Min.co.id | Indramayu —Malam bukan sekadar waktu ketika aktivitas warga berhenti. Justru pada saat sebagian masyarakat mulai beristirahat, kewaspadaan terhadap gangguan keamanan harus tetap menyala.
Balap liar, pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan hingga pencurian kendaraan bermotor menjadi sejumlah potensi gangguan yang diingatkan dalam apel malam di wilayah Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu, Sabtu malam (26/9/2026).
Bukan hanya kejahatan jalanan. Peredaran obat-obatan keras tertentu tanpa resep dokter maupun izin resmi penjualan juga menjadi perhatian kepolisian.
Apel yang digelar di halaman Mapolsek Bongas itu dipimpin Kapolsek Bongas Iptu Fahrudin, S.Pd.I., CHRA., dan dihadiri para lurah se-Kecamatan Bongas.
Bagi warga, pesan dari apel tersebut sederhana tetapi penting: situasi yang masih aman bukan alasan untuk menurunkan kewaspadaan.
Fahrudin mengatakan antisipasi terhadap kejahatan jalanan perlu dilakukan sejak dini.
“Yang pertama, kita antisipasi kejahatan jalanan. Kejahatan jalanan di antaranya adalah balap liar, terus curas, curat, curanmor,” ujar Fahrudin.
Menurut dia, perhatian juga diberikan terhadap peredaran obat-obatan keras tertentu yang tidak sesuai ketentuan.
“Terus kemudian antisipasi juga masalah peredaran obat-obatan keras tertentu, sesuai atensi Pimpinan,” katanya.
Jangan Menunggu Masalah Terjadi
Keamanan lingkungan sering kali baru terasa penting ketika gangguan sudah terjadi. Padahal, pencegahan justru menjadi pekerjaan yang harus dilakukan sebelum masyarakat menjadi korban.
Karena itu, Fahrudin menekankan bahwa menjaga kondusivitas tidak hanya berkaitan dengan tindakan kepolisian setelah terjadi pelanggaran. Koordinasi dan komunikasi antarunsur menjadi bagian dari langkah pencegahan.
“Yang paling tidak kalah pentingnya adalah menjaga kondusivitas wilayah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujarnya.
Kehadiran unsur pemerintahan dalam apel malam tersebut menjadi bagian dari koordinasi lintas sektor. Pemerintah di tingkat kecamatan dan desa diharapkan dapat ikut membaca persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Insiden di Sindang Jadi Perhatian
Persoalan keamanan di wilayah lain juga menjadi bahan perhatian ketika Fahrudin ditanya mengenai langkah antisipasi pascainsiden penganiayaan yang melibatkan oknum penjaga Warung Madura (Warmad) terhadap warga Rambatan Wetan, Kecamatan Sindang.
Fahrudin mengatakan pihaknya tidak ingin mengambil langkah secara sendiri-sendiri. Koordinasi dengan Forkopimcam Bongas akan diagendakan terlebih dahulu.
“Nanti kita akan agendakan dulu. Kita juga akan koordinasi dengan Forkopimcam dulu, biar kita tidak sendiri karena kita di sini kan ada Forkopimcam,” jelasnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa menjaga keamanan bukan hanya persoalan patroli. Ketika muncul isu yang berpotensi memengaruhi hubungan sosial masyarakat, komunikasi antarinstansi menjadi penting agar persoalan tidak berkembang menjadi kesalahpahaman baru.
Bongas Masih Kondusif
Di tengah perhatian terhadap sejumlah potensi gangguan, kondisi Kecamatan Bongas disebut masih kondusif.
Fahrudin mengatakan masyarakat Bongas memiliki kesadaran untuk menjaga hubungan sosial. Ia juga menyebut hubungan antara warga lokal dengan pengelola warung dan pedagang di wilayah tersebut sejauh ini tidak bermasalah.
“Alhamdulillah untuk Kecamatan Bongas tidak terdampak dan alhamdulillah wilayah Bongas masyarakatnya menyadari semua. Alhamdulillah antara penduduk lokal dengan mereka-mereka pengelola warung pedagang tidak ada masalah,” ungkapnya.
Keterangan tersebut penting dicatat. Sebab, kewaspadaan terhadap potensi gangguan keamanan tidak berarti bahwa seluruh wilayah sedang bermasalah.
Justru sebaliknya, kondisi yang kondusif perlu dipertahankan agar tidak rusak oleh tindakan segelintir orang maupun informasi yang belum terverifikasi.
Satu Unggahan Bisa Memanaskan Suasana
Di era media sosial, informasi bergerak jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Karena itu, masyarakat juga diminta tidak mudah percaya terhadap kabar yang belum jelas sumber dan kebenarannya.
Fahrudin mengingatkan warga untuk mewaspadai hoaks, ujaran kebencian yang menyasar suku, agama, ras dan golongan, serta ajakan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pesannya jelas: jangan sampai keamanan yang sudah terjaga justru terganggu karena masyarakat terpancing informasi yang belum tentu benar.
“Imbauannya, mari kita sama-sama jaga dan cintai Indramayu khususnya, wabil khusus Kecamatan Bongas,” katanya.
Ia mengajak masyarakat mempertahankan Bongas sebagai wilayah yang sesuai dengan slogan “Bongas Idaman”.
“Mari kita jaga Bongas ini sebagai kecamatan yang idaman, sesuai dengan slogan daripada Camat Bongas, Kecamatan Bongas adalah ‘Bongas Idaman’,” pungkasnya.
Keamanan Bukan Hanya Urusan Polisi
Apel malam itu pada akhirnya membawa satu pesan yang lebih besar dari sekadar agenda kepolisian.
Keamanan lingkungan bukan hanya soal ada atau tidaknya patroli. Polisi membutuhkan informasi dari masyarakat. Pemerintah membutuhkan komunikasi dengan warga. Dan masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan sebelum masalah berkembang.
Bongas memang disebut masih kondusif. Namun kondusif bukan berarti boleh lengah.
Sebab, keamanan yang terjaga hari ini tetap membutuhkan kepedulian untuk mempertahankannya esok hari.
Bongas Idaman bukan sekadar slogan. Tantangannya adalah bagaimana keamanan, ketenangan, dan hubungan sosial masyarakat tetap terjaga ketika berbagai informasi dan persoalan datang silih berganti.










Komentar