Min.co.id | Indramayu – Tidak ada pelatih khusus di awal perjalanannya. Tidak pula menu diet mahal atau fasilitas latihan yang serba lengkap. Namun, dari keterbatasan itulah Indra Gustiar, 17 tahun, perlahan membangun tubuh, disiplin dan keberaniannya untuk masuk ke dunia kompetisi bodybuilding.
Pelajar kelas XII SMKN 1 Cikedung asal Desa Cibereng, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, itu kini mulai mengenal podium setelah tiga tahun menekuni fitness secara autodidak.
Indra pertama kali mengenal latihan fitness ketika berusia 14 tahun. Awalnya sederhana: ingin memiliki tubuh yang kuat dan sehat. Ketika perubahan fisiknya mulai terlihat, keinginan itu berkembang menjadi tekad untuk mencoba kompetisi.
“Awalnya sih, pengen punya badan yang kuat, kekar, sehat. Tapi setelah melihat hasilnya bagus, saya mulai memberanikan diri untuk lebih fokus ke arah kompetisi,” kata Indra saat ditemui di rumahnya, Kamis (17/9/2026).
Keputusan tersebut perlahan membawanya ke sejumlah panggung kompetisi.
Dalam sebuah event di Vivo Mall Bogor, Indra meraih juara kelima kategori Super Beginner. Pada kompetisi di Bandung awal 2026, ia kembali menempati posisi kelima kategori Chopper Men Beginner.
Hasil terbaiknya datang pada FINAFLEX RAGAVAGANZA 2026 di Bandung, 24–25 Juli 2026. Indra berhasil menjadi juara pertama kategori Men’s Beginners U23.
Ia juga mencatat posisi keenam pada kategori Overall Beginner dan posisi kedelapan kategori Men Beginner Up to 170 cm.
Belajar dari Keterbatasan
Tidak banyak pilihan yang bisa diambil Indra sebagai pelajar ketika harus memenuhi kebutuhan latihan dan nutrisi.
Alih-alih mengejar pola makan yang mahal, ia menyesuaikan asupan dengan kemampuan. Telur dan dada ayam menjadi pilihan sumber protein yang relatif terjangkau. Untuk karbohidrat, ia mengandalkan nasi, kentang dan ubi-ubian.
“Soal pola makan, standar diet orang nge-gym saja. Sumber proteinnya cari yang ramah di kantong pelajar seperti dada ayam dan telur. Karbohidratnya dari nasi, kentang, atau ubi-ubian,” ujarnya.
Latihan pun dijalani dengan banyak belajar secara mandiri. Dari sana, Indra membangun rutinitas yang kemudian menjadi bagian dari kesehariannya.
Tetapi semakin tinggi target yang ingin dicapai, semakin besar pula kebutuhan yang harus dipenuhi.
Latihan yang lebih terarah, pendampingan pelatih, fasilitas, nutrisi, biaya perjalanan dan kesempatan mengikuti kompetisi menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan atlet.
Bagi pelajar seperti Indra, kebutuhan tersebut tentu tidak selalu mudah dipenuhi sendiri.
Bukan Hanya Soal Medali
Prestasi Indra sekaligus memperlihatkan bahwa potensi atlet muda bisa muncul dari tempat yang jauh dari sorotan.
Ia mulai berlatih ketika belum dikenal sebagai atlet. Kompetisi pertama yang diikuti pun bukan langsung menghasilkan podium tertinggi. Ada proses mencoba, kalah, memperbaiki diri, lalu kembali bertanding.
Di titik inilah pembinaan menjadi penting.
Seorang atlet tidak selalu terlihat sebagai “calon juara” ketika pertama kali memulai latihan. Potensinya bisa baru tampak setelah mendapatkan kesempatan berlatih secara konsisten dan bertemu dengan kompetisi yang sesuai.
Karena itu, pendataan atlet muda, akses fasilitas latihan, pelatih, kompetisi serta dukungan pembinaan menjadi bagian penting jika potensi olahraga di daerah ingin dikembangkan secara berkelanjutan.
Kisah Indra juga memperlihatkan persoalan lain: seberapa banyak anak muda berbakat yang sebenarnya sedang berlatih, tetapi belum pernah sampai ke panggung kompetisi?
Pertanyaan itu penting karena medali hanya menunjukkan mereka yang sudah berhasil mencapai garis akhir sebuah kompetisi. Sementara di belakangnya terdapat banyak anak muda yang mungkin masih berada pada tahap awal perjalanan.
Masih Ingin Naik Podium
Bagi Indra, kemenangan di Bandung belum membuat perjalanan selesai.
Ia masih ingin meningkatkan kualitas latihan dan mengejar prestasi berikutnya. Di saat yang sama, ia berharap semakin banyak anak muda yang memiliki minat di bidang olahraga mendapat perhatian dan kesempatan untuk berkembang.
“Harapannya ke depan tentu ingin meraih lebih banyak prestasi lagi dan meningkatkan intensitas latihan. Selain itu, semoga ada perhatian lebih dari pemerintah untuk potensi-potensi muda di bidang olahraga ini,” tuturnya.
Usianya baru 17 tahun. Di satu sisi, pendidikan di SMKN 1 Cikedung masih harus diselesaikan. Di sisi lain, dunia olahraga mulai membuka jalan baru yang ingin terus dijalaninya.
Indra sudah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memulai. Tetapi untuk membawa prestasi itu lebih jauh, latihan seorang diri tidak selamanya cukup.
Di balik satu medali yang dibawa pulang dari Bandung, ada kebutuhan akan pelatih, fasilitas, nutrisi, biaya dan kesempatan bertanding.
Dan mungkin, di luar sana masih ada Indra-Indra lain yang sedang berlatih diam-diam, menunggu kesempatan pertama untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara Langsung










Komentar