi Cukup
Bagi mahasiswa yang sedang mengejar gelar, ijazah tentu menjadi tujuan penting. Namun, ketika memasuki dunia kerja, selembar ijazah tidak selalu menjadi tiket otomatis menuju pekerjaan.
Afriansyah mengingatkan bahwa kompetensi harus dibangun sejak seseorang masih berada di bangku pendidikan.
Pesan itu menjadi semakin relevan ketika jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai angka yang sangat besar. Berdasarkan data BPS Februari 2026 yang disampaikan dalam bahan Kemnaker, jumlah angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang, dengan tingkat pengangguran sebesar 4,68 persen.
Lebih jauh, 19,44 persen pemuda berusia 15–24 tahun berada dalam kondisi NEET, yakni tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, dan tidak mengikuti pelatihan.
Di balik angka tersebut terdapat persoalan manusia: anak muda yang belum menemukan pekerjaan, belum memiliki kesempatan pendidikan, atau belum mendapatkan akses pelatihan yang sesuai.
Karena itu, tantangan generasi muda bukan hanya bagaimana mendapatkan ijazah, tetapi bagaimana memastikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki tetap relevan ketika memasuki dunia kerja.
Jangan Hanya Jadi Pencari Kerja
Afriansyah juga mengajak generasi muda mengubah cara pandang. Anak muda tidak harus selalu melihat masa depan hanya sebagai pencari pekerjaan.
Dengan kompetensi dan pemanfaatan teknologi yang tepat, generasi muda juga dapat menjadi pencipta peluang.
AI, dalam konteks tersebut, dapat digunakan untuk membantu meningkatkan produktivitas, mengembangkan gagasan, menyelesaikan persoalan, hingga membuka peluang usaha baru.
Namun, teknologi tetaplah alat. Kemampuan manusia untuk berpikir, berkreasi, mengambil keputusan, memahami persoalan, serta bertanggung jawab atas hasilnya tetap menjadi bagian penting.
Karena itu, tantangannya bukan memilih antara manusia atau AI, melainkan bagaimana manusia mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Kampus Tak Boleh Berjarak dari Dunia Kerja
Perubahan teknologi juga membawa tantangan bagi perguruan tinggi.
Kampus tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan teori dan ijazah. Ada kebutuhan agar pembelajaran memiliki keterhubungan yang lebih kuat dengan perkembangan dunia industri dan kebutuhan dunia kerja.
Afriansyah menilai perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan karakter, kompetensi, kemampuan beradaptasi, serta kewirausahaan.
Keterhubungan antara kampus dan dunia industri menjadi penting agar lulusan tidak memasuki dunia kerja dengan bekal yang tertinggal dari kebutuhan lapangan.
Dalam hal ini, pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, komunitas, dan media memiliki peran untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan yang mampu mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan.
Menyiapkan Manusia di Tengah Mesin
Kemnaker sendiri menjalankan berbagai program peningkatan kompetensi, antara lain Pelatihan Vokasi Nasional (PVN), Program Magang Nasional (MagangHub), Talent and Innovation Hub (TIH) Pembinaan Talenta Vokasi Indonesia, serta pelatihan melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan kompetensi dengan tantangan dunia kerja yang terus berkembang.
Namun, pada akhirnya teknologi tidak akan menentukan masa depan generasi muda sendirian.
Yang menentukan adalah bagaimana manusia meresponsnya.
AI dapat menggantikan sebagian pekerjaan, mengubah cara kerja, atau membuat sejumlah keterampilan lama tidak lagi cukup. Tetapi pada saat yang sama, teknologi juga membuka ruang bagi pekerjaan, inovasi, dan peluang baru.
Karena itu, pesan Wamenaker kepada generasi muda sesungguhnya sederhana jangan sibuk takut kehilangan pekerjaan karena AI, tetapi pastikan diri tidak kehilangan kesempatan karena gagal belajar menggunakannya.
Di tengah dunia kerja yang bergerak semakin cepat, kemampuan untuk terus belajar mungkin justru menjadi keterampilan yang paling penting.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Biro Humas Kemnaker,Diolah Redaksi










Komentar