Min.co.id | Majalengka – Di tengah rumah-rumah yang masih membutuhkan perbaikan, ada cara sederhana yang kembali dihidupkan: warga berdiri bersama, mengangkat genting, menurunkan material, dan bergotong royong membangun rumah tetangga.
Semangat itu yang coba dijaga Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Majalengka melalui program Revitalisasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Bukan hanya membenahi bangunan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi anggota Pramuka untuk hadir langsung di tengah masyarakat.
Program yang digagas Kwarcab Majalengka sejak momentum Hari Pramuka ke-62 pada 2023 itu kini telah menyentuh 20 titik dengan 22 rumah yang direhabilitasi. Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Majalengka.
Kegiatan itu berawal dari arahan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dalam momentum Perkemahan Wirakarya Nasional di Jambi dan peringatan Hari Pramuka ke-62 tahun 2023. Saat itu, Kwartir Nasional mendorong setiap Kwartir Cabang melakukan revitalisasi satu rumah tidak layak huni.
Kwarcab Majalengka kemudian mengembangkan gagasan tersebut dengan mencanangkan program satu rumah untuk setiap Kwartir Ranting (Kwarran).
Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Majalengka, Kak Eman Suherman, mengatakan kegiatan Rutilahu tidak ingin berhenti pada bantuan pembangunan rumah. Menurut dia, ada nilai sosial yang ingin dihidupkan kembali melalui keterlibatan anggota Pramuka dan masyarakat.
“Nah atas dasar itu kami di Pramuka ingin hadir mengawal sekaligus untuk berkolaborasi bersinergi dimana nantinya dari anggota Pramuka, per Kwarran, dari BAZNAS, dan masyarakat sekitar rumah yang di Rutilahu,” ujar Eman.
Ia mengatakan anggota Pramuka dilibatkan secara langsung dalam proses gotong royong pembangunan rumah bersama warga sekitar.
Bagi Eman, suasana tersebut mengingatkan pada tradisi masyarakat pada masa lalu ketika pembangunan rumah tetangga dilakukan secara bersama-sama.
“Gambaran suasana tempo dulu akan bangkit kembali, kita sudah pernah ikut membantu membangun rumah tetangga gotong royong, dimana disana ada makan bersama berdiri berjejer saling nerima bata atau genting,” ungkapnya.
Menurut dia, semangat tersebut sejalan dengan nilai yang terkandung dalam Trisatya dan Dasa Darma Pramuka.
Dari Satu Rumah Menjadi 22 Rumah
Sekretaris Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Majalengka, Kak Adam Suhara, mengatakan pelaksanaan program Rutilahu telah berlangsung di 20 lokasi dengan total 22 rumah yang direhabilitasi.
Ia menuturkan Eman juga kerap turun langsung ketika proses pembangunan dimulai. Kehadirannya bukan hanya dalam kapasitas sebagai pimpinan organisasi, tetapi ikut bekerja bersama anggota Pramuka dan masyarakat.
“Betul, dalam setiap kali memulai proses Rutilahu Kak Eman selalu menyempatkan waktu untuk bersama-sama dengan anggota Pramuka dan warga sekitar untuk melakukan gotong royong di area Rutilahu seperti menurunkan genting atau yang lainnya,” kata Adam.
Capaian tersebut kemudian mendapat perhatian dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Melalui Surat Keputusan Nomor 110 Tahun 2026, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menganugerahkan Lencana Karya Bakti kepada Drs. H. Eman Suherman, M.M., selaku Ketua Mabicab/Kwarcab Majalengka.
Lencana tersebut merupakan tanda penghargaan bagi anggota Gerakan Pramuka yang dinilai telah menunjukkan keikhlasan, pengorbanan, disiplin dan keberanian dalam keterlibatan langsung pada kegiatan sosial kemasyarakatan maupun kebencanaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan kepramukaan.
Ketua BAZNAS Kabupaten Majalengka, H. Agus Asri Sabana, S.Ag., M.Si., menilai penghargaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
“Kami bangga dapat menjadi bagian dari ikhtiar tersebut melalui program kolaborasi Rutilahu dengan Kwarcab Majalengka,” ujarnya.
Di balik penghargaan itu, ada cerita yang lebih sederhana tentang rumah-rumah yang diperbaiki dan warga yang kembali menemukan arti kebersamaan.
Bagi Kwarcab Majalengka, satu rumah mungkin hanya sebuah angka dalam laporan kegiatan. Namun bagi keluarga yang menempatinya, rumah yang menjadi lebih layak dapat berarti tempat tinggal yang lebih aman sekaligus harapan baru.
Dan bagi masyarakat yang ikut mengangkat bata, genting, maupun material bangunan lainnya, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa gotong royong tidak selalu harus dimulai dari program besar. Kadang, ia cukup dimulai dari rumah seorang tetangga yang membutuhkan uluran tangan.
Penulis: Taufik Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Humas Kwarcab Majalengka,Diolah Redaksi










Komentar