177 Ribu Ton Gabah Diserap Bulog, Tapi Publik Jangan Cuma Dikasih Angka

Min.co.id | Indramayu — Angka 177 ribu ton gabah memang besar. Tetapi bagi publik, persoalannya bukan hanya berapa banyak gabah yang diserap Bulog. Yang lebih penting, apakah serapan itu memberi kepastian bagi petani dan apakah kualitas beras tetap terjaga hingga sampai ke masyarakat.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Prihasto Setyanto menyebut realisasi pengadaan setara beras di Indramayu telah mencapai sekitar 177 ribu ton, melampaui target pemerintah sekitar 174 ribu ton.

Hal itu disampaikan Prihasto setelah meninjau penyerapan gabah, pergudangan dan mitra penggilingan di Indramayu, Rabu (30/9/2026).

“Target untuk Indramayu sudah lebih dari 100 persen,” ujar Prihasto.

Capaian tersebut belum membuat Bulog berhenti menyerap. Saat meninjau wilayah Gabus dan sekitarnya, Prihasto melihat lahan pertanian masih memiliki dukungan air yang menurutnya cukup untuk kembali ditanami pada Oktober-November.

“Kita katanya kondisi El Nino, tapi air masih banyak sekali tadi yang mengalir,” katanya.

Potensi tersebut penting bagi petani sekaligus bagi Bulog yang masih membutuhkan pasokan gabah dalam menjaga cadangan pangan pemerintah.

Prihasto menyebut produktivitas padi Indramayu berdasarkan laporan Dinas Pertanian berada di kisaran 6,8 ton per hektare, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang disebut sekitar 5,2–5,3 ton.

Bukan Cuma Mengejar Jumlah

Di balik besarnya serapan, Bulog juga menghadapi persoalan kualitas.

Prihasto mengaku menemukan kasus beras HGL yang baru berusia satu hingga dua bulan di gudang, tetapi tingkat beras patah (broken) mencapai lebih dari 25 persen, bahkan dalam kasus tertentu lebih dari 40 persen.

Ia menegaskan temuan tersebut bersifat kasuistis dan tidak mewakili seluruh mitra Bulog.

Namun, kondisi itu menjadi alasan untuk memperketat pengawasan. Salah satu faktor yang ditemukan dalam pengecekan di unit penggilingan adalah penyaring mesin yang tidak dibersihkan secara rutin.

“Jaga mutu, jaga kualitas. Kita tidak hanya berbicara kuantitas saja,” tegas Prihasto.

Secara nasional, Bulog saat ini menguasai cadangan beras pemerintah sekitar 4,4 juta ton. Sebagian stok tersebut disalurkan melalui bantuan pangan dan program SPHP.

Prihasto juga mengingatkan bahwa pengadaan pangan dalam jumlah besar harus disertai pengawasan dan akuntabilitas. Prosesnya, kata dia, tidak hanya diaudit internal, tetapi juga akan diaudit BPK.

Bagi masyarakat, 177 ribu ton bukan sekadar angka di laporan.

Di baliknya ada hasil panen petani, proses penggilingan, gudang penyimpanan, hingga beras yang akhirnya diterima masyarakat.

Karena itu, ukuran keberhasilan Bulog bukan hanya seberapa banyak gabah masuk gudang, tetapi juga seberapa baik kualitasnya dijaga dan seberapa nyata manfaatnya dirasakan publik.

Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan Wawancara Langsung dengan Direktur Pengadaan Perum Bulog, Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc.,

Komentar

News Feed