Ijazah Tak Lagi Cukup, Menaker Dorong Lulusan Siapkan “Tiga Bekal” Hadapi Dunia Kerja

Min.co.id | Jakarta – Lulusan perguruan tinggi diingatkan untuk tidak lagi bergantung pada ijazah semata saat memasuki dunia kerja. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai, perubahan cepat di dunia industri menuntut kesiapan yang lebih dari sekadar latar belakang akademik.

Pesan itu ia sampaikan saat memberikan orasi ilmiah dalam wisuda di Universitas Paramadina, Sabtu (25/4/2026). Di hadapan para wisudawan, ia menggambarkan bagaimana peta pekerjaan terus berubah dalam dua dekade terakhir.

Menurut dia, banyak jenis pekerjaan yang kini ada bahkan belum dikenal sebelumnya. Perubahan ini diperkirakan akan terus berlangsung, seiring perkembangan teknologi yang makin cepat, termasuk kehadiran kecerdasan buatan.

“Dunia kerja tidak lagi sama seperti dulu. Perubahan berjalan cepat, dan kita harus siap mengikutinya,” ujarnya.

Ia menyoroti masih adanya kesenjangan keterampilan digital di Indonesia. Hingga saat ini, jumlah tenaga kerja dengan kemampuan digital dinilai belum sebanding dengan kebutuhan industri yang terus meningkat.

Namun di balik tantangan tersebut, ia melihat munculnya peluang baru di berbagai sektor, mulai dari ekonomi digital, ekonomi hijau, hingga layanan berbasis perawatan.

Untuk menjawab perubahan itu, ia memperkenalkan konsep “Triple Readiness” atau tiga kesiapan yang dinilai penting dimiliki lulusan.

Pertama, kesiapan keterampilan teknis. Lulusan didorong untuk menguasai kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri, termasuk keterampilan digital lanjutan. Ia mengingatkan, kemampuan dasar seperti penggunaan media sosial tidak lagi cukup untuk memenuhi standar dunia kerja.

Kedua, kesiapan keterampilan manusia. Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, kemampuan seperti berpikir kritis, empati, kepemimpinan, dan kreativitas justru menjadi pembeda.

“Teknologi tetap membutuhkan manusia untuk memahami konteks dan mengambil keputusan,” katanya.

Ketiga, kesiapan memasuki dunia kerja. Ia menilai lulusan perlu memahami bagaimana industri bekerja, termasuk menyiapkan portofolio, pengalaman magang, hingga sertifikasi sebagai bukti kemampuan.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung meningkatnya kebutuhan terhadap keterampilan terkait kecerdasan buatan. Sejumlah perusahaan kini mulai menjadikan kemampuan tersebut sebagai salah satu pertimbangan dalam proses rekrutmen.

“Yang dilihat sekarang bukan lagi sekadar asal kampus, tapi kemampuan yang benar-benar bisa ditunjukkan,” ujarnya.

Di bagian akhir, pemerintah disebut terus memperluas akses pelatihan melalui balai vokasi yang tersebar di berbagai daerah. Program peningkatan dan pembaruan keterampilan diharapkan bisa membantu tenaga kerja beradaptasi dengan perubahan yang terus berlangsung.

Ia pun mengingatkan para lulusan untuk terus belajar, bahkan setelah menyelesaikan pendidikan formal.

“Jangan berhenti di ijazah. Dunia kerja akan terus berubah, dan kita harus siap belajar sepanjang jalan,” katanya.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Rilis Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan RI  (diolah Redaksi)

Komentar

News Feed