Min.co.id| Magelang — Mendapatkan ijazah dan meraih indeks prestasi tinggi belum tentu cukup untuk membuat lulusan perguruan tinggi siap menghadapi dunia kerja.
Perusahaan juga membutuhkan orang yang memiliki keterampilan, pengalaman, mampu bekerja dalam tim, dan bisa menerapkan ilmu di lapangan.
Tantangan itulah yang disampaikan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor kepada mahasiswa Universitas Tidar (Untidar), Magelang, Jawa Tengah, saat membuka Untidar Job Fair 4.0 & Disnaker Goes to Campus 2026, Jumat (9/10/2026).
Di tengah persaingan mendapatkan pekerjaan, Afriansyah mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti pada pencapaian akademik. Mereka perlu membangun kompetensi dan mencari pengalaman nyata sejak masih duduk di bangku kuliah.
“Kepada mahasiswa Untidar, saya berpesan jangan hanya mengejar IPK dan ijazah, tetapi kejarlah kompetensi dan pengalaman. Jangan pula sekadar mencari pekerjaan, tetapi bangunlah kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja,” kata Afriansyah.
Pesan tersebut menempatkan kesiapan kerja sebagai persoalan yang perlu dibangun sebelum mahasiswa menyelesaikan pendidikan, bukan baru dipikirkan setelah ijazah berada di tangan.
Salah satu jalan yang didorong pemerintah ialah memanfaatkan kesempatan magang. Melalui kegiatan itu, mahasiswa dapat menguji pengetahuan yang diperoleh di kampus sekaligus mengenal tuntutan kerja secara langsung.
Afriansyah menilai magang bukan jalan buntu, melainkan kesempatan untuk membuka jalan menuju dunia kerja. Pengalaman tersebut juga dapat membantu mahasiswa membangun disiplin dan kemampuan bekerja sama.
“Di kampus saudara belajar teori, namun di tempat magang saudara belajar menerapkannya menjadi hasil nyata, sekaligus melatih disiplin dan kerja sama tim,” ujarnya.
Bagi mahasiswa, tantangannya bukan hanya memperoleh kesempatan magang, tetapi juga memastikan pengalaman tersebut benar-benar memberikan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan.
Dalam kegiatan tersebut, Afriansyah juga menyoroti pentingnya hubungan antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Menurut dia, pemerintah mengembangkan pendekatan Connect to Grow, yang menghubungkan pendidikan, pelatihan, sertifikasi, hingga pasar kerja secara terintegrasi.
Pendekatan ini dikembangkan dari konsep link and match, yakni upaya menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Afriansyah turut mendorong kolaborasi melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam menyiapkan talenta Indonesia.
Keterlibatan berbagai pihak menjadi penting agar mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga akses terhadap pelatihan, sertifikasi, pengalaman kerja, dan informasi peluang karier.
Pada akhirnya, kesiapan menghadapi dunia kerja tidak cukup diukur dari nilai di transkrip atau gelar yang disandang. Mahasiswa juga membutuhkan keterampilan yang dapat dibuktikan dan pengalaman yang bisa diterapkan.
Pesan Wamenaker itu menjadi pengingat bahwa masa kuliah bukan semata-mata waktu untuk mengejar kelulusan. Masa tersebut juga merupakan kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadapi persaingan kerja atau merintis usaha sendiri.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan, diolah redaksi










Komentar