Min.co.id | Indramayu – Lapangan dan lingkungan SMKN 1 Losarang, Kabupaten Indramayu, Kamis (27/8/2026), berubah menjadi titik temu antara mereka yang sedang mencari pekerjaan dan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
Sejak pagi, pencari kerja dari berbagai wilayah Indramayu dan sekitarnya berdatangan. Mereka membawa satu harapan yang sama menemukan pintu masuk menuju dunia kerja.
Pemandangan tersebut menjadi bagian dari Job Fair 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) bersama Forum Bursa Kerja Khusus (BKK) Kabupaten Indramayu. Tahun ini, lokasi bursa kerja sengaja dipindahkan ke SMKN 1 Losarang, wilayah barat Indramayu, agar akses pencari kerja terhadap informasi dan peluang pekerjaan lebih dekat.
Lebih dari sekadar memindahkan lokasi kegiatan, pilihan tempat tersebut memperlihatkan upaya mendekatkan layanan ketenagakerjaan kepada masyarakat, terutama para pencari kerja yang selama ini harus menjangkau pusat pemerintahan untuk memperoleh informasi lowongan.
Antusiasme terlihat dari jumlah peserta yang mendaftar. Panitia mencatat sekitar 2.700 pencari kerja mengikuti Job Fair 2026 untuk memperebutkan 2.044 formasi pekerjaan yang ditawarkan oleh 39 perusahaan atau tenant.
Agar ribuan peserta tidak datang secara bersamaan dan menimbulkan kepadatan, penyelenggara menerapkan sistem hybrid, yakni perpaduan pendaftaran secara daring dan kehadiran langsung. Pelaksanaan juga dibagi selama dua hari dengan pembagian dua shift setiap harinya.
Kepala Disnaker Kabupaten Indramayu, Endang Ismiati, yang hadir mewakili Bupati Indramayu, mengatakan pola tersebut diterapkan untuk mengatur arus kedatangan pencari kerja.
“Dari sekitar 2.700-an pencari kerja, kami bagi pelaksanaannya menjadi dua hari, dimana setiap harinya dibagi kembali dalam dua shift. Dengan begitu tidak ada penumpukan massa di jam yang sama,” ujar Endang.
Lowongan yang tersedia tidak hanya menyasar pasar kerja dalam negeri. Sejumlah kesempatan kerja juga dibuka untuk penempatan di luar negeri dengan kualifikasi yang beragam.
Bagi pemerintah daerah, tantangan Job Fair bukan berhenti pada banyaknya peserta atau perusahaan yang membuka stan. Yang lebih penting adalah sejauh mana pertemuan tersebut menghasilkan penyerapan tenaga kerja.
Endang berharap pencari kerja dapat menemukan posisi yang sesuai dengan kemampuan dan harapan mereka. Di sisi lain, perusahaan diharapkan memperoleh tenaga kerja yang memenuhi kompetensi yang dibutuhkan.
“Mudah-mudahan para pencari kerja ini bisa mendapatkan formasi pekerjaan sesuai impiannya. Dari sisi perusahaan juga bisa mendapatkan karyawan yang memiliki kompetensi sesuai yang diharapkan,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan memiliki dua sisi. Pencari kerja membutuhkan kesempatan, sementara perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan yang sesuai.
Ketika keduanya tidak bertemu, lowongan bisa tetap tersedia sementara angka pencari kerja juga tetap tinggi.
Kehadiran Forum BKK dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting dari mata rantai pelayanan ketenagakerjaan.
Ketua Forum BKK Kabupaten Indramayu sekaligus Ketua BKK SMKN 1 Losarang, Deni Rhamadani, mengatakan keberadaan BKK memiliki posisi strategis dalam membantu mempertemukan lulusan dan pencari kerja dengan dunia usaha dan dunia industri.
“Posisi BKK ini merupakan kepanjangan tangan dari Disnaker dimana secara aturan bisa dijadikan tempat untuk perekrutan bahkan kontrak kerja, semisal acara job fair ini,” kata Deni.
Menurut Deni, kegiatan semacam Job Fair menjadi salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan pencari kerja, baik melalui mekanisme daring maupun luring.
Ia berharap kegiatan tersebut turut memberikan kontribusi terhadap upaya mengurangi pengangguran di Indramayu.
Pemilihan SMKN 1 Losarang sebagai lokasi kegiatan juga memberikan warna tersendiri. Sekolah yang selama ini menjadi ruang pendidikan vokasi, pada kesempatan tersebut menjadi tempat bertemunya keterampilan, kebutuhan industri dan harapan pencari kerja.
Ribuan pencari kerja datang dengan latar belakang dan kompetensi berbeda. Ada yang baru menyelesaikan pendidikan, ada pula yang tengah mencari peluang baru di tengah persaingan dunia kerja.
Di antara keramaian tersebut, persoalan yang dihadapi pencari kerja sesungguhnya sederhana: bagaimana mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan memberikan kepastian penghidupan.
Salah seorang peserta Job Fair menyambut positif kegiatan tersebut karena pencari kerja dapat memperoleh informasi dari sejumlah perusahaan dalam satu lokasi.
“Kegiatan seperti ini membantu karena kami bisa melihat langsung pilihan pekerjaan yang tersedia. Mudah-mudahan setelah mengikuti prosesnya ada kesempatan untuk diterima bekerja,” ungkapnya.
Job Fair 2026 akhirnya bukan hanya tentang stan perusahaan, antrean pencari kerja atau jumlah formulir lamaran yang masuk.
Ukuran yang lebih penting justru baru terlihat setelah kegiatan selesai: berapa banyak pencari kerja yang benar-benar mendapatkan pekerjaan.
Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap lapangan pekerjaan, pemerintah, dunia pendidikan dan perusahaan memiliki pekerjaan rumah yang sama, yakni mempertemukan kompetensi dengan kebutuhan industri.
Job Fair dapat menjadi pintu awal. Namun, perjalanan menuju pekerjaan tetap membutuhkan proses seleksi, peningkatan kompetensi dan kesesuaian antara kebutuhan perusahaan dengan kemampuan pencari kerja.
Dari Losarang, ribuan orang datang membawa CV, ijazah dan harapan. Sebagian mungkin akan pulang dengan panggilan tahap berikutnya. Sebagian lainnya masih harus mencoba lagi.
Namun setidaknya, Job Fair 2026 membuka satu ruang pertemuan: antara mereka yang membutuhkan pekerjaan dan mereka yang menyediakan kesempatan.
Dan bagi para pencari kerja, satu kesempatan yang terbuka bisa menjadi awal dari perubahan kehidupan.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan wawancara langsung di lokasi kegiatan










Komentar