KRICAK | Denting langkah kaki berpadu tawa dan semangat kebersamaan menyelimuti Jalan Jatimulyo, tepat di depan Kantor Kelurahan Kricak, Minggu pagi (6/7/2025). Ratusan warga dan pengunjung tumpah ruah mengikuti kegiatan lari dan jalan santai bertajuk “Pesona Kricak 2025”, sebuah ikhtiar kolektif untuk menghidupkan kembali denyut pariwisata kampung.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 06.30 WIB itu digagas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bersama komunitas Kampung Wisata Kelurahan Kricak. Tak sekadar olahraga, acara ini menjadi simbol kebangkitan kampung yang sarat seni, budaya, dan kreativitas warga.
Sejak pagi, suasana tampak semarak. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur dalam satu irama, menyusuri jalur kampung dengan wajah ceria. Aparat keamanan turut hadir memastikan kelancaran kegiatan. Bhabinkamtibmas Kelurahan Kricak, Bripka Demas Arya Sena, tampak aktif melakukan pengamanan agar acara berjalan aman, tertib, dan kondusif.
Kampung Wisata Kricak yang berada di wilayah Kemantren Tegalrejo, Yogyakarta, sejatinya dikenal sebagai ruang hidup seni dan budaya. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, geliat pariwisatanya sempat meredup. Kondisi inilah yang mendorong warga bersama pemerintah kelurahan dan komunitas lokal untuk bergerak, mencari cara membangkitkan kembali pesona kampung.
“Acara ini bukan sekadar hiburan. Tujuannya untuk membangkitkan kembali kesadaran warga terhadap potensi wisata kampung mereka,” ujar Bripka Demas Arya Sena.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menarik minat wisatawan, sekaligus menjadi ruang kreatif dan positif bagi generasi muda.
Menariknya, lari dan jalan santai ini dirancang sebagai pengalaman eksplorasi kampung. Peserta diajak menikmati sudut-sudut Kricak yang sarat cerita, menjadikan olahraga pagi terasa lebih hangat dan bermakna. Konsep ini membuat acara ramah bagi seluruh kalangan, dari keluarga hingga komunitas pencinta wisata kampung.
Lebih dari sekadar event, “Pesona Kricak 2025” menjadi bukti nyata kuatnya sinergi antara warga, pemerintah kelurahan, komunitas budaya, dan aparat keamanan. Sebuah kolaborasi yang menunjukkan bahwa pariwisata berbasis masyarakat dapat tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan—berawal dari langkah kecil, namun penuh harapan. (*)










Komentar