Ketika Biaya Membatasi Mimpi, Riyan Saputra Memilih Membuka Jalan

JAKARTA | Tidak semua mimpi kandas karena kurangnya kemampuan. Terkadang, mimpi berhenti hanya karena satu hal biaya.

Itulah kenyataan yang pernah dihadapi Riyan Saputra. Jauh sebelum namanya dikenal sebagai model, ia hanyalah seorang siswa yang berjuang mempelajari bahasa Jepang dengan biaya pendidikan mencapai Rp12 juta per semester—angka yang bagi banyak keluarga bukan sekadar besar, melainkan memberatkan.

Namun yang paling membekas dalam ingatannya bukanlah nominal yang ia bayarkan, melainkan wajah-wajah teman seperjuangan yang terpaksa berhenti. Mereka cerdas. Mereka tekun. Mereka punya semangat. Tapi keadaan berkata lain.

“Banyak yang sebenarnya punya potensi besar. Tapi karena biaya mahal, mereka menyerah bukan karena tidak mampu, melainkan karena keadaan,” kenang Riyan.

Pengalaman itu tidak hilang begitu saja. Ia menyimpannya sebagai pengingat bahwa kesempatan tidak selalu datang merata bagi semua orang. Hingga akhirnya, di tahun 2026, ia memutuskan melakukan sesuatu yang mungkin sederhana, tetapi berarti besar: membuka kelas bahasa Jepang gratis secara online untuk siapa saja, tanpa batasan usia.

Kelas ini akan dimulai pada 14 Februari 2026 dan digelar rutin setiap Sabtu pukul 19.00–20.00 WIB. Seluruh materi dibagikan melalui grup WhatsApp khusus peserta, sehingga siapa pun dari berbagai daerah bisa ikut belajar tanpa perlu memikirkan biaya transportasi atau pendaftaran.

Pada pertemuan pertama, Riyan akan memperkenalkan huruf hiragana sebagai fondasi, dilanjutkan dengan katakana dan kanji secara bertahap. Namun baginya, yang ia bagikan bukan sekadar huruf dan tata bahasa.

Ia ingin membagikan harapan. “Bahasa Jepang itu bukan cuma soal bisa membaca atau berbicara. Ini soal membuka pintu kesempatan,” ujarnya.

Kesempatan untuk bekerja di perusahaan Jepang. Kesempatan untuk merantau dan berkarier di luar negeri. Kesempatan untuk meningkatkan nilai diri di tengah persaingan global.

Riyan menegaskan bahwa kelas ini bukan proyek pencitraan, melainkan bentuk tanggung jawab moral dari seseorang yang pernah merasakan mahalnya akses pendidikan. Ia ingin memastikan, setidaknya ada satu ruang belajar yang tidak mematok harga bagi mimpi.

Jika respons masyarakat positif, ia bahkan berencana membuka kelas bahasa Inggris gratis dengan konsep serupa.

“Saya ingin ilmu ini benar-benar bermanfaat. Kalau dari kelas ini ada yang berhasil mendapatkan pekerjaan lebih baik atau berani mengejar peluang ke luar negeri, itu sudah cukup bagi saya,” tuturnya.

Pendaftaran kelas dapat dilakukan melalui:
https://bit.ly/BahasaJepangWithRiyanSaputra

Kadang perubahan tidak dimulai dari panggung besar atau sorotan kamera.
Kadang perubahan lahir dari pengalaman pribadi, satu jam waktu yang dibagikan, dan satu niat tulus untuk membuka jalan bagi orang lain. (*)

Komentar

News Feed