Pantai Sumber Mas Jaya Tak Hanya Soal Wisata, Mangrove dan Jalan Rusak Menunggu Perhatian

Min.co.id | Indramayu — Hamparan mangrove di pesisir Pantai Sumber Mas Jaya, Desa Ilir, Kecamatan Kandanghaur, mungkin terlihat sederhana dari kejauhan. Namun bagi Wartam, kawasan hijau itu menyimpan perjalanan puluhan tahun yang tidak mudah.

Sejak sekitar 1990, ia ikut merawat penghijauan di kawasan tersebut ketika sebagian lahan masih gundul. Kini, tanaman mangrove yang dulu ditanam bersama bibit waru telah tumbuh dan menjadi bagian dari benteng hijau yang menjaga pesisir.

Di tengah geliat wisata Pantai Sumber Mas Jaya, yang sebelumnya dikenal sebagai Pantai Panjiwa, Wartam justru mengingatkan satu hal: kawasan ini jangan sampai ramai dikunjungi tetapi kehilangan fungsi mangrovenya.

“Kalau ada lahan yang kritis, kami lanjut menanam. Bibitnya juga harus disiapkan sendiri,” tutur Wartam saat ditemui wartawan Min.co.id, Minggu (4/10/2026).

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Lestari Desa Ilir itu masih terlibat dalam penanaman di sejumlah titik yang dinilai kritis.

Baginya, menanam mangrove bukan pekerjaan sekali selesai. Bibit harus tersedia, tanaman harus dirawat, sementara kawasan yang rusak perlu kembali dihijaukan.

Pernah Rusak, Kini Berusaha Dipertahankan

Wartam mengingat sebagian kawasan mangrove di wilayah tersebut pernah mengalami kerusakan akibat penebangan dan perubahan pemanfaatan lahan.

Menurut perkiraannya, luas kawasan yang pernah terdampak mencapai puluhan hektare.

Pengalaman itu membuatnya melihat mangrove bukan sekadar tanaman di pinggir pantai. Vegetasi tersebut memiliki fungsi ekologis sebagai bagian dari sabuk hijau pesisir, membantu mengurangi ancaman abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota perairan.

Karena itu, menurut Wartam, pengembangan wisata harus memiliki batas yang jelas.

Aktivitas wisata boleh berkembang, tetapi fasilitas seperti warung dan bangunan usaha perlu ditata agar tidak mengorbankan kawasan mangrove.

Di sinilah persoalan Pantai Sumber Mas Jaya menjadi lebih dari sekadar cerita tentang destinasi wisata.

Ada dua kepentingan yang harus berjalan bersamaan: mendatangkan pengunjung dan menjaga kawasan yang menjadi pelindung pesisir.

Jalan Licin Saat Hujan, Penerangan Juga Dibutuhkan

Persoalan lain justru berada di akses menuju kawasan wisata.

Wartam menyebut kondisi jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer masih membutuhkan pengerasan. Saat hujan turun, permukaan jalan menjadi licin dan berpotensi menyulitkan masyarakat maupun wisatawan yang melintas.

“Kalau hujan, jalannya licin dan masyarakat bisa terpeleset. Saya mohon ada pengerasan jalan. Selain itu, penerangan jalan juga sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Bagi pengelola, jalan bukan sekadar fasilitas pendukung wisata. Akses yang baik menyangkut keselamatan pengunjung sekaligus aktivitas masyarakat sekitar.

Ia juga berharap rencana penerangan jalan umum (PJU) yang sebelumnya pernah disampaikan kepadanya dapat segera direalisasikan.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika jumlah kunjungan meningkat. Sebab, wisata tidak hanya membutuhkan pemandangan yang menarik, tetapi juga akses yang aman dan layak.

Tiket Rp5 Ribu, Penghasilan Bergantung Ramainya Pengunjung

Dari sisi ekonomi, pengelolaan Pantai Sumber Mas Jaya masih bertumpu pada pemasukan dari pengunjung.

Tiket masuk dipatok Rp5.000 per orang, sementara parkir sepeda motor juga Rp5.000 per unit.

Pada hari biasa, pendapatan disebut berada di kisaran Rp700.000. Ketika kunjungan ramai, pemasukan bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta.

Namun angka tersebut bukan keuntungan bersih. Pemasukan masih harus digunakan untuk biaya operasional dan pemeliharaan kawasan.

Wartam juga menyebut pengelolaan wisata telah disertai pembayaran pajak kepada pemerintah daerah. Dalam 15 bulan terakhir, setoran yang disebutkannya sekitar Rp2,5 juta per bulan, turun dari sebelumnya sekitar Rp3,5 juta per bulan.

Artinya, ketika wisata berkembang, ada pula kewajiban dan biaya yang harus dipikul pengelola.

Wisata Tak Cukup Hanya Ramai

Bagi Wartam, ukuran keberhasilan wisata bukan semata-mata jumlah pengunjung.

Ia ingin keberadaan Pantai Sumber Mas Jaya ikut memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Sebagian hasil pengelolaan, menurutnya, diupayakan untuk mendukung kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk membantu kebutuhan transportasi warga dalam kegiatan tertentu.

Karena itu, ia tidak ingin pengembangan wisata justru membuat kawasan mangrove terdesak.

Pantai boleh semakin ramai. Warung boleh tumbuh. Pengunjung boleh terus berdatangan. Tetapi kawasan hijau yang selama puluhan tahun dirawat, menurutnya, tetap harus memiliki ruang untuk bertahan.

Menunggu Dukungan yang Bisa Dilihat

Harapan Wartam kini diarahkan kepada pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Yang ia minta bukan hanya perhatian dalam bentuk wacana, tetapi dukungan yang bisa dirasakan langsung: pengerasan jalan sekitar dua kilometer, penerangan jalan, serta perlindungan kawasan mangrove dari penebangan dan perubahan fungsi lahan.

Ia berharap pemerintah, pengelola wisata dan masyarakat memiliki pembagian peran yang jelas.

Sebab, jika wisata berkembang tanpa perlindungan lingkungan, keuntungan jangka pendek bisa berhadapan dengan persoalan pesisir di kemudian hari.

Sebaliknya, konservasi tanpa akses dan aktivitas ekonomi juga sulit memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

Wartam berharap keduanya bisa berjalan bersama.

“Mohon diperhatikan, dilindungi dan dibantu dibesarkan,” ujarnya.

Di Pantai Sumber Mas Jaya, persoalannya akhirnya bukan sekadar bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan. Tantangannya adalah bagaimana membuat kawasan itu tetap hidup sebagai tempat rekreasi sekaligus mempertahankan mangrove yang selama puluhan tahun menjadi benteng hijau pesisir Indramayu. ( Wiwin Hidayat/red)

 

Komentar

News Feed