Di Cipasung, Obrolan Polisi dan Ulama Tak Berhenti di Meja Silaturahmi

Min.co.id | Tasikmalaya – Sore di Pondok Pesantren Cipasung, Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (15/8/2026), berlangsung dalam suasana yang lebih akrab dari biasanya. Jajaran Polda Jawa Barat datang bukan untuk sebuah seremoni besar, melainkan bertemu dan berbincang dengan pengelola pesantren sebagai bagian dari upaya menjaga komunikasi antara polisi dan ulama.

Wakapolda Jawa Barat Brigjen Pol Adi Vivid Agustiadi Bachtiar tiba sekitar pukul 16.00 WIB. Kedatangannya disambut Kapolres Tasikmalaya AKBP Ade Papa Rihi bersama Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung, K.H. Ubaidillah Ruhiat.

Pertemuan kemudian berlangsung dalam suasana ramah tamah. Sejumlah pejabat Polda Jabar turut mendampingi, di antaranya Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan, Kabidkum Polda Jabar Kombes Pol Nurhadi Handayani, Dir Tahti Polda Jabar AKBP Widodo, serta Danyon D Satbrimob Polda Jabar Kompol Ajang Suhendar.

Di sela pertemuan, Wakapolda menyerahkan bantuan sembako berupa 250 kilogram beras kepada Pondok Pesantren Cipasung.

Bantuan tersebut menjadi bagian kecil dari rangkaian kunjungan. Yang lebih menonjol justru kesempatan untuk membuka percakapan secara langsung antara kepolisian dan lingkungan pesantren.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan hubungan dengan tokoh agama perlu terus dipelihara karena ulama dan pesantren memiliki kedekatan dengan masyarakat.

“Silaturahmi Kamtibmas ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara Polri dan ulama dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat di wilayah Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya,” ujar Hendra, Minggu (16/8/2026).

Menurut Hendra, keterlibatan ulama dan pondok pesantren memiliki arti penting dalam menciptakan suasana masyarakat yang kondusif. Komunikasi yang terbangun diharapkan dapat menjadi ruang bertukar pandangan mengenai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Bagi pesantren, kehadiran aparat kepolisian juga membuka ruang untuk membangun hubungan yang tidak semata-mata bertemu ketika terjadi persoalan keamanan. Silaturahmi menjadi cara untuk menjaga komunikasi sebelum berbagai persoalan muncul di tengah masyarakat.

Di Cipasung, pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Tidak ada panggung besar atau rangkaian acara panjang. Pertemuan diisi dengan ramah tamah, komunikasi, serta penyerahan bantuan kepada pihak pesantren.

Kunjungan itu kemudian berakhir dengan tertib. Namun, bagi kedua pihak, pertemuan semacam ini memiliki pekerjaan lanjutan yang lebih penting: menjaga komunikasi tetap terbuka.

Sebab, keamanan dan ketertiban masyarakat tidak hanya dibangun melalui kehadiran polisi di lapangan. Ada pula peran tokoh agama, pesantren, dan masyarakat yang ikut membentuk suasana sosial di lingkungannya.

Dari Cipasung, silaturahmi tersebut meninggalkan pesan sederhana: ketika polisi dan ulama duduk bersama, yang dibangun bukan hanya hubungan kelembagaan, tetapi juga jembatan komunikasi untuk menjaga masyarakat tetap aman dan kondusif.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber:Bid Humas Polda Jabar,diolah redaksi

Komentar

News Feed