Dari Kolam Desa ke Podium Kejurnas, Langkah Kecil Afifa Fitiya

Min.co.id | Indramayu — Medali itu mungkin hanya benda kecil yang tergantung di dinding kamar. Namun bagi Afifa Fitiya, medali tersebut menjadi penanda dari perjalanan yang dimulai sejak usia delapan tahun dari belajar menguasai air hingga berani bersaing di arena kejuaraan tingkat nasional.

Afifa kini berusia 11 tahun. Siswi kelas V SDN 2 Manggungan, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, itu mulai menunjukkan hasil dari latihan yang dijalaninya bersama Club Bina Tunas Bangsa (BTB).

Terbaru, Afifa berhasil meraih medali juara ketiga pada Cirebon Finswimming Open Tournament yang berlangsung 11–13 September 2026. Ia turun dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) selam antarklub yang diikuti sekitar 200 klub dari berbagai wilayah Indonesia.

Afifa meraih posisi ketiga pada kategori Mixed 10–11 200 Bifins Relay dengan catatan waktu 2 menit 17,55 detik.

Bagi anak seusianya, memasuki arena pertandingan bukan sekadar soal siapa yang menjadi juara. Ada konsentrasi yang harus dijaga, keberanian menghadapi lawan dari berbagai daerah, serta kemampuan untuk tetap mengikuti strategi dan arahan pelatih ketika perlombaan dimulai.

Namun, podium di Cirebon bukanlah hasil yang muncul tiba-tiba.

Beberapa waktu sebelumnya, Afifa lebih dulu mencatat prestasi pada Series 3 Kabupaten Sumedang, 25 Juli 2026. Dalam Grand Prix Kejuaraan Renang Terbesar 5 Kota yang melibatkan peserta dari Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Subang dan Kota Bandung, Afifa menjadi juara pertama kategori 50 meter Gaya Punggung Fins dengan catatan waktu 45,05 detik.

Dua pencapaian itu menjadi bagian dari perjalanan Afifa yang sebenarnya baru dimulai.

Berawal dari Mencari Bakat

Ayah Afifa, Sunoto, mengatakan putrinya mulai belajar berenang ketika berusia sekitar delapan tahun.

Sebelum memilih renang, keluarga sempat mencoba berbagai bidang untuk melihat minat dan potensi Afifa. Ketika kemampuan dan ketertarikannya terhadap olahraga air mulai terlihat, dukungan keluarga kemudian diarahkan lebih serius ke cabang tersebut.

“Anak saya mulai belajar renang saat sekitar umur 8 tahunan. Sebelumnya berbagai bidang pernah dicoba untuk tahu bakat anak. Akhirnya setelah tahu di olahraga renang, maka saya dukung dan fokuskan secara penuh,” kata Sunoto.

Sejak saat itu, latihan menjadi bagian dari keseharian Afifa.

Bersama Club Bina Tunas Bangsa, ia menjalani proses latihan secara bertahap. Tubuhnya yang masih dalam masa pertumbuhan harus beradaptasi dengan intensitas latihan, sementara di sisi lain ia juga tetap menjalani rutinitas sebagai seorang pelajar.

Di usia tersebut, konsistensi bukan sesuatu yang selalu mudah.

Ada rasa lelah, kejenuhan dan berbagai hal yang bisa membuat anak seusianya kehilangan minat. Karena itu, Sunoto tidak hanya melihat hasil pertandingan sebagai ukuran keberhasilan.

Baginya, kemampuan Afifa bertahan dalam proses latihan justru menjadi bagian yang paling berarti.

“Bangga sih, apalagi bisa mendapatkan medali juara. Selain itu, proses panjang dalam menjalani latihan itu lebih penting. Kebanyakan kalau anak masih seumuran segitu biasanya cepat bosan,” ujarnya.

Medali yang Tak Berdiri Sendiri

Ketika nama Afifa dipanggil sebagai pemenang, yang terlihat mungkin hanya seorang anak yang berdiri di podium dengan medali di lehernya.

Tetapi ada banyak hal yang terjadi sebelum momen tersebut.

Ada orang tua yang mengantar dan mendampingi, pelatih yang menyusun latihan, klub yang menjadi tempat pembinaan, serta kebutuhan pertandingan yang harus dipersiapkan.

Dukungan keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Afifa.

Sunoto mengatakan keluarga akan terus memberikan dukungan terhadap minat dan prestasi putrinya.

“Sebagai orang tua, tentunya akan mendukung penuh perjalanan karier dan prestasi anak. Kita kan sudah tua, semua yang kita punya untuk siapa lagi kalau bukan untuk anak,” katanya.

Dukungan tersebut menjadi penting karena perjalanan atlet usia dini tidak berhenti ketika satu medali berhasil diraih.

Justru setelah podium, tantangan berikutnya menunggu.

Latihan harus terus berjalan. Kemampuan perlu ditingkatkan. Pengalaman bertanding harus diperbanyak. Dan ketika persaingan semakin tinggi, kebutuhan terhadap pembinaan yang lebih terarah juga ikut meningkat.

Jangan Berhenti di Satu Medali

Kisah Afifa memperlihatkan bagaimana potensi seorang anak dapat tumbuh melalui proses yang panjang.

Ia memulai dari belajar berenang saat berusia delapan tahun. Tiga tahun kemudian, ia sudah berani membawa nama klub dan daerah dalam kompetisi yang mempertemukannya dengan peserta dari berbagai wilayah Indonesia.

Perjalanan itu masih terlalu dini untuk disebut sebagai sebuah pencapaian akhir.

Afifa baru berusia 11 tahun.

Karena itu, perhatian terhadap atlet usia dini menjadi penting bukan hanya ketika mereka berhasil meraih medali, tetapi sejak mereka mulai berlatih dan menunjukkan potensi.

Pembinaan, keberadaan pelatih, fasilitas latihan, dukungan klub, serta kesempatan mengikuti kompetisi menjadi bagian dari perjalanan yang menentukan bagaimana potensi tersebut berkembang.

Di tingkat daerah, keberadaan anak-anak seperti Afifa juga menjadi pengingat bahwa bibit olahraga tidak selalu muncul dari tempat dengan fasilitas besar.

Kadang, ia tumbuh dari lingkungan sederhana, dari latihan yang dilakukan berulang kali, dari dukungan orang tua dan dari kemauan seorang anak untuk terus mencoba.

Medali yang tergantung di dinding kamar Afifa mungkin baru satu bagian kecil dari perjalanan itu.

Dari kolam latihan hingga podium Kejurnas, langkahnya masih panjang.

Dan untuk seorang anak berusia 11 tahun, mungkin memang bukan medali yang paling penting.

Yang lebih penting adalah memastikan langkah kecil itu tidak berhenti ketika tepuk tangan podium telah usai.

Pada Series 3 Kabupaten Sumedang yang berlangsung 25 Juli 2026, Afifa tampil dalam Grand Prix Kejuaraan Renang Terbesar 5 Kota yang melibatkan peserta dari Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Subang dan Kota Bandung.

Ia meraih juara pertama kategori 50 meter Gaya Punggung Fins dengan catatan waktu 45,05 detik.

Dua bulan kemudian, tantangannya menjadi lebih besar.

Dalam Cirebon Finswimming Open Tournament pada 11–13 September 2026, Afifa tampil pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) selam antarklub yang diikuti sekitar 200 klub dari berbagai wilayah Indonesia.

Kali ini, ia membawa pulang medali juara ketiga kategori Mixed 10–11 200 Bifins Relay dengan catatan waktu 2 menit 17,55 detik.

Podium itu menjadi pengalaman lain bagi Afifa. Ia berhadapan dengan atlet seusianya dari berbagai daerah, sekaligus membawa nama klub dan daerah dalam sebuah kompetisi berskala nasional.

Namun, bagi Sunoto, medali bukan satu-satunya ukuran keberhasilan putrinya.

Ia justru melihat ada proses yang jauh lebih penting di balik setiap hasil pertandingan: kemampuan anak untuk bertahan menjalani latihan dan tidak mudah menyerah.

“Bangga sih, apalagi bisa mendapatkan medali juara. Selain itu, proses panjang dalam menjalani latihan itu lebih penting. Kebanyakan kalau anak masih seumuran segitu biasanya cepat bosan,” ujar Sunoto.

Kalimat itu menggambarkan tantangan atlet usia dini yang sering luput dari perhatian.

Ketika seorang anak berdiri di podium, yang terlihat adalah medali dan foto kemenangan. Yang jarang terlihat adalah rutinitas sebelum pertandingan, pendampingan orang tua, kebutuhan latihan dan berbagai persiapan yang harus dilakukan jauh sebelum perlombaan dimulai.

Sunoto mengatakan keluarganya akan terus mendukung perjalanan Afifa.

“Sebagai orang tua, tentunya akan mendukung penuh perjalanan karier dan prestasi anak. Kita kan sudah tua, semua yang kita punya untuk siapa lagi kalau bukan untuk anak,” katanya.

Bagi Afifa, perjalanan itu masih panjang. Usianya baru 11 tahun dan dua medali yang diraihnya belum menjadi garis akhir.

Justru dari titik inilah pembinaan menjadi penting.

Potensi atlet muda seperti Afifa tidak cukup hanya ditemukan ketika berhasil meraih juara. Mereka membutuhkan latihan yang berkelanjutan, pelatih yang membimbing, klub yang menjadi tempat berkembang serta kesempatan bertanding untuk menambah pengalaman.

Dukungan pemerintah daerah juga menjadi bagian penting agar pembinaan tidak berhenti pada pencapaian sesaat.

Sebab, setelah satu medali diraih, ada latihan berikutnya. Setelah satu kejuaraan selesai, ada arena lain yang menunggu.

Afifa mungkin masih terlalu muda untuk memikirkan sejauh apa perjalanan kariernya. Namun, keberaniannya masuk arena pertandingan dan bersaing dengan atlet dari berbagai daerah menunjukkan bahwa bibit prestasi bisa tumbuh dari tempat yang sederhana.

Medali di dinding kamar itu bukan akhir cerita.

Ia justru menjadi tanda bahwa seorang anak dari Manggungan sedang memulai perjalanan yang jauh lebih panjang.

Penulis: Wiwin Hidayat 
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara Langsung

Komentar

News Feed