Di Rumah Duka Remy Suryadi, Ucapan Belasungkawa Datang di Tengah Kehilangan Sang Ibu

Min.co.id | Bandung — Rumah duka menjadi tempat orang-orang datang membawa satu hal yang sama doa. Rabu (7/10/2026), suasana duka menyelimuti keluarga jurnalis senior Harian Koran Gala, Remy Suryadi, setelah sang ibu, Hj. Aan Sutriana binti Ebey Sukarya, meninggal dunia.

Di tengah suasana kehilangan itu, Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol. Hendra Rochmawan, S.I.K., M.H., datang bertakziah secara langsung. Kehadirannya bukan untuk membicarakan pekerjaan, melainkan menyampaikan belasungkawa kepada Remy dan keluarga yang sedang menghadapi kehilangan orang terdekat.

Hendra menyampaikan doa agar almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Ia juga mendoakan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.

“Atas nama pribadi dan seluruh keluarga besar Bidang Humas Polda Jawa Barat, kami memanjatkan doa terbaik agar Almarhumah Hj. Aan Sutriana diampuni segala dosa dan kekhilafannya, diterima seluruh amal ibadahnya, serta mendapat tempat terbaik dan mulia di sisi Allah SWT,” ujar Hendra.

Kehilangan Seorang Ibu

Bagi Remy Suryadi dan keluarganya, kepergian seorang ibu tentu bukan sekadar kabar duka. Sosok ibu selama ini menjadi bagian dari kehidupan keluarga, tempat pulang, sekaligus sumber doa bagi anak-anaknya.

Karena itu, takziah menjadi lebih dari sekadar datang dan menyampaikan ucapan belasungkawa. Di tengah kehilangan, kehadiran orang lain dapat menjadi pengingat bahwa keluarga yang sedang berduka tidak menghadapi semuanya seorang diri.

Hendra juga mendoakan agar Remy beserta keluarga diberikan keikhlasan dalam menerima kepergian almarhumah.

Doa untuk orang yang telah meninggal dan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan menjadi bagian utama dari pertemuan tersebut.

Ketika Pekerjaan Berhenti Sejenak

Remy dikenal sebagai jurnalis senior di Jawa Barat. Dalam kesehariannya, hubungan antara wartawan dan kepolisian banyak berlangsung dalam urusan pekerjaan mulai dari mencari informasi, melakukan konfirmasi hingga menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Namun di rumah duka, batas pekerjaan itu sejenak tidak menjadi perhatian.Yang tersisa adalah hubungan antarmanusia.

Kehadiran Hendra menunjukkan bahwa komunikasi yang selama ini berlangsung dalam konteks tugas jurnalistik juga dapat menemukan ruang lain ketika seorang wartawan sedang menghadapi persoalan keluarga.

Bagi insan pers, kehilangan orang tua merupakan masa yang tidak mudah. Di saat seperti itu, ucapan duka dan doa sering kali jauh lebih berarti dibanding pembicaraan mengenai pekerjaan.

Doa untuk Almarhumah, Kekuatan untuk Keluarga

Kepergian Hj. Aan Sutriana meninggalkan ruang kosong bagi keluarga. Namun bagi mereka yang datang bertakziah, ada satu hal yang dapat diberikan doa dan dukungan moral.

Hendra berharap keluarga Remy dapat melewati masa duka tersebut dengan ketabahan dan keikhlasan.

Takziah itu pun berlangsung sederhana. Tidak ada yang lebih penting selain menyampaikan penghormatan terakhir dan mendoakan almarhumah.

Pada akhirnya, kabar duka mengingatkan bahwa di balik profesi dan jabatan, setiap orang memiliki keluarga, memiliki orang tua, dan pada waktunya akan menghadapi kehilangan.

Dari rumah duka Remy Suryadi, pesan itu terasa sederhana ketika seseorang sedang kehilangan, terkadang kehadiran dan doa adalah bentuk kepedulian yang paling berarti.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Bid Humas Polda Jabar,Diolah Redaksi

Komentar

News Feed