BANDUNG | Selama ini airbag dikenal sebagai penyelamat nyawa saat kecelakaan. Kantung udara yang mengembang dalam hitungan milidetik itu dirancang untuk melindungi pengemudi dan penumpang dari benturan keras. Namun, siapa sangka, airbag pada sisi penumpang depan justru bisa berubah menjadi bahaya jika tidak digunakan pada kondisi yang tepat.
Faktanya, airbag penumpang depan pada mobil tertentu dapat dan memang perlu dimatikan. Bukan tanpa alasan. Ada sejumlah kondisi khusus di mana pengembangan airbag justru berisiko menimbulkan cedera serius.
Salah satunya adalah ketika kursi penumpang depan diisi anak berusia di bawah 12 tahun. Risiko serupa juga mengintai balita yang duduk menggunakan child seat, serta perempuan yang sedang hamil. Saat terjadi benturan dan airbag mengembang dengan tekanan tinggi, tubuh penumpang dengan kondisi tersebut bisa menerima dampak langsung yang berbahaya.
Karena itu, pabrikan mobil memberikan opsi mematikan airbag penumpang depan sebagai langkah perlindungan tambahan. Menariknya, cara menonaktifkannya pun cukup sederhana dan tidak memerlukan peralatan khusus.
Pemilik mobil hanya perlu membuka pintu penumpang depan. Di sisi dashboard akan terlihat lubang soket anak kunci lengkap dengan logo airbag. Dengan memutar anak kunci ke posisi “OFF”, sistem airbag penumpang depan otomatis dinonaktifkan.
Langkah kecil ini sering luput dari perhatian pemilik kendaraan, padahal dampaknya sangat besar bagi keselamatan. Kesalahan dalam penggunaan airbag justru bisa menghilangkan fungsi utamanya sebagai pelindung.
Keselamatan berkendara bukan hanya soal teknologi canggih, tetapi juga pemahaman cara menggunakan fitur keselamatan secara tepat. Mengetahui kapan airbag perlu aktif dan kapan harus dimatikan menjadi bagian penting dari tanggung jawab pengemudi.
Karena di balik teknologi keselamatan modern, ada satu hal yang tak tergantikan: kesadaran dan pengetahuan penggunanya. (*)










Komentar